Genosida di Jalur Gaza telah berlangsung lebih dari satu setengah tahun saat ini. Berbagai cara telah dilakukan oleh Israel untuk menambah penderitaan warga Gaza; penangkapan, pembatasan bantuan makanan, penghancuran fasilitas kesehatan, bahkan pembantaian yang tidak manusiawi. Semua hal tersebut dilakukan oleh Israel demi mencapai tujuan mereka, yakni merampas tanah Palestina di Jalur Gaza dan mengusir penduduknya secara permanen.
Berbulan-bulan hidup di bawah tekanan genosida, namun warga Gaza tetap teguh di tanah mereka, menolak meninggalkan tanah air mereka dan terus berusaha mempertahankannya. Maka Israel merampas tanah Gaza menggunakan jalan lain: membangun “koridor”. Mereka mengatakan bahwa “koridor” tersebut bisa menjadi “koridor strategis” atau “zona penyangga”, dengan maksud untuk mengatur “operasi militer” Israel dan “mengendalikan” warga Palestina. Akan Tetapi bagi warga Palestina, koridor ini adalah mimpi buruk yang nyata.
Koridor-koridor yang dibangun oleh Israel memisahkan wilayah-wilayah di Gaza, membuat penduduk di utara dan selatan tak dapat bertemu jika Israel menutup koridor. Ini memberi Israel kendali penuh untuk membuka dan menutup koridor sesuka hati mereka. Yang lebih mengerikan, koridor ini dibangun dengan mengorbankan nyawa banyak manusia. Gedung-gedung di lokasi pembangunan koridor seluruhnya dibom, tak peduli apakah di dalamnya ada warga yang tinggal di sana atau tidak. “Koridor” yang dijanjikan Israel tidaklah benar-benar ada, melainkan hanya menjadi pembenaran mereka untuk meneror warga Palestina dengan cara yang lebih mengerikan. Berikut ini adalah beberapa koridor yang telah Israel dirikan selama genosida di Jalur Gaza:
Koridor Netzarim

Israel membangun koridor Netzarim sejak awal genosida dimulai di Gaza pada Oktober 2023. Koridor Netzarim adalah zona militer tertutup yang terletak di antara Kota Gaza dan Gaza tengah, membentang dari batas wilayah jajahan Israel dengan Gaza ke Laut Mediterania dan lebarnya sekitar 6 km (3,7 mil). Koridor itu dinamai Netzarim, yang diambil dari nama permukiman terakhir Israel yang ditutup di Gaza pada tahun 2005 di bawah rencana Perdana Menteri Israel Ariel Sharon untuk melakukan penarikan pasukan Israel dari Gaza pada masa itu.
Meski Israel menyebutnya sebagai “koridor”, warga Gaza menganggapnya sebagai bagian dari perampasan tanah besar-besaran yang dilakukan oleh Israel melalui pembantaian banyak warga Palestina. Demi membangun koridor Netzarim, Israel menghancurkan rumah-rumah penduduk Palestina yang terletak di kamp-kamp pengungsi Nuseirat dan Bureij, juga di lingkungan al-Mughraqa, az-Zahra, Zeitoun, Juhor ad-Dik, dan masih banyak lagi.
Dari waktu ke waktu, di tengah genosida yang masih berlangsung, tentara Israel terus bersikeras untuk memperluas “koridor” ini ke daerah utara kamp Nuseirat, seperti az-Zahra dan al-Mughraqa, meski awalnya Koridor Netzarim tidak mencapai daerah tersebut. Sebagai bagian dari upaya ini, pasukan Israel secara teratur menyerang daerah utara Nuseirat. Saat ini, Al Jazeera menyebutkan bahwa “Koridor Netzarim” menjadi lebih luas setelah Israel melahap lebih banyak rumah Palestina. Tentara Israel telah menghancurkan rumah-rumah Palestina di perbatasan utara Nuseirat untuk mengamankan rute bagi pasukannya agar bisa masuk dan keluar dari kamp kapan pun mereka mau.
Dilaporkan dari Doha, Qatar, Stefanie Dekker dari Al Jazeera mengatakan koridor itu adalah langkah militer strategis Israel – memberikan akses, kontrol, dan pengawasan. Sementara itu, “orang-orang Palestina menganggapnya sebagai koridor serangan dan kematian. Tentara Israel dilaporkan telah menembak dan membunuh tanpa pandang bulu siapa pun yang berani mendekatinya,” katanya. “Media Israel telah mengutip tentara yang mengatakan mereka merasa bahwa penarikan pasukan dari koridor adalah kegagalan sebab itu berarti mereka meninggalkan koridor yang telah menjadi simbol kekuatan, kontrol, dan kemenangan mereka,” tambahnya.
Mouin Rabbani, seorang rekan non-penduduk di Dewan Timur Tengah untuk Urusan Global, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Koridor Netzarim harus dihilangkan. “Israel tidak hanya menduduki apa yang mereka sebut Koridor Netzarim, tetapi menempatkan banyak struktur di sana yang menunjukkan tekad mereka untuk mempertahankan kehadiran permanen di sana, termasuk untuk membagi-bagi Jalur Gaza, serta melumpuhkan transportasi dan pergerakan di dalamnya,” katanya.
Koridor Philadelphia

Koridor Philadelphia adalah jalur kosong dengan lebar 100 meter, yang membentang sepanjang 14 kilometer (8,6 mil) di perbatasan Gaza dengan Mesir di Rafah selatan. Koridor ini juga mencakup penyeberangan Rafah, yang merupakan satu-satunya jalan keluar dari Gaza ke dunia luar yang tidak dikendalikan oleh Israel sampai tentara Israel merebut seluruh koridor pada bulan Mei tahun lalu.
Pada konferensi pers di bulan September, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuduh Hamas telah menggunakan terowongan di bawah perbatasan untuk mengimpor senjata dan berusaha membangun kembali mesin militer yang diluncurkannya ke Israel dalam serangan 7 Oktober 2023.
Namun, media Israel melaporkan pada bulan yang sama bahwa terowongan itu sudah tidak digunakan selama bertahun-tahun. Kanal berita Israel, Haaretz, mengutip para pejabat militer, melaporkan bahwa pasukan Israel telah menemukan sembilan terowongan yang berada di bawah koridor Philadelphia, namun semuanya telah disegel oleh pihak Mesir sejak tahun 2013.
Koridor Morag

Di antara Koridor Netzarim dan Koridor Philadelphia, Koridor Morag adalah yang paling baru dibangun oleh Israel. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengumumkan pada 2 April 2025 bahwa Israel mengklaim sebuah daerah yang disebut sebagai “sumbu Morag” di Jalur Gaza selatan. Pengumuman itu muncul setelah menteri pertahanan Netanyahu mengatakan Israel akan merebut wilayah-wilayah besar Gaza dan menambahkannya ke “zona keamanan”.
Koridor Morag terdiri dari lahan pertanian yang terletak antara Khan Younis dan Rafah, membentang dari timur ke barat melintasi Jalur Gaza. Daerah itu awalnya belum diidentifikasi sebagai “sumbu”, yang juga dikenal sebagai “koridor”, sampai pengumuman Netanyahu tersebut dikeluarkan. Koridor ini mencakup bagian yang sebelumnya ditetapkan militer Israel sebagai “zona kemanusiaan”, tempat yang mereka katakan kepada orang-orang Palestina yang terlantar untuk mencari perlindungan.
Nama “Morag” mengacu pada permukiman ilegal Israel yang didirikan di wilayah tersebut antara tahun 1972 dan 2005. Netanyahu menggambarkan bahwa koridor baru itu akan berjalan di antara dua kota di selatan. Dia mengatakan bahwa Koridor Morag akan menjadi Koridor Philadelphia kedua yang mengacu pada sisi perbatasan Gaza dengan Mesir lebih jauh ke selatan, yang telah berada di bawah kendali Israel sejak Mei tahun lalu.
Menurut Saluran Israel 12, pemisahan Khan Younis dan Rafah adalah bagian dari rencana militer dalam mengimplementasikan proposal Presiden AS Donald Trump untuk menghapus warga Palestina dari Jalur Gaza. Netanyahu menjelaskan bahwa tujuan mengendalikan daerah itu adalah untuk “membagi” Jalur Gaza dengan memotong Rafah dari Khan Younis dan “meningkatkan tekanan selangkah demi selangkah sehingga mereka (Hamas) akan menyerahkan sandera kami”.
Mimpi Buruk yang Belum Juga Berakhir

Dengan dibangunnya Koridor Morag bulan lalu, artinya ada tiga koridor Israel yang membelah Jalur Gaza dan menjadi mimpi buruk yang nyata bagi penduduknya. Setiap hari mereka tidak pernah absen mendengar bisingnya ledakan bom, quadcopter, juga erangan para korban dan jerit tangis keluarga yang ditinggalkan. Tak ada yang disebut “zona kemanusiaan” yang dijanjikan. Semua yang disebutkan oleh Israel hanyalah dongeng yang mereka utarakan terus-menerus kepada warga Palestina untuk membuat halusinasi akan rasa aman seperti benar-benar akan menjadi nyata.
Realitanya, koridor-koridor dipenuhi oleh pasukan Israel yang bersenjata lengkap, siap menembak makhluk bernyawa apa pun yang melintas dan terlihat oleh mereka. Tak ada pandang bulu, tidak ada belas kasihan, baik pada perempuan maupun anak-anak dan bayi, seluruhnya mereka bantai hingga tak bisa dikenali. Koridor yang Israel klaim dapat “mengendalikan” serangan terhadap penduduk, justru menjadi arena pembantaian yang memakan banyak korban. Jika dunia tetap membiarkan Israel melanjutkan genosida di Gaza, itu sama saja dengan memberikan izin bagi Israel untuk membangun lebih banyak “koridor” mematikan lainnya di Jalur Gaza.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI dan saat ini sedang menempuh pendidikan magister di program studi linguistik, FIB UI.
Sumber :
https://www.dw.com/en/israel-says-it-has-taken-over-key-southern-gaza-corridor/a-72227626
https://m.jpost.com/israel-news/article-850955
https://www.middleeasteye.net/news/gaza-morag-axis-what-we-know








