Program investigasi populer ‘What is Hidden is Greater’ di Al Jazeera Arab telah mengungkap keterlibatan raksasa media sosial Facebook terhadap Israel dalam membungkam warga Palestina. Closed Space, sebuah program dalam serial tersebut, tayang pada Jumat dan berpusat di dua akun Facebook, satu dalam bahasa Arab dan yang lainnya dalam bahasa Ibrani. Ini mengungkapkan bagaimana Facebook merespons secara berbeda terhadap setiap akun, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang ketidakberpihakan platform tersebut.
Investigasi tersebut berfokus pada perlakuan berbeda Facebook terhadap konten yang terkait dengan komunitas Palestina dengan konten berbahasa Ibrani. Sebagai hasilnya, ini mengungkap pola Facebook yang menentang Palestina, sehingga memicu kekhawatiran dari berbagai pihak. Aktivis hak asasi manusia dan mantan pejabat Facebook yang berpartisipasi dalam program ini pun telah mengakui penargetan sistematis konten Palestina di platform media sosial.
Deborah Brown, peneliti hak digital di Human Rights Watch (HRW) menekankan bahwa Meta, perusahaan induk Facebook, dan platform terkaitnya, telah gagal memberikan dukungan yang memadai terhadap hak asasi manusia di seluruh dunia. Dia menunjukkan betapa kontrasnya respons Facebook terhadap suatu peristiwa global. Misalnya, selama krisis Ukraina tahun lalu, Facebook mengizinkan warga Ukraina untuk mengutuk kekerasan pasukan Rusia dan mendorong kritik global. Namun, dalam kasus Palestina, tindakan platform tersebut tampaknya tidak sejalan dengan prinsip kebebasan berekspresi dan ketidakberpihakan.
Selain itu, investigasi program ini mencakup pengakuan Eric Barbing, mantan kepala badan keamanan siber Israel. Ia berbicara tentang upaya organisasinya untuk melacak konten Palestina berdasarkan kriteria yang mencakup “menyukai” foto seorang warga Palestina yang dibunuh oleh pasukan Israel. Menurut Barbing, Facebook biasanya memenuhi permintaan tersebut dan badan keamanan Israel menindaklanjuti kasus tersebut, termasuk membawa masalah ke pengadilan jika perlu.
Program ini juga menyelidiki pengaruh kelompok lobi Israel terhadap kepemimpinan Facebook. Menurut Ashraf Zeitoun, mantan direktur kebijakan Timur Tengah dan Afrika Utara di Facebook, Israel memperoleh kendali atas manajemen Meta termasuk membentuk aturan yang berdampak pada algoritma yang mengatur operasi platform tersebut.
“Ratusan karyawan Meta memiliki kewarganegaraan Israel, termasuk manajer dan teknisi di berbagai departemen di kantor pusatnya di Israel dan Amerika Serikat. Beberapa di antaranya memiliki hubungan dengan tentara dan pemerintah Israel,” lapor Al Jazeera Net. “Di antara karyawan yang paling berpengaruh adalah Adam Mosseri, Kepala Instagram, David Fischer, Direktur Keuangan di Facebook, serta mantan direktur Kementerian Kehakiman Israel, Amy Palmor. Ia bertanggung jawab atas unit siber yang memerangi warga Palestina. Anehnya, ia ditunjuk menjadi dewan pengawas Facebook, yang menimbulkan pertanyaan tentang independensi dewan tersebut,” tambahnya.
Hanya dua hari setelah program tersebut tayang, akun pribadi dan terverifikasi pembuat film Al Jazeera, Tamer Almisshal, tiba-tiba dinonaktifkan. Tindakan ini terjadi tanpa pemberitahuan 24 jam seperti biasanya, sehingga memperkuat pengaruh Israel terhadap Facebook. “Facebook menutup dan membuka kembali akun saya,” tulis Almisshal beberapa saat setelah jaringan berita tersebut bertanya kepada Facebook mengapa mereka menghapus akunnya tanpa peringatan atau penjelasan sebelumnya.
Sementara itu, Julie Awano, anggota dewan pengawas Facebook, mengakui ada perbedaan dalam cara menafsirkan dan menerapkan aturan pada konten Palestina dan menambahkan bahwa rekomendasi telah dikirim ke Facebook untuk memperbaikinya.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini
#Palestine_is_my_compass
#Palestina_arah_perjuanganku
#Together_in_solidarity
#فلسطين_بوصلتي
#معا_ننصرها








