Tawanan dari Gaza yang berada di Penjara Ofer Israel menghadapi “kondisi yang memprihatinkan dan mengejutkan,” kata dua organisasi Hak Asasi Palestina, seperti dilaporkan oleh Anadolu Agency.
Laporan yang dirilis oleh Komisi Urusan Tahanan dan Masyarakat Tahanan Palestina terbit seiring dengan kunjungan terbaru pengacara yang bertemu dengan enam tawanan asal Gaza.
Laporan tersebut merinci “kondisi tragis dan kisah mengejutkan tentang penyiksaan dan kekerasan” yang diamati selama kunjungan tersebut, termasuk praktik-praktik yang diklaim oleh kelompok tersebut sebagai penyiksaan sistematis.
Menurut organisasi Hak Asasi, administrasi penjara terus menghilangkan hak-hak tawanan dengan cara kekerasan dan menggambarkan penyiksaan sebagai pengalaman inti bagi tawanan Gaza.
Para tawanan melaporkan bahwa mereka dipaksa untuk berteriak “terima kasih, Kapten (kepala penjara)” dalam bahasa Ibrani. Hukuman dijatuhkan jika mereka menolak. Mereka juga mengaku mengalami penolakan perawatan kesehatan dan dipaksa melakukan posisi duduk yang merendahkan.
Kelompok hak asasi tersebut mengatakan bahwa para tawanan menderita kedinginan, terutama pada malam hari, karena kurangnya pakaian dan selimut.
Kelompok tersebut juga mengatakan ada “pola perilaku balas dendam di antara para penjaga dan tentara, yang tampaknya saling bersaing untuk memperlakukan tawanan dengan paling keras”, serta “penghilangan paksa” yang memengaruhi ratusan tawanan dari Gaza.
Israel melancarkan agresi terhadap Gaza sejak 7 Oktober 2023 dan sejak itu pula ribuan tawanan dari wilayah tersebut, termasuk perempuan, anak-anak, lansia, dan petugas medis, dikatakan ditahan di penjara-penjara Israel.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








