Seorang pejabat tinggi medis Israel menyatakan ketakutan mereka akan “rahim Arab” (23/10) dan menyarankan pemberlakuan denda bagi ibu Palestina yang melahirkan lima anak untuk membatasi tingkat kesuburan Palestina di negara itu. Gideon Sahar, Direktur Departemen Bedah Toraks dan Jantung di Rumah Sakit Soroka di Beersheba, berbicara pada pertemuan partai Rumah Yahudi sayap kanan ketika ia mengarahkan pertanyaan kepada Menteri Dalam Negeri Ayelet Shaked tentang “populasi paling bermasalah”, merujuk kepada warga Palestina-Israel.
“Mengenai masalah pertumbuhan penduduk dan jumlah penduduk yang semakin bermasalah, kita menghadapi semacam paradoks,” jelas Sahar. “Di satu sisi, kami memahami bahwa angka kelahiran sangat menentukan; dan di sisi lain, kami mendorong (angka kelahiran) dengan semua tunjangan anak. Oleh karena itu, saya kira kita harus mempertimbangkan tunjangan anak yang regresif: anak pertama menerima satu, anak kedua menerima satu, mungkin anak ketiga dan anak keempat tidak, dan anak kelima mungkin memicu denda. Kita harus mencari solusi,” tambahnya. Sebagai tanggapan, Shaked mengatakan saran itu “tidak praktis” dan mengatakan solusi terbaik adalah membantu perempuan Palestina “menjalani Westernisasi”.
Komentar Sahar telah menyebabkan kegemparan di antara warga Palestina-Israel, yang merupakan keturunan dari penduduk yang diusir dari rumah mereka ketika Nakba. Pekerja medis Palestina menyebut pernyataan tersebut “rasis” dan menuntut pemecatan terhadap pejabat tinggi tersebut. Asosiasi Dokter Arab Negev mengajukan petisi yang ditandatangani oleh lebih dari 150 dokter yang menyerukan tindakan disipliner terhadap dokter tersebut. “Siapa pun yang melihat rahim Arab sebagai ancaman, tidak memiliki tempat dalam sistem kesehatan, dan tentu saja tidak bisa menjaga hati orang-orang Arab,” bunyi petisi tersebut.
Selama bertahun-tahun, warga Palestina di “Israel” memiliki tingkat kelahiran yang lebih tinggi daripada orang-orang Yahudi. Ini telah lama menjadi perhatian di antara banyak orang Israel yang melihatnya sebagai ancaman superioritas demografis mereka di negara itu. Namun, tingkat kesuburan di kalangan orang Palestina telah turun menjadi 2,9 pada 2022 dari 9,2 pada 1960, sementara angka kelahiran di kalangan perempuan Yahudi adalah 3,0
Awal tahun ini, pemerintah telah mengeluarkan undang-undang untuk memblokir penyatuan warga Palestina dari Tepi Barat dan Jalur Gaza dengan pasangan mereka yang memegang kewarganegaraan Israel. RUU baru itu memperpanjang undang-undang darurat yang disahkan pada 2003 untuk mencegah orang-orang dari wilayah Palestina mendapatkan tempat tinggal atau kewarganegaraan Israel melalui pernikahan dengan warga negara lain. Undang-undang itu dikecam sebagai rasis oleh warga Palestina, yang membentuk sekitar 20 persen warga Israel, di samping lima juta warga Palestina yang hidup di bawah pendudukan Israel.
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







