Tawanan Palestina dan aktivis terkemuka Sheikh Khader Adnan telah melakukan mogok makan tanpa henti selama 67 hari berturut-turut sebagai protes terhadap penahanannya yang tanpa dakwaan atau pengadilan di penjara pendudukan Israel. Perhimpunan Tawanan Palestina (PPS) mengatakan Adnan telah melakukan mogok makan selama 67 hari berturut-turut.
PPS mencatat bahwa Adnan menderita gejala kesehatan yang sangat serius, termasuk sering muntah darah, lemah dan kurus parah, sering kehilangan kesadaran, sulit berbicara, bergerak, dan tidur, sulit berkonsentrasi dan sakit parah di sekujur tubuhnya. Baru-baru ini, dia bahkan kesulitan untuk minum. Andan telah dipindahkan ke klinik penjara Ramleh karena kondisinya yang kritis.
Adnan, seorang mantan tawanan Palestina, ditangkap oleh pasukan Israel selama serangan militer pada 5 Februari di rumah keluarganya di desa Arraba, barat daya Jenin. Dia melakukan mogok makan sejak saat pertama penangkapannya sebagai protes terhadap penahanan Israel terhadapnya. Adnan telah dipenjara setidaknya 11 kali sejak 2004 dan menjadi juru bicara tawanan Palestina di dalam penjara Israel. Dia terakhir dibebaskan dari penjara Israel pada 2021 setelah 25 hari penahanan.
Adnan, bagi banyak orang Palestina merupakan simbol perlawanan. Ia telah melakukan mogok makan empat kali selama penahanan, termasuk satu kali yang berlangsung selama 67 hari. Pada hari penangkapannya, pasukan Israel mengatakan tujuh orang Palestina ditangkap tetapi tidak menyebutkan nama Adnan dan tidak merinci dakwaan terhadap mereka.
Adnan melancarkan mogok makan pertamanya selama 25 hari pada tahun 2004 untuk memprotes penahanan administratif, sebuah praktik kontroversial yang memungkinkan pendudukan Israel menahan warga Palestina tanpa dakwaan selama enam bulan. Masa penahanan ini dapat diperpanjang tanpa batas waktu dan tawanan Palestina dapat menghabiskan waktu bertahun-tahun di penjara tanpa adanya dakwaan dan tuntutan. Mogok makan 67 hari Adnan pada tahun 2012 mengilhami gelombang tawanan Palestina yang ditahan di bawah penahanan administratif untuk bergabung dengannya.
Dalam keterangan pers pekan lalu oleh Randa Musa, istri Adnan, ia menegaskan bahwa suaminya sedang mengalami penurunan kesehatan yang serius. Dia membutuhkan kursi roda untuk bergerak dan mengalami rasa sakit di sekujur tubuhnya. Musa mengatakan bahwa suaminya telah menerima kunjungan resmi pada Senin (10/4) dan dia berada di bawah tekanan terus-menerus agar menghentikan pemogokannya. Dia juga mengatakan bahwa suaminya belum menerima kunjungan dari Komite Palang Merah Internasional meskipun telah melakukan mogok makan selama lebih dari satu setengah bulan.
Penangkapan Adnan pada Februari terjadi ketika ketegangan meningkat di Tepi Barat menyusul peningkatan kekerasan Israel terhadap warga Palestina sejak awal tahun. 100 warga Palestina, termasuk 17 anak-anak dan seorang perempuan lansia, telah dibunuh oleh pasukan Israel dan pemukim kolonial sejak awal 2023, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








