Selama dua minggu, ibu Palestina Basma Aweidat berduka setelah menerima kabar bahwa putranya telah ditembak mati oleh pasukan Israel di Tepi Barat. Kemudian dia mendapat telepon, memberitahunya bahwa meskipun putranya, Thayer (28) memang ditembak, dia masih hidup dan dirawat di sebuah rumah sakit di Israel. “Saya tidak percaya apa yang mereka katakan kepada saya,” katanya.
Ketika kekerasan melonjak di Tepi Barat, yang menyebabkan lebih dari 200 orang Palestina telah dibunuh oleh pasukan Israel dalam satu tahun terakhir, cerita tentang identitas yang kacau seperti itu pun terjadi. Dalam kasus Thayer Aweidat, tentara Israel melancarkan serangan pada 6 Februari di pintu masuk kamp pengungsi Aqabat Jaber dekat Yerikho, dengan dalih mencari tersangka yang dituduh melakukan serangan terhadap warga Israel.
Tentara mengatakan telah membunuh lima “teroris”, dan seorang pejabat keamanan Israel mengatakan kepada kantor berita Agence France-Presse bahwa militer menahan mayat orang-orang Palestina yang tewas. Otoritas Palestina, yang mengatakan telah diberitahu oleh otoritas Israel, mengumumkan bahwa Thayer Aweidat, anggota sayap bersenjata gerakan Palestina, termasuk di antara korban yang tewas. Fotonya dicetak pada poster yang ditempel di dinding kamp pengungsi, bergabung dengan para “martir” Palestina lainnya, dan pesan belasungkawa pun berdatangan.
Kemudian telepon Basma Aweidat berdering, sepupunya mengabarkan bahwa pria yang terluka di rumah sakit Hadassah Yerusalem itu bukanlah Alaa, anaknya, melainkan Thayer Aweidat, anak Basma. Dia saat itu dalam kondisi serius dan koma.
“Saya tidak percaya dia masih hidup,” kata Basma, yang mengajukan izin Israel untuk mengunjunginya. “Saya melihatnya, kepalanya diperban dan tubuhnya banyak luka,” katanya. “Saya mencoba berbicara dengannya, tetapi dia tidak menjawab.” Kembali ke rumah di Aqabet Jaber, tetangga yang sama yang beberapa hari sebelumnya menyampaikan belasungkawa kembali. “Para wanita di kamp mulai datang untuk memberi selamat kepada saya karena putra saya masih hidup, beberapa hari setelah datang untuk berkabung,” kata Basma Aweidat. Adapun suaminya, Khaled Aweidat, belum mendapat izin untuk menjenguk anaknya.
Pada bulan Oktober, cerita serupa terungkap di kamp pengungsi Jalazone dekat Ramallah, juga di Tepi Barat. Keluarga Basbous berduka atas kematian putra mereka Basel selama dua hari setelah pejabat Palestina memberitahu mereka bahwa dia telah ditembak dan dibunuh oleh tentara Israel di dekat Ramallah saat mengemudi dengan dua orang lainnya, yang juga meninggal.
Keluarga tersebut kemudian menerima telepon dari seorang teman, yang memiliki kerabat yang bekerja di rumah sakit Israel Shaare Tzedek di Al-Quds. “Dia menelepon saya untuk memberitahu saya bahwa Basel masih hidup,” kata ibunya, Ataf Basbous. Rumah sakit mengatakan dalam sebuah pernyataan: “Tampaknya terjadi kebingungan mengenai identitasnya sebelum masuk untuk perawatan.” “Saya tidak sadarkan diri, dan saya terbangun dua hari kemudian di rumah sakit dengan kaki dan tangan terbelenggu,” demikian kata Basel Basbous.
Ataf Basbous berkata, “Orang Israel memperlakukan kami seperti angka. Mereka tidak peduli dengan keluarga. Anak laki-laki saya tertembak, dan dia tetap di rumah sakit selama 18 hari sebelum dibebaskan, tetapi mereka tidak peduli dan tidak melakukan apa-apa.” Basel Basbous masih menerima perawatan untuk cedera kaki dan tangannya di rumah sakit di Ramallah. Awalnya ia disebut sebagai “Heroic Martyr“, seperti semua orang Palestina yang dibunuh oleh pasukan Israel, tetapi setelah kejadian tersebut ia dikenal sebagai “The Living Martyr“.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








