• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Senin, Januari 19, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

Setelah 40 Tahun Pembantaian Sabra Shatila, Kondisi Pengungsi Palestina Masih Memprihatinkan

by Adara Relief International
September 27, 2022
in Artikel
Reading Time: 8 mins read
0 0
0
Setelah 40 Tahun Pembantaian Sabra Shatila, Kondisi Pengungsi Palestina Masih Memprihatinkan
266
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Empat dekade telah berlalu sejak terjadinya pembantaian pengungsi Palestina di kamp pengungsian Sabra dan Shatila di Lebanon Selatan, tetapi masih meninggalkan ‘utang’ yang tak kunjung terbayarkan. Sejak hari itu, para penyintas pembantaian dan para kerabat dari korban terpaksa menjalani hidup dengan luka menganga yang tak bisa terobati, hingga mereka menua dan wafat dalam sepi. Suara mereka masih terbungkam dan keadilan belum jua mereka dapatkan, sementara pelaku pembantaian justru mendapatkan jabatan di pemerintahan, seakan tiada pernah melakukan sedikit pun kesalahan.

Tragedi Sabra Shatila 1982

Tragedi Sabra Shatila 1982

Sejak Israel mendeklarasikan ‘kemerdekaannya’ pada 1948, penduduk Palestina yang terusir dari tanah air mereka terpaksa berdiaspora mencari tempat tinggal baru. Sebagian dari mereka mengungsi ke Lebanon Selatan kemudian menetap di kamp pengungsi yang bernama Sabra dan Shatila. Sebuah pilihan yang tak mereka sangka akan berbuah kematian.

Peristiwa Sabra Shatila tidak terlepas dari serangan pada Juni 1982 ketika pasukan militer Israel menyerang Lebanon Selatan dan mengepung Beirut karena Israel menuduh PLO mencoba melakukan upaya pembunuhan terhadap Duta Besar Israel untuk Inggris, Shlomo Argov. Sejatinya, serangan tersebut diizinkan dengan syarat pasukan Israel tidak boleh maju lebih dari 40 kilometer dari perbatasan Lebanon. Akan tetapi, aturan yang disampaikan oleh kabinet Israel melalui Menteri Menachem Begin tersebut mereka langgar. Di bawah komando Menteri Pertahanan Ariel Sharon, pasukan Israel menyerang hingga ke Beirut, Ibu Kota Lebanon, yang jelas-jelas melewati batas 40 kilometer tersebut.

Pada Agustus 1982, Bachir Gemayel yang berasal dari partai Falangis yang berisi orang-orang Kristen Maronit terpilih menjadi Presiden Lebanon. Akan tetapi, hanya berselang beberapa minggu setelah pengangkatannya, Gemayel tewas akibat bom yang diledakkan di markasnya yang berlokasi di Beirut pada 14 September 1982. Pembunuhan Gemayel memicu kemarahan dari orang-orang Lebanon, terutama dari orang-orang Kristen Maronit dari partai Falangis yang menaungi pandangan politik Gemayel. Para pengungsi Palestina menjadi sasaran kecurigaan tanpa dasar dari orang-orang Lebanon hanya karena mereka berstatus sebagai pengungsi. Meskipun pada akhirnya, terbukti bahwa pembunuh Gemayel adalah seorang Kristen Maronit asli Lebanon.

Pada 15 September 1982, pasukan Israel mengepung kamp Sabra dan Shatila. Pintu keluar dan masuk dijaga ketat sehingga tidak ada yang bisa keluar atau masuk. Warga Palestina dan Lebanon yang tinggal di sana sempurna terkurung tanpa celah untuk melarikan diri. Tindakan ini merupakan persiapan untuk eksekusi yang akan dilaksanakan keesokan harinya oleh orang-orang Falangis Lebanon.

Pada 16 September 1982, milisi Falangis Lebanon memasuki kamp Sabra dan Shatila atas ‘restu’ dari Menteri Pertahanan Ariel Sharon. Di sana, para milisi Falangis menyiksa, membunuh, memerkosa, bahkan memutilasi warga sipil, tak terkecuali perempuan dan anak-anak. Di balik aksi keji Falangis, terdapat militer Israel yang membantu dengan cara melepaskan tembakan ke langit untuk menerangi orang-orang Falangis yang sedang melancarkan aksi biadab mereka. Dalam sekejap, Sabra Shatila dipenuhi teriakan rasa sakit, jeritan meminta tolong, dan digenangi lautan darah.

Jurnalis Amerika Janet Lee Stevens yang menyaksikan tragedi tersebut menggambarkan kengerian yang ia saksikan, “Saya melihat wanita mati di rumah mereka dengan rok sampai ke pinggang dan kaki mereka terbentang. Puluhan pemuda ditembak setelah berbaris di dinding gang; anak-anak dengan leher yang digorok, seorang wanita hamil dengan perutnya yang dibelah, matanya masih terbuka lebar, wajahnya menghitam, tanpa suara berteriak ngeri. Banyak bayi dan balita yang ditikam atau dicabik-cabik dan yang dibuang ke tumpukan sampah.”

Ribuan pengungsi Palestina menjadi korban jiwa dalam pembantaian brutal ini. Banyaknya korban dengan kondisi yang mengenaskan dan tidak lagi utuh membuat data spesifik yang dilaporkan berbeda-beda. Anadolu Agency pada 2020 menyebutkan bahwa jumlah korban mencapai 3000 jiwa yang terdiri atas warga Palestina dan Lebanon yang mayoritas merupakan penganut Syiah. Sementara itu, TRT World pada 2019 menyebutkan korban tewas dalam peristiwa ini berjumlah 3500 jiwa.

Milisi Falangis baru meninggalkan Sabra dan Shatila pada 18 September 1982, dua hari setelah pembantaian dimulai. Mereka meninggalkan kamp pengungsi yang penuh darah dan potongan-potongan tubuh setelah membuang mayat-mayat penduduk sipil dengan menggunakan buldoser. Para pemuda yang ditemukan dalam keadaan hidup, dibawa untuk diinterogasi oleh intelijen Israel. Di antara tawanan-tawanan ini kemudian ada yang dikembalikan kepada Falangis, beberapa di antaranya dieksekusi mati.

Ariel Sharon, Sang Jagal dari Beirut

Ariel Sharon, Sang Jagal dari Beirut

 Ariel Scheinerman atau lebih dikenal dengan sebutan Ariel Sharon, merupakan dalang di balik tragedi pembantaian Sabra Shatila yang menewaskan ribuan pengungsi Palestina. Ia dibesarkan dalam keluarga imigran Rusia di Palestina yang saat itu dikuasai Inggris dan bergabung dengan gerakan Zionis pada usia 14 tahun. Ia menjadi tentara pada 1947 saat usianya 19 tahun dan mulai ikut dalam pertempuran melawan tentara Yordania dalam pertempuran Latm pada 1948. Pada tahun 1953, Sharon mendapat jabatan sebagai kepala unit 101, sebuah kelompok komando yang ditugaskan untuk melakukan serangan balasan terhadap desa-desa di perbatasan Yordania.

Sharon melancarkan pembantaian pertamanya pada Oktober 1953, ketika ia menyerang desa Qibyā di Tepi Barat yang menewaskan 69 warga sipil, mayoritas perempuan dan anak-anak. Dua tahun berselang, yaitu pada 1955, Sharon memimpin serangan terhadap pasukan Mesir yang menduduki Jalur Gaza. Serangan itu menewaskan 38 orang Mesir dan meningkatkan ketegangan antara Israel dan Mesir. Tragedi tersebut juga membuat Sharon mendapat julukan “Sang Buldozer”.

Sharon memulai karir politiknya pada 1973 dengan memutuskan bergabung dengan partai Likud pimpinan Menachem Begin dan terpilih menjadi anggota Knesset (parlemen Israel). Pada Mei 1977 ia membentuk partai kecilnya sendiri, Partai Shlomzion  yang berarti “Perdamaian di Sion”, kemudian diangkat menjadi menteri pertanian yang mensponsori pembangunan permukiman Yahudi di wilayah Palestina yang terjajah.

Dalam pembantaian Sabra Shatila tahun 1982, Sharon duduk di kursi “sutradara” yang menyusun skenario pembantaian dengan memanfaatkan stigma negatif kelompok Falangis Lebanon terhadap pengungsi Palestina. Wafatnya Presiden Lebanon Bachir Gemayel yang tewas dibunuh menjadi ajang Sharon untuk melancarkan aksinya dalam menghasut kelompok Falangis agar “membalaskan dendam kematian Gemayel” dengan membantai pengungsi Palestina di Sabra dan Shatila, yang sebenarnya sama sekali tidak terlibat dalam pembunuhan tersebut. Rencana Sharon mendapat respon positif dari kelompok Falangis yang merasa mendapat dukungan untuk melancarkan aksinya. Maka, pada 16 September 1982, kelompok Falangis Lebanon menyerbu kamp Sabra dan Shatila dengan membabi buta, dengan bantuan militer Israel yang melepaskan tembakan ke langit untuk menerangi orang-orang Falangis yang membantai para pengungsi Palestina dengan keji. Dalam sekejap, Sabra Shatila berubah menjadi genangan darah, sehingga Sharon kemudian mendapat julukan “Sang Jagal dari Beirut”.

Terungkapnya bukti yang menunjukkan bahwa Sharon adalah dalang tragedi Sabra Shatila tidak serta merta membuatnya hengkang dari dunia politik. Mengejutkannya, meskipun dunia mengecam Ariel Sharon atas tindakan tidak berperikemanusiaannya dan menuntut agar Sharon dicopot dari jabatannya, kenyataan yang terjadi justru berbanding terbalik. Sharon masih tetap berkarir di pemerintahan, bahkan menjadi anggota kabinet selama periode 1984—2001. Lebih mengejutkan lagi, pada 2001, Sharon memenangkan pemilihan khusus yang menempatkannya menjadi Perdana Menteri Israel hingga ia mengalami koma pada 2006 dan meninggal pada 2014.

Kabar kematian Sharon disambut sukacita oleh para penghuni kamp pengungsi Sabra dan Shatila. Mereka membagikan permen untuk ‘merayakan’ wafatnya pembunuh yang telah membantai keluarga dan kerabat mereka. “Saya ingin melihatnya diadili di hadapan dunia sebelum Tuhan mengadilinya,” kata Mirvat al-Amine, seorang pemilik toko di Shatila.

Kondisi Pengungsi Palestina Saat Ini

Kondisi Pengungsi Palestina Saat Ini

Pengungsi Palestina merupakan pengungsi dengan populasi terbesar di dunia dengan jumlah mencapai 5,9 juta jiwa. Kebanyakan dari para pengungsi menetap di kawasan negara-negara perbatasan yang berada di sekitar Palestina. Sebanyak 39% mendiami kamp di Yordania, 10,5% mendiami kamp di Suriah, dan 9,1% mendiami kamp di Lebanon. Akan tetapi, hidup dalam pengungsian tidak lebih baik dari penduduk yang masih mendiami wilayah Palestina yang penuh dengan gejolak.

Berdasarkan data dari UNRWA, jumlah pengungsi Palestina terbanyak berada di Yordania yaitu sekitar dua juta jiwa yang tersebar di 10 kamp pengungsian. Yordania memberikan status kewarganegaraan kepada para pengungsi Palestina, tetapi masih memperlakukan para pengungsi sebagai warga kelas dua dalam berbagai aspek. Dalam sektor pendidikan, mahasiswa Palestina berstatus sebagai “mahasiswa internasional” yang harus membayar biaya pendidikan dua kali lipat dibanding dengan mahasiswa lokal. Sulitnya mengakses lapangan kerja juga membuat tingkat pengangguran di sana tergolong tinggi yaitu sebesar 38%.

Di Suriah, UNRWA mencatat terdapat 568,730 pengungsi Palestina yang menempati sekitar 12 kamp pengungsian. Akan tetapi, kondisi Suriah yang tidak stabil membuat sekitar 120.000 pengungsi memilih untuk meninggalkan Suriah dan pergi ke kawasan Eropa, Lebanon, Mesir, dan Turki. Sementara itu, UNRWA melaporkan bahwa 95% pengungsi Palestina yang masih menetap di Suriah masih membutuhkan bantuan untuk keperluan dasar sehari hari.

Di Lebanon, tempat kamp Sabra dan Shatila berada, kondisi pengungsi Palestina tidak lebih baik. Krisis ekonomi akibat perang saudara pada 1975—1990 ditambah dengan ledakan di Beirut pada 4 Agustus 2020 berdampak langsung bagi pengungsi Palestina di Lebanon yang berjumlah 479,000 jiwa. Menurut perhitungan Economic and Social Commission for Western Asia (ESCWA), tingkat kemiskinan multidimensi di Lebanon mencapai 82%, sementara kemiskinan ekstrem mencapai 40%. Masuknya pengungsi Palestina secara terus-menerus dari Suriah ke Lebanon juga mengakibatkan angka kekerasan yang tinggi di perbatasan, sehingga membuat pemerintah Lebanon memutuskan untuk menutup pintu perbatasan.

Sementara itu, di Jalur Gaza, para pengungsi Palestina telah hidup dalam blokade Israel selama lebih dari 15 tahun, baik dari sisi darat, laut, maupun udara. Pengungsi Palestina di Gaza merupakan 66% dari populasi, yaitu sebanyak 1,4 juta jiwa dari total 2,25 juta penduduk Gaza yang tinggal di 8 kamp pengungsian. Blokade berkepanjangan mengakibatkan sumber daya di Jalur Gaza menjadi sangat terbatas, terutama air bersih dan listrik. Air bersih tidak tersedia untuk 65% populasi dan pasokan listrik hanya menyala selama 4—5 jam per hari. Krisis ekonomi juga mengakibatkan tingkat pengangguran sangat tinggi, yaitu mencapai 49%. Akibatnya, 80% penduduk Gaza bergantung pada bantuan internasional dan menciptakan krisis kemanusiaan terbesar di dunia.

Kenyataan yang terjadi terhadap para pengungsi Palestina menunjukkan bahwa Israel terus berusaha untuk membuat orang Palestina menderita di mana pun mereka berada. Serangan dan pembantaian yang mereka lancarkan dengan alasan “keamanan” sesungguhnya hanyalah selimut tipis yang menutupi rangkaian rencana keji mereka yang tidak berperikemanusiaan. Sabra Shatila adalah saksi tragedi berdarah yang merenggut ribuan jiwa tak bersalah, dan meninggalkan korban yang hidup dalam trauma fisik dan psikologis berkepanjangan yang tak kunjung usai. Namun sejatinya, seluruh wilayah Palestina dan pengungsiannya saat ini adalah Sabra Shatila, yang terus menerus “dibantai” dengan permasalahan masing-masing tanpa penyelesaian. Pilihannya terletak pada kita, yang memilih untuk diam dan membiarkan tragedi Sabra Shatila lainnya terjadi, atau bergerak membantu dan menyuarakan keadilan bagi para pengungsi Palestina.

 

Salsabila Safitri

Penulis merupakan anggota Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita anak dan perempuan Palestina. Ia sedang menyelesaikan pendidikan strata 1 di Sastra Arab, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

Sumber:

https://www.britannica.com/biography/Ariel-Sharon/The-launch-of-a-political-career

https://www.arabnews.com/node/1660936

https://www.#/20220912-the-lesson-of-sabra-and-shatila-is-far-reaching/

https://www.#/20190916-remembering-the-sabra-and-shatila-massacre/

https://www.middleeasteye.net/video/what-sabra-and-shatila-massacre

https://www.timesofisrael.com/journalist-reckons-with-israeli-blame-for-1982-sabra-and-shatila-massacre/

https://www.aljazeera.com/opinions/2017/9/16/remembering-the-sabra-and-shatila-massacre-35-years-on

https://www.haaretz.com/israel-news/with-sharon-gone-israel-reveals-the-truth-about-the-lebanon-war-1.5451086

https://www.trtworld.com/middle-east/remembering-the-sabra-and-shatila-massacres-29865

https://www.aa.com.tr/en/middle-east/1982-beirut-massacre-still-haunts-survivors/1975532

https://www.aa.com.tr/en/middle-east/palestinians-make-up-world-s-largest-refugee-population/1179770

https://www.unrwa.org/palestine-refugees

 

***

Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.

Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar  program bantuan untuk Palestina.

Baca Juga

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Donasi

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.

Tags: ArtikelPalestina
ShareTweetSendShare
Previous Post

Bill Gates’ iconic donkey game arrives on iPhone, Apple Watch

Next Post

Membaca Kasih Sayang Allah Melalui Rangkaian Musibah Bencana Alam

Adara Relief International

Related Posts

Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)
Artikel

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

by Adara Relief International
Januari 19, 2026
0
21

“Harapan hanya dapat dibunuh oleh kematian jiwa, dan seni adalah jiwaku — ia tidak akan mati.” Kalimat tersebut disampaikan oleh...

Read moreDetails
Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Januari 19, 2026
20
Kubah As-Sakhrah pada Senja hari. Sumber: Islamic Relief

Isra Mikraj dan Sentralitas Masjid Al-Aqsa dalam Akidah Islam

Januari 19, 2026
22
Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)

In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan

Januari 14, 2026
25
Sebuah grafiti dengan gambar sastrawan Palestina, Mahmoud Darwish, dan penggalan puisinya, “Di atas tanah ini ada hidup yang layak diperjuangkan”. (Zaina Zinati/Jordan News)

Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

Januari 12, 2026
87
Banjir merendam tenda-tenda pengungsian di Gaza (Al Jazeera)

Banjir dan Badai di Gaza: Vonis Mati Tanpa Peringatan

Januari 7, 2026
59
Next Post
Membaca Kasih Sayang Allah Melalui Rangkaian Musibah Bencana Alam

Membaca Kasih Sayang Allah Melalui Rangkaian Musibah Bencana Alam

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bantuan Sembako Jangkau Ratusan Warga Sumbar Terdampak Banjir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630