Yahudinisasi Al-Al-Naqab, Agenda Terselubung di Balik Proyek “Penghijauan.” Sekitar 500 penduduk Palestina yang melakukan unjuk rasa di pintu masuk Desa Sa’wa, Badui Palestina, di persimpangan jalan raya utama di Rute 31.
Yahudinisasi Al-Al-Naqab, Agenda Terselubung di Balik Proyek “Penghijauan”

Unjuk rasa penduduk Palestina di Al-Al-Naqab
Sumber : qudsnen
Demikian kalimat yang dilantangkan oleh sekitar 500 penduduk Palestina yang melakukan unjuk rasa di pintu masuk Desa Sa’wa, Badui Palestina, di persimpangan jalan raya utama di Rute 31, sebelah timur Beer al-Sabe (Beer Sheva). Para pengunjuk rasa melancarkan aksinya pada Kamis (13/1) sejak pukul 15.00 waktu setempat. Tembakan peluru berlapis karet, gas air mata, granat kejut, dan skunk (air berbau busuk) sama sekali tidak menyurutkan semangat mereka. Satu alasan yang menjadi tujuan penduduk Palestina melakukan demonstrasi: mempertahankan tanah mereka.
Sheikh Osama Okaby, seorang anggota Dewan Tertinggi di Al-Naqab, mengatakan bahwa tanah-tanah penduduk Palestina di Al-Naqab telah diambil oleh Otoritas Israel karena “tidak diakui”. “Bisakah Anda bayangkan bahwa anak saya pergi ke sekolah pada pagi hari dan ketika kembali pada sore harinya ia menemukan rumahnya telah menjadi tumpukan puing? Bagaimana perasaan anak ini menurut kalian? Hari ini saya melihat seorang anak berusia tujuh tahun yang panik dan histeris selama serangan pasukan Israel terhadap kami pada hari ini. Siapa yang bertanggung jawab? Ini adalah ulah penjajah yang tidak menginginkan kami menetap di atas tanah Palestina,” ucap Osama.

Skunk yang ditembakkan ketika unjuk rasa di Al-Naqab
Sumber : https://www.aljazeera.com/news/2022/1/13/israeli-forces-violently-suppress-palestinian-protest-in-Al-Naqab
Sejak Senin (10/1), buldoser yang disediakan oleh Jewish National Fund (JNF) meruntuhkan lahan pertanian Badui Palestina dengan perlindungan yang ketat dari polisi Israel. JNF mengatakan bahwa sekitar 45.000 dunam tahan di Al-Naqab akan digunakan untuk menanam pohon “dalam rangka melestarikan ruang terbuka dan alam dari kontrol ilegal,” sebuah alasan yang mereka utarakan untuk menutup upaya Yahudinisasi yang mereka lakukan.
Para pejabat Israel menyatakan bahwa tanah di Al-Naqab yang mereka “olah” adalah milik negara. “Otoritas Pertanahan Israel ingin menguasai tanah, yang merupakan tugas mereka. Badui adalah penghuni liar, dan salah satu cara untuk menghentikannya adalah dengan menanam pohon. Mereka mensubkontrakkan JNF untuk kemudian melaksanakan pekerjaan itu,” Alon Tal, seorang anggota parlemen Israel yang bekerja di JNF selama lebih dari satu dekade mengawasi kehutanan, mengatakan kepada media Israel.
Al-Naqab adalah sebuah wilayah yang luasnya sekitar 13 juta dunam (1,3 juta hektar), nyaris mencakup setengah dari keseluruhan wilayah Palestina. Ironisnya, sebanyak 300.000 orang Badui Palestina hanya menempati 400.000 dunam (40.000 hektar) saja dari luas wilayah itu. Sedikitnya 40 desa Badui Palestina ditetapkan sebagai “desa yang tidak dikenal” oleh Otoritas Israel. Desa-desa tersebut ditetapkan sebagai desa ilegal sehingga terus menerus menghadapi penghancuran oleh Otoritas Israel.
Yahudinisasi di Al-Naqab bukanlah proyek baru[1]. Sejak 1948, Israel melakukan pembersihan etnis besar-besaran pada peristiwa Nakba, termasuk di wilayah Al-Naqab. Para penduduk tidak diberikan kebutuhan dasar yang layak seperti air, listrik, jalan beraspal, dan sistem pembuangan limbah dengan tujuan untuk memaksa mereka meninggalkan rumah mereka.
Sepanjang tahun 1948 hingga 1966, Israel juga menetapkan desa-desa di Palestina sebagai “zona militer tertutup” agar penduduk Palestina yang telah meninggalkan rumah mereka tidak bisa kembali lagi ke daerah tempat asal mereka. Pada 2019, Otoritas Israel telah mengumumkan rencana untuk memindahkan secara paksa 36.000 penduduk di desa-desa yang tidak dikenal di Al-Naqab ke kota-kota lain, dan antara 2013 hingga 2019, pasukan Israel telah menghancurkan lebih dari 10.000 rumah Badui Palestina di Al-Naqab.
Perlawanan dari penduduk Palestina memicu bentrokan antara penduduk dengan Otoritas Israel. Pada Senin (10/1), sedikitnya tujuh orang, termasuk tiga anak, ditangkap dan seorang jurnalis lokal dipukuli. Pada Selasa (11/01), pasukan Israel menghancurkan dua tenda penduduk di desa Al-Atrash dan Al-Sa’wa, menembakkan granat kejut dan peluru berlapis karet, serta menangkap sekitar 20 orang. Pasukan Israel juga melakukan blokade dengan menutup desa-desa dan melarang penduduk untuk masuk dan keluar desa.
Sejak Senin hingga Jumat, pasukan Israel telah menangkap lebih dari 80 warga Palestina, termasuk empat perempuan yang usianya di bawah 18 tahun, dan anak-anak di bawah umur. Seorang gadis bernama Sawa (12), merupakan salah satu di antara pengunjuk rasa yang ditangkap oleh Otoritas Israel. Di media sosial, beredar foto Sawa tersenyum tanpa rasa takut meskipun ia dikelilingi oleh tentara-tentara Israel. Keberanian Sawa dalam melawan di garis depan membuat ia dijadikan ikon perlawanan penduduk di Al-Naqab.


Sawa, gadis berusia 12 tahun yang menjadi ikon perlawanan di Al-Naqab
Sumber : https://english.alaraby.co.uk/features/nakba-negev-israel-ramps-palestinian-displacement
Pada akhirnya, segala alasan yang dikemukakan oleh Otoritas Israel hanyalah dalih untuk menutupi agenda-agenda Yahudinisasi yang mereka lakukan terhadap satu per satu wilayah di Palestina. Satu-satunya jalan untuk menghadapinya adalah dengan melakukan perlawanan. Penduduk Palestina di Al-Naqab telah meneriakkan perlawanan, maka sudah saatnya kita juga ikut menyuarakan, “Tanah Palestina adalah untuk rakyatnya!”
Salsabila Safitri
Sumber :
https://english.wafa.ps/Pages/Details/127647
https://english.wafa.ps/Pages/Details/127659
https://english.alaraby.co.uk/features/nakba-negev-israel-ramps-palestinian-displacement
https://english.almayadeen.net/In-Pictures/whats-going-on-in-al-Al-Naqab-in-palestine
[1] Selengkapnya di https://adararelief.com/adara-report-edisi-02-desember-2021-tanah-palestina/








