Media Israel melaporkan bahwa tentaranya tidak bermaksud mengizinkan kembalinya warga Palestina yang dipaksa keluar dari Gaza utara, yang menurut kelompok hak asasi manusia sedang mengalami kampanye pembersihan etnis.
Seorang perwira senior Israel menyatakan kepada wartawan bahwa hampir 55.000 warga Palestina telah diusir dari Kamp Pengungsi Jabalia sejak serangan dimulai pada 5 Oktober. Sebelum serangan ini, PBB memperkirakan sekitar 400.000 warga Palestina tinggal di Gaza utara dan Kota Gaza.
Militer Israel membantah penerapan “Rencana Jenderal” atau Rencana Eiland di Gaza utara, yang mencakup pengusiran warga Palestina dan pengosongan wilayah tersebut. Namun, Haaretz melaporkan bahwa sebagian besar rencana ini sudah diterapkan, salah satunya dengan cara mengusir penduduk Gaza utara ke wilayah lain.
Channel 12 juga melaporkan pada Selasa (5/11) bahwa serangan terhadap Jabalia bersifat berbeda dan lebih luas sebagai upaya pengusiran penduduk. Militer Israel dikabarkan sedang mempersiapkan untuk merebut wilayah itu, dengan mencegah kembalinya penduduk dalam waktu dekat.
Di daerah seperti Beit Lahia, Haaretz melaporkan bahwa tentara telah membuat wilayah tersebut tidak layak huni, dengan tembakan artileri setiap malam untuk menghalangi warga yang hendak kembali. Pembersihan wilayah ini disebut sebagai langkah strategis bagi militer Israel, yang memberikan kebebasan lebih besar dalam operasi mereka, lapor Channel 12.
‘Dihapus dari Peta’
Kelompok hak asasi manusia Israel dan organisasi bantuan internasional menyerukan kepada para pemimpin dunia untuk menghentikan pemindahan paksa ini. Di Israel, kelompok seperti Gisha, B’Tselem, Physicians for Human Rights Israel, dan Yesh Din menyatakan keprihatinan mereka terhadap penerapan “Rencana Jenderal.” Rencana ini, yang disusun oleh Forum Komandan dan Prajurit Cadangan, melibatkan langkah-langkah seperti pengusiran warga Gaza utara dan pengepungan untuk melaparkan penduduk yang tersisa.
Organisasi bantuan besar memperingatkan bahwa Gaza utara sedang “dihapus dari peta”. Mereka meminta para pemimpin global untuk menghentikan kekejaman yang dilakukan oleh militer Israel. “Serangan pasukan Israel terhadap Gaza telah meningkat ke tingkat kekejaman yang mengerikan,” kata organisasi seperti Oxfam, Medical Aid for Palestinians, ActionAid, Islamic Relief, dan Christian Aid. “Ini bukan evakuasi; ini adalah pemindahan paksa di bawah tembakan.”
Sejauh ini, serangan di Gaza utara telah membunuh sedikitnya 1.300 warga Palestina, menurut pejabat setempat. Secara keseluruhan, agresi Israel di Gaza sejak 7 Oktober telah mengakibatkan hampir 43.400 korban jiwa dan 102.000 cedera, sebagian besar anak-anak dan perempuan, menurut Kementerian Kesehatan Palestina. Ribuan lainnya masih hilang, diduga terbunuh di bawah reruntuhan.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








