Kemiskinan dan kurangnya kesadaran masyarakat merupakan dua faktor utama tingginya angka stunting di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Berdasarkan Data yang dihimpun Dinas Kesehatan (Dinkes) Manggarai Barat pada Agustus 2022, jumlah balita stunting meningkat dari tahun 2021 menjadi 3.711 orang atau 15,9 persen dari 23.349 balita. Pada tahun 2021 jumlah balita stunting sebanyak 3.495 orang atau 15,1 persen dari 23.185 bayi. Angka stunting di Manggarai tercatat 15,89 persen, naik jika dibandingkan periode yang sama 2021. Jumlah terbanyak balita stunting di Kabupaten Manggarai Barat tahun 2022 berada di daerah Labuan Bajo, yaitu sebanyak 588 orang, naik dari angka 538 pada tahun sebelumnya.
Bupati Kabupaten Manggarai Barat, Edistasius Endi, menyoroti kecenderungan ibu hamil dan ibu menyusui yang abai terhadap pasokan gizi makanan yang dikonsumsinya. “Penyebabnya, ibu hamil dan ibu menyusui sering membeli mi,” ujar Edi Endi. Selain itu, pemberian ASI kepada anak juga tidak sampai anak berumur dua tahun. “Begitu (usia bayi) sudah tiga bulan, dia (ibu) tidak lagi memberikan ASI kepada anaknya, termasuk makanan juga dia tidak memasak tetapi beli mie instan. Inilah faktor yang membuat stunting di Kabupaten ini angkanya sampai 15,89 persen, ” jelas dia
Ia bertekad menurunkan stunting pada 2023 menjadi 12 persen. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Mabar berkomitmen menyelesaikan permasalahan tersebut secara bertahap, masalah kemiskinan harus jadi prioritas utama pemerintah. “Untuk meretas angka stunting, pertama kita selesaikan dulu kemiskinannya, kalau kemiskinan sudah selesai baru kita lakukan edukasi supaya ada kesadaran. Misalnya ibu yang sementara hamil dan juga anak balita didorong untuk diberikan makanan yang bergizi,” katanya.
Edi meminta kepala desa dari daerah Labuan Bajo yang baru dilantiknya pada Kamis (29/12), untuk fokus menangani kasus stunting pada awal-awal tugas sebagai Kepala Desa (Kades). “Pak kades Batu Cermin, cek di pekarangan rumah warga di desanya atau di belakang rumah, cek warganya tanam sayur atau tidak, tanam tomat atau tidak, dan lain sebagainya. Itu pekerjaan rumah pertama pak kades Batu Cermin. Begitu juga Kades di Golo Bilas. Angka stunting tertinggi itu malah berada di daerah perkotaan,” kata Edi Endi. “Batu Cermin stunting-nya tinggi, kelurahan Labuan Bajo stunting-nya tinggi, Desa Gorontalo stunting-nya tinggi, Desa Golo Bilas stunting-nya tinggi. Begitu juga di kelurahan Waeklambu. Justru yang di perkotaan angka stunting-nya tinggi,” lanjut dia.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








