• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Selasa, Januari 20, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

Tak Izinkan Berobat Keluar, Otoritas Israel ‘Beri Hukuman Mati’ Pasien Gaza

by Adara Relief International
September 15, 2022
in Artikel
Reading Time: 4 mins read
0 0
0
Lima Pasien Gaza Meninggal, Akibat Tak Diizinkan Berobat Israel
10
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Farouq Abu al-Naja telah menunggu selama berbulan-bulan untuk memperoleh izin keluar Gaza demi mendapatkan akses berobat ke fasilitas yang ia butuhkan. Meski demikian, anak berusia 6 tahun itu tidak pernah mendapatkannya. Ia meninggal dunia pada Rabu, 24 Agustus 2022 di wilayah Khan Younis, selatan Gaza akibat penyakit atrofi otak yang ia derita tanpa pernah mendapatkan perawatan yang layak.

“Kami mengajukan dua aplikasi (kepada Otoritas Israel) untuk memindahkan Farouq ke sebuah rumah sakit di Al-Quds (Yerusalem). Namun, selama delapan bulan, kami terus menerima balasan: permintaan dalam peninjauan,” kata sang ibu, Kholoud Abu al-Naja.

Ia menjelaskan bahwa untuk dapat keluar dari Gaza, pasien membutuhkan rujukan dari Kementerian Kesehatan Palestina, kemudian memproses permohonan izin ke Administrasi Koordinasi dan Penghubung Gaza-Israel (CLA) agar dapat keluar melalui penyeberangan Beit Hanoun (Erez) di timur Jalur Gaza. Putranya telah mendapatkan izin yang pertama dan memproses untuk yang kedua, meski demikian izin itu terus mengalami penundaan. Seiring dengan itu, kesehatan putranya terus memburuk dengan cepat.

Kholoud bercerita dengan sedih, “Melihat kondisinya, saya benar-benar tidak berdaya. Awalnya, dia kehilangan kemampuan untuk berjalan, lalu bergerak, serta tidak dapat lagi berbicara dan makan. Dia bagaikan mayat di ranjang rumah sakit.”

Setelah kesehatannya memburuk, Farouq dipindahkan ke Rumah Sakit Eropa di Khan Younis, sementara keluarganya berupaya untuk menyelesaikan prosedur izin yang terus berulang dan berbelit-belit.

“Pertama kali, kami mendaftarkan ibu saya untuk mendampinginya, karena dia adalah seorang wanita tua yang lebih mungkin untuk mendapatkan persetujuan. Namun, kami terkejut menerima pesan teks bahwa permohonannya ditunda satu hari sebelum perjanjian.” terang Kholoud.

Tak hanya sekali mengajukan, keluarga itu melakukan permohonan izin untuk kedua dan ketiga kalinya. Mereka mencantumkan nama ibu dan neneknya sebagai pendamping untuk meningkatkan peluang mendapatkan setidaknya satu izin, tetapi permohonan itu tidak pernah mendapat jawaban.

“Kami menindaklanjuti dengan Kementerian Kesehatan serta organisasi hak asasi manusia yang berkomunikasi dengan otoritas yang berwenang di sana [di Israel], tetapi sia-sia,” kata Kholoud, “dia meninggal di rumah sakit, di depan mataku. Aku tidak tahu apa yang harus mereka tinjau dari izin keluar seorang anak berusia enam tahun yang sekarat.”

Baca Juga

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Hukuman Mati untuk Pasien Gaza

Kehidupan warga Gaza di bawah blokade Israel sangatlah sulit, hingga membawa wilayah itu ke dalam kemiskinan dan pengangguran yang tinggi[1]. Namun, kondisi paling buruk adalah apa yang dialami oleh para pasien di wilayah itu.

Rumah sakit di Gaza telah menghadapi kendala parah yang disebabkan oleh blokade selama 15 tahun. Mereka sangat kesulitan dalam memperoleh alat-alat dan fasilitas yang dibutuhkan untuk perawatan berbagai penyakit. Untuk situasi darurat sekalipun, rumah sakit tidak memiliki cukup persediaan obat-obatan. Pada agresi militer Israel yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut pada Agustus, rumah sakit melaporkan bahwa mereka hanya memiliki persediaan kurang dari satu bulan untuk 40% obat-obatan esensial dan 20% obat sekali pakai.

Sementara itu, proses permohonan izin keluar bagi pasien dengan kondisi medis yang mendesak merupakan sebuah labirin birokrasi tersendiri yang tidak berujung. Israel secara rutin tidak menjawab aplikasi, terkadang menjawab pada menit terakhir, atau bahkan setelah tanggal perjalanan yang diminta sudah berlalu.

Juru bicara Kementerian Kesehatan Gaza, Ashraf al-Qedra, mengatakan bahwa kombinasi antara krisis kesehatan di Gaza dan sulitnya izin keluar untuk mendapatkan perawatan yang dibutuhkan merupakan sebuah “hukuman mati” bagi pasien Gaza. Ia mengatakan bahwa sejak awal 2022, sebanyak empat pasien, termasuk tiga anak-anak, telah meninggal karena penolakan permintaan izin oleh Israel.

“Puluhan orang dengan kondisi kritis yang membutuhkan perawatan medis mendesak di luar Gaza masih menunggu persetujuan untuk meninggalkan Jalur Gaza. Banyak dari mereka telah mengajukan permohonan lebih dari dua atau tiga kali,” ujarnya.

Sejak awal tahun ini, pasien Gaza mengalami proses penundaan izin keluar yang lebih lama. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sebanyak 1.898 pasien dari Gaza telah mendapatkan rujukan untuk layanan perawatan di wilayah Palestina yang diduduki, pada Juli. Namun, Israel terus menunda 36% di antara mereka. Sebanyak 11 pasien dipanggil oleh petugas intelijen Israel untuk mendapatkan interogasi keamanan, sedangkan 371 orang berhasil mendapatkan izin keluar namun tanpa pendampingan keluarga.

Kebijakan ini berlaku umum, termasuk untuk anak-anak. Menurut laporan dari Physicians for Human Rights (PHR) yang berbasis di Tel Aviv, pada 2021, Israel telah menolak sepertiga dari permintaan izin medis bagi anak Gaza. Jumlah ini merupakan peningkatan dua kali lipat dari tahun sebelumnya, yaitu sebanyak 32% penolakan pada 2021, dibandingkan 17% penolakan pada 2020. Dari 2.578 permintaan, sebanyak 812 ditolak atau aplikasi mereka tertunda secara signifikan.

Sementara itu, WHO mencatat  bahwa dalam kurun waktu 2008–2021, sebanyak 839 warga Gaza dilaporkan meninggal dunia saat menunggu izin keluar. Selama 14 tahun tersebut, sekitar 30% izin pasien ditolak atau ditunda. Padahal, 24% adalah pasien kanker dan 31% di antaranya adalah anak-anak.

 

Sumber:

Israel: How delayed exit permits kill Palestinian patients in besieged Gaza, https://www.middleeasteye.net/news/israel-delays-exit-permits-kills-gaza-patients

The Permit Regime: Testimonies, https://gisha.org/en/the-permit-regime-testimonies/

Israel’s medical permit denial for Gaza’s children doubles in past year, warns report https://www.middleeasteye.net/news/israel-gaza-medical-permit-denial-children-doubles-past-year

[1] Menurut Survei Angkatan Kerja triwulanan yang dilakukan oleh Biro Pusat Statistik Palestina, pada kuartal pertama tahun 2022 (Januari-Maret), pengangguran di Gaza mencapai 46,6%, meningkat sekitar dua persen dibandingkan dengan kuartal terakhir tahun 2021.

 

***

Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.

Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar  program bantuan untuk Palestina.

Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Donasi

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.

Tags: ArtikelGazaKesehatanPalestina
ShareTweetSendShare
Previous Post

Kisah Orang-orang Tanpa Negara: Pengungsi Gaza di Yordania

Next Post

Rasisme: Yahudi Larang Perempuan Palestina Bekerja

Adara Relief International

Related Posts

Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)
Artikel

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

by Adara Relief International
Januari 19, 2026
0
24

“Harapan hanya dapat dibunuh oleh kematian jiwa, dan seni adalah jiwaku — ia tidak akan mati.” Kalimat tersebut disampaikan oleh...

Read moreDetails
Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Januari 19, 2026
20
Kubah As-Sakhrah pada Senja hari. Sumber: Islamic Relief

Isra Mikraj dan Sentralitas Masjid Al-Aqsa dalam Akidah Islam

Januari 19, 2026
25
Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)

In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan

Januari 14, 2026
25
Sebuah grafiti dengan gambar sastrawan Palestina, Mahmoud Darwish, dan penggalan puisinya, “Di atas tanah ini ada hidup yang layak diperjuangkan”. (Zaina Zinati/Jordan News)

Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

Januari 12, 2026
115
Banjir merendam tenda-tenda pengungsian di Gaza (Al Jazeera)

Banjir dan Badai di Gaza: Vonis Mati Tanpa Peringatan

Januari 7, 2026
59
Next Post
Rasisme: Yahudi Larang Perempuan Palestina Bekerja

Rasisme: Yahudi Larang Perempuan Palestina Bekerja

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630