Pengungsi Palestina di Jalur Gaza menunjukkan tanda-tanda penyakit yang disebabkan oleh kepadatan penduduk dan sanitasi buruk di tengah serangan udara Israel dan blokade di wilayah tersebut, Anadolu Agency melaporkan. “Kami tidur di lantai rumah sakit. Tidak ada bantuan atau obat-obatan,” kata Nadine Abdul Latif, 12 tahun, kepada Anadolu. “Orang-orang tidur di tanah berdampingan dengan para syuhada yang jenazahnya tergeletak di tanah,” dia menambahkan.
“Bantuan yang dikirimkan kepada kami Tidak cukup untuk meringankan penderitaan kami,” kata Abdul Latif. “Berbaglai macam penyakit, seperti flu dan cacar, telah menyebar.” Debu tebal yang ditimbulkan oleh ribuan serangan udara Israel selama beberapa minggu terakhir juga telah menyebabkan penyakit pernafasan di kalangan warga, menurut gadis muda tersebut.
“Sepupu saya yang berumur 2 bulan tidak bisa bernapas karena debu. Apa yang telah dilakukan bayi ini hingga pantas menerima ini?” ia bertanya retoris. “Tidak ada air bersih, tidak ada makanan layak, tidak ada apa-apa, hanya sisa makanan basi.” “Kami lelah. Apa kesalahan anak-anak? Kami tidak melakukan apa pun sehingga pantas menerima ini.”
Menurut kantor media pemerintah di Gaza, sekitar 1,4 juta warga Palestina telah mengungsi akibat serangan udara Israel terhadap Jalur Gaza. “Keluarga Palestina yang mengungsi tidak memiliki kebutuhan hidup paling dasar di tengah perang Israel yang sedang berlangsung di Gaza,” kata Salama Maarouf, juru bicara kantor media.
Kami Menderita
Pengungsi Gaza mengatakan mereka menderita keluhan di perut, infeksi paru-paru dan ruam di tengah kepadatan penduduk, karena Israel memerintahkan penduduk di wilayah utara untuk pindah ke wilayah selatan. “Semua anak menderita demam. Mereka takut dan kehilangan tempat tinggal,” kata Ali Salem Aliwa, 64 tahun, kepada Anadolu.
“Tidak ada selimut, tidak ada tempat tidur, tidak ada air, tidak ada apa-apa, dan istri saya telah lumpuh,” katanya. “Tidak ada obat-obatan. Kami menjadi tunawisma setelah rumah kami dibom.” Pria asal Gaza yang mengungsi itu mengatakan, dia membawa dua botol air dari masjid terdekat untuk digunakan keluarganya setiap hari. “Selama 20 hari ini, saya dan anak-anak belum mandi, dan kami tidur di trotoar.”
Bagi Ibrahim Al-Nahal, 28, situasinya sangat buruk bagi keluarga pengungsinya. “Anak saya sakit dan hidup dengan obat-obatan. Setiap kali suhu tubuhnya naik, kami memberinya obat penurun demam,” kata Al-Nahal. “Situasinya memprihatinkan.”
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini
#Palestine_is_my_compass
#Palestina_arah_perjuanganku
#Together_in_solidarity
#فلسطين_بوصلتي
#معا_ننصرها







