Ribuan warga Delhi, seperti Bhagwan Devi (38 tahun), Shivakumar (40 tahun), serta empat anak mereka terpaksa harus meninggalkan gubuk mereka di tepi Sungai Yamuna, yang melewati Delhi, karena permukaan air sering kali naik tanpa peringatan. “Ketinggian air sampai sini,” kata Devi sambil menunjuk dagunya. Keluarga tersebut, seperti ribuan lainnya, berlindung di tepi jalan, berjalan 100 meter (328 kaki) dari gubuk mereka yang sekarang terendam banjir.
Kisah mereka mirip dengan jutaan orang lain di Asia Selatan yang saat ini berada di garis depan perubahan iklim. Menurut Bank Dunia, perubahan iklim dapat memaksa 216 juta orang untuk bermigrasi di negara mereka sendiri pada 2050. Di Asia Selatan saja, 40,5 juta orang diperkirakan akan mengungsi. “Hujan ekstrem di negara bagian Himalaya di India adalah yang terbaru dari serangkaian peristiwa di Asia Selatan yang diperburuk oleh perubahan iklim,” kata Harjeet Singh, kepala strategi politik global di Climate Action Network International.
“Kami melihat banjir yang belum pernah terjadi sebelumnya dan menghancurkan Pakistan awal tahun ini. Kami menghadapi gletser yang mencair di Nepal dan Pakistan, naiknya air laut di India dan Bangladesh, serta angin topan dan suhu yang tidak bersahabat di seluruh wilayah. Perubahan iklim semakin memaksa jutaan orang meninggalkan rumah mereka untuk mencari keselamatan dan sarana baru demi menghidupi keluarga mereka,” tambahnya.
Bagi Devi dan orang lain yang tinggal di Yamuna Khadar, di dataran banjir Sungai Yamuna, “tergeser” oleh banjir telah menjadi gaya hidup. “Pergeseran” terakhir merupakan konsekuensi dari curah hujan ekstrem di negara bagian hulu, yang mengakibatkan pembengkakan debit air sungai, sementara pembukaan banyak bendungan tidak mampu menahan kelebihan air.
Devi dan Shivakumar berasal dari wilayah Budayun di negara bagian Uttar Pradesh, India utara, sekitar lima jam perjalanan darat dari Delhi. Di Budayun, rumah mereka yang berjarak 2 km (1,24 mil) dari Sungai Gangga juga berulang kali digenangi air. Mereka tidak dapat bertani dengan baik karena cuaca ekstrem yang tidak sesuai musim, sehingga mereka memutuskan untuk melarikan diri ke Delhi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi diri mereka sendiri sekitar 15 tahun yang lalu.
Di Delhi, mereka menanam sayuran di sepetak kecil tanah di dataranSungai Yamuna untuk memenuhi kebutuhan. Namun, seperti juga di Budayun, banjir dan cuaca ekstrem lainnya di Delhi juga merusak gubuk dan lahan yang mereka miliki.
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







