Farouq Abu al-Naja telah menunggu selama berbulan-bulan untuk memperoleh izin keluar Gaza demi mendapatkan akses berobat ke fasilitas yang ia butuhkan. Meski demikian, anak berusia 6 tahun itu tidak pernah mendapatkannya. Ia meninggal dunia pada Rabu, 24 Agustus 2022 di wilayah Khan Younis, selatan Gaza akibat penyakit atrofi otak yang ia derita tanpa pernah mendapatkan perawatan yang layak.
“Kami mengajukan dua aplikasi (kepada Otoritas Israel) untuk memindahkan Farouq ke sebuah rumah sakit di Al-Quds (Yerusalem). Namun, selama delapan bulan, kami terus menerima balasan: permintaan dalam peninjauan,” kata sang ibu, Kholoud Abu al-Naja.
Ia menjelaskan bahwa untuk dapat keluar dari Gaza, pasien membutuhkan rujukan dari Kementerian Kesehatan Palestina, kemudian memproses permohonan izin ke Administrasi Koordinasi dan Penghubung Gaza-Israel (CLA) agar dapat keluar melalui penyeberangan Beit Hanoun (Erez) di timur Jalur Gaza. Putranya telah mendapatkan izin yang pertama dan memproses untuk yang kedua, meski demikian izin itu terus mengalami penundaan. Seiring dengan itu, kesehatan putranya terus memburuk dengan cepat.
Kholoud bercerita dengan sedih, “Melihat kondisinya, saya benar-benar tidak berdaya. Awalnya, dia kehilangan kemampuan untuk berjalan, lalu bergerak, serta tidak dapat lagi berbicara dan makan. Dia bagaikan mayat di ranjang rumah sakit.”
Setelah kesehatannya memburuk, Farouq dipindahkan ke Rumah Sakit Eropa di Khan Younis, sementara keluarganya berupaya untuk menyelesaikan prosedur izin yang terus berulang dan berbelit-belit.
“Pertama kali, kami mendaftarkan ibu saya untuk mendampinginya, karena dia adalah seorang wanita tua yang lebih mungkin untuk mendapatkan persetujuan. Namun, kami terkejut menerima pesan teks bahwa permohonannya ditunda satu hari sebelum perjanjian.” terang Kholoud.
Tak hanya sekali mengajukan, keluarga itu melakukan permohonan izin untuk kedua dan ketiga kalinya. Mereka mencantumkan nama ibu dan neneknya sebagai pendamping untuk meningkatkan peluang mendapatkan setidaknya satu izin, tetapi permohonan itu tidak pernah mendapat jawaban.
“Kami menindaklanjuti dengan Kementerian Kesehatan serta organisasi hak asasi manusia yang berkomunikasi dengan otoritas yang berwenang di sana [di Israel], tetapi sia-sia,” kata Kholoud, “dia meninggal di rumah sakit, di depan mataku. Aku tidak tahu apa yang harus mereka tinjau dari izin keluar seorang anak berusia enam tahun yang sekarat.”
Hukuman Mati untuk Pasien Gaza
Kehidupan warga Gaza di bawah blokade Israel sangatlah sulit, hingga membawa wilayah itu ke dalam kemiskinan dan pengangguran yang tinggi[1]. Namun, kondisi paling buruk adalah apa yang dialami oleh para pasien di wilayah itu.
Rumah sakit di Gaza telah menghadapi kendala parah yang disebabkan oleh blokade selama 15 tahun. Mereka sangat kesulitan dalam memperoleh alat-alat dan fasilitas yang dibutuhkan untuk perawatan berbagai penyakit. Untuk situasi darurat sekalipun, rumah sakit tidak memiliki cukup persediaan obat-obatan. Pada agresi militer Israel yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut pada Agustus, rumah sakit melaporkan bahwa mereka hanya memiliki persediaan kurang dari satu bulan untuk 40% obat-obatan esensial dan 20% obat sekali pakai.
Sementara itu, proses permohonan izin keluar bagi pasien dengan kondisi medis yang mendesak merupakan sebuah labirin birokrasi tersendiri yang tidak berujung. Israel secara rutin tidak menjawab aplikasi, terkadang menjawab pada menit terakhir, atau bahkan setelah tanggal perjalanan yang diminta sudah berlalu.
Juru bicara Kementerian Kesehatan Gaza, Ashraf al-Qedra, mengatakan bahwa kombinasi antara krisis kesehatan di Gaza dan sulitnya izin keluar untuk mendapatkan perawatan yang dibutuhkan merupakan sebuah “hukuman mati” bagi pasien Gaza. Ia mengatakan bahwa sejak awal 2022, sebanyak empat pasien, termasuk tiga anak-anak, telah meninggal karena penolakan permintaan izin oleh Israel.
“Puluhan orang dengan kondisi kritis yang membutuhkan perawatan medis mendesak di luar Gaza masih menunggu persetujuan untuk meninggalkan Jalur Gaza. Banyak dari mereka telah mengajukan permohonan lebih dari dua atau tiga kali,” ujarnya.
Sejak awal tahun ini, pasien Gaza mengalami proses penundaan izin keluar yang lebih lama. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sebanyak 1.898 pasien dari Gaza telah mendapatkan rujukan untuk layanan perawatan di wilayah Palestina yang diduduki, pada Juli. Namun, Israel terus menunda 36% di antara mereka. Sebanyak 11 pasien dipanggil oleh petugas intelijen Israel untuk mendapatkan interogasi keamanan, sedangkan 371 orang berhasil mendapatkan izin keluar namun tanpa pendampingan keluarga.
Kebijakan ini berlaku umum, termasuk untuk anak-anak. Menurut laporan dari Physicians for Human Rights (PHR) yang berbasis di Tel Aviv, pada 2021, Israel telah menolak sepertiga dari permintaan izin medis bagi anak Gaza. Jumlah ini merupakan peningkatan dua kali lipat dari tahun sebelumnya, yaitu sebanyak 32% penolakan pada 2021, dibandingkan 17% penolakan pada 2020. Dari 2.578 permintaan, sebanyak 812 ditolak atau aplikasi mereka tertunda secara signifikan.
Sementara itu, WHO mencatat bahwa dalam kurun waktu 2008–2021, sebanyak 839 warga Gaza dilaporkan meninggal dunia saat menunggu izin keluar. Selama 14 tahun tersebut, sekitar 30% izin pasien ditolak atau ditunda. Padahal, 24% adalah pasien kanker dan 31% di antaranya adalah anak-anak.
Sumber:
Israel: How delayed exit permits kill Palestinian patients in besieged Gaza, https://www.middleeasteye.net/news/israel-delays-exit-permits-kills-gaza-patients
The Permit Regime: Testimonies, https://gisha.org/en/the-permit-regime-testimonies/
Israel’s medical permit denial for Gaza’s children doubles in past year, warns report https://www.middleeasteye.net/news/israel-gaza-medical-permit-denial-children-doubles-past-year
[1] Menurut Survei Angkatan Kerja triwulanan yang dilakukan oleh Biro Pusat Statistik Palestina, pada kuartal pertama tahun 2022 (Januari-Maret), pengangguran di Gaza mencapai 46,6%, meningkat sekitar dua persen dibandingkan dengan kuartal terakhir tahun 2021.
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







