Empat dekade telah berlalu sejak terjadinya pembantaian pengungsi Palestina di kamp pengungsian Sabra dan Shatila di Lebanon Selatan, tetapi masih meninggalkan ‘utang’ yang tak kunjung terbayarkan. Sejak hari itu, para penyintas pembantaian dan para kerabat dari korban terpaksa menjalani hidup dengan luka menganga yang tak bisa terobati, hingga mereka menua dan wafat dalam sepi. Suara mereka masih terbungkam dan keadilan belum jua mereka dapatkan, sementara pelaku pembantaian justru mendapatkan jabatan di pemerintahan, seakan tiada pernah melakukan sedikit pun kesalahan.
Tragedi Sabra Shatila 1982

Sejak Israel mendeklarasikan ‘kemerdekaannya’ pada 1948, penduduk Palestina yang terusir dari tanah air mereka terpaksa berdiaspora mencari tempat tinggal baru. Sebagian dari mereka mengungsi ke Lebanon Selatan kemudian menetap di kamp pengungsi yang bernama Sabra dan Shatila. Sebuah pilihan yang tak mereka sangka akan berbuah kematian.
Peristiwa Sabra Shatila tidak terlepas dari serangan pada Juni 1982 ketika pasukan militer Israel menyerang Lebanon Selatan dan mengepung Beirut karena Israel menuduh PLO mencoba melakukan upaya pembunuhan terhadap Duta Besar Israel untuk Inggris, Shlomo Argov. Sejatinya, serangan tersebut diizinkan dengan syarat pasukan Israel tidak boleh maju lebih dari 40 kilometer dari perbatasan Lebanon. Akan tetapi, aturan yang disampaikan oleh kabinet Israel melalui Menteri Menachem Begin tersebut mereka langgar. Di bawah komando Menteri Pertahanan Ariel Sharon, pasukan Israel menyerang hingga ke Beirut, Ibu Kota Lebanon, yang jelas-jelas melewati batas 40 kilometer tersebut.
Pada Agustus 1982, Bachir Gemayel yang berasal dari partai Falangis yang berisi orang-orang Kristen Maronit terpilih menjadi Presiden Lebanon. Akan tetapi, hanya berselang beberapa minggu setelah pengangkatannya, Gemayel tewas akibat bom yang diledakkan di markasnya yang berlokasi di Beirut pada 14 September 1982. Pembunuhan Gemayel memicu kemarahan dari orang-orang Lebanon, terutama dari orang-orang Kristen Maronit dari partai Falangis yang menaungi pandangan politik Gemayel. Para pengungsi Palestina menjadi sasaran kecurigaan tanpa dasar dari orang-orang Lebanon hanya karena mereka berstatus sebagai pengungsi. Meskipun pada akhirnya, terbukti bahwa pembunuh Gemayel adalah seorang Kristen Maronit asli Lebanon.
Pada 15 September 1982, pasukan Israel mengepung kamp Sabra dan Shatila. Pintu keluar dan masuk dijaga ketat sehingga tidak ada yang bisa keluar atau masuk. Warga Palestina dan Lebanon yang tinggal di sana sempurna terkurung tanpa celah untuk melarikan diri. Tindakan ini merupakan persiapan untuk eksekusi yang akan dilaksanakan keesokan harinya oleh orang-orang Falangis Lebanon.
Pada 16 September 1982, milisi Falangis Lebanon memasuki kamp Sabra dan Shatila atas ‘restu’ dari Menteri Pertahanan Ariel Sharon. Di sana, para milisi Falangis menyiksa, membunuh, memerkosa, bahkan memutilasi warga sipil, tak terkecuali perempuan dan anak-anak. Di balik aksi keji Falangis, terdapat militer Israel yang membantu dengan cara melepaskan tembakan ke langit untuk menerangi orang-orang Falangis yang sedang melancarkan aksi biadab mereka. Dalam sekejap, Sabra Shatila dipenuhi teriakan rasa sakit, jeritan meminta tolong, dan digenangi lautan darah.
Jurnalis Amerika Janet Lee Stevens yang menyaksikan tragedi tersebut menggambarkan kengerian yang ia saksikan, “Saya melihat wanita mati di rumah mereka dengan rok sampai ke pinggang dan kaki mereka terbentang. Puluhan pemuda ditembak setelah berbaris di dinding gang; anak-anak dengan leher yang digorok, seorang wanita hamil dengan perutnya yang dibelah, matanya masih terbuka lebar, wajahnya menghitam, tanpa suara berteriak ngeri. Banyak bayi dan balita yang ditikam atau dicabik-cabik dan yang dibuang ke tumpukan sampah.”
Ribuan pengungsi Palestina menjadi korban jiwa dalam pembantaian brutal ini. Banyaknya korban dengan kondisi yang mengenaskan dan tidak lagi utuh membuat data spesifik yang dilaporkan berbeda-beda. Anadolu Agency pada 2020 menyebutkan bahwa jumlah korban mencapai 3000 jiwa yang terdiri atas warga Palestina dan Lebanon yang mayoritas merupakan penganut Syiah. Sementara itu, TRT World pada 2019 menyebutkan korban tewas dalam peristiwa ini berjumlah 3500 jiwa.
Milisi Falangis baru meninggalkan Sabra dan Shatila pada 18 September 1982, dua hari setelah pembantaian dimulai. Mereka meninggalkan kamp pengungsi yang penuh darah dan potongan-potongan tubuh setelah membuang mayat-mayat penduduk sipil dengan menggunakan buldoser. Para pemuda yang ditemukan dalam keadaan hidup, dibawa untuk diinterogasi oleh intelijen Israel. Di antara tawanan-tawanan ini kemudian ada yang dikembalikan kepada Falangis, beberapa di antaranya dieksekusi mati.
Ariel Sharon, Sang Jagal dari Beirut

Ariel Scheinerman atau lebih dikenal dengan sebutan Ariel Sharon, merupakan dalang di balik tragedi pembantaian Sabra Shatila yang menewaskan ribuan pengungsi Palestina. Ia dibesarkan dalam keluarga imigran Rusia di Palestina yang saat itu dikuasai Inggris dan bergabung dengan gerakan Zionis pada usia 14 tahun. Ia menjadi tentara pada 1947 saat usianya 19 tahun dan mulai ikut dalam pertempuran melawan tentara Yordania dalam pertempuran Latm pada 1948. Pada tahun 1953, Sharon mendapat jabatan sebagai kepala unit 101, sebuah kelompok komando yang ditugaskan untuk melakukan serangan balasan terhadap desa-desa di perbatasan Yordania.
Sharon melancarkan pembantaian pertamanya pada Oktober 1953, ketika ia menyerang desa Qibyā di Tepi Barat yang menewaskan 69 warga sipil, mayoritas perempuan dan anak-anak. Dua tahun berselang, yaitu pada 1955, Sharon memimpin serangan terhadap pasukan Mesir yang menduduki Jalur Gaza. Serangan itu menewaskan 38 orang Mesir dan meningkatkan ketegangan antara Israel dan Mesir. Tragedi tersebut juga membuat Sharon mendapat julukan “Sang Buldozer”.
Sharon memulai karir politiknya pada 1973 dengan memutuskan bergabung dengan partai Likud pimpinan Menachem Begin dan terpilih menjadi anggota Knesset (parlemen Israel). Pada Mei 1977 ia membentuk partai kecilnya sendiri, Partai Shlomzion yang berarti “Perdamaian di Sion”, kemudian diangkat menjadi menteri pertanian yang mensponsori pembangunan permukiman Yahudi di wilayah Palestina yang terjajah.
Dalam pembantaian Sabra Shatila tahun 1982, Sharon duduk di kursi “sutradara” yang menyusun skenario pembantaian dengan memanfaatkan stigma negatif kelompok Falangis Lebanon terhadap pengungsi Palestina. Wafatnya Presiden Lebanon Bachir Gemayel yang tewas dibunuh menjadi ajang Sharon untuk melancarkan aksinya dalam menghasut kelompok Falangis agar “membalaskan dendam kematian Gemayel” dengan membantai pengungsi Palestina di Sabra dan Shatila, yang sebenarnya sama sekali tidak terlibat dalam pembunuhan tersebut. Rencana Sharon mendapat respon positif dari kelompok Falangis yang merasa mendapat dukungan untuk melancarkan aksinya. Maka, pada 16 September 1982, kelompok Falangis Lebanon menyerbu kamp Sabra dan Shatila dengan membabi buta, dengan bantuan militer Israel yang melepaskan tembakan ke langit untuk menerangi orang-orang Falangis yang membantai para pengungsi Palestina dengan keji. Dalam sekejap, Sabra Shatila berubah menjadi genangan darah, sehingga Sharon kemudian mendapat julukan “Sang Jagal dari Beirut”.
Terungkapnya bukti yang menunjukkan bahwa Sharon adalah dalang tragedi Sabra Shatila tidak serta merta membuatnya hengkang dari dunia politik. Mengejutkannya, meskipun dunia mengecam Ariel Sharon atas tindakan tidak berperikemanusiaannya dan menuntut agar Sharon dicopot dari jabatannya, kenyataan yang terjadi justru berbanding terbalik. Sharon masih tetap berkarir di pemerintahan, bahkan menjadi anggota kabinet selama periode 1984—2001. Lebih mengejutkan lagi, pada 2001, Sharon memenangkan pemilihan khusus yang menempatkannya menjadi Perdana Menteri Israel hingga ia mengalami koma pada 2006 dan meninggal pada 2014.
Kabar kematian Sharon disambut sukacita oleh para penghuni kamp pengungsi Sabra dan Shatila. Mereka membagikan permen untuk ‘merayakan’ wafatnya pembunuh yang telah membantai keluarga dan kerabat mereka. “Saya ingin melihatnya diadili di hadapan dunia sebelum Tuhan mengadilinya,” kata Mirvat al-Amine, seorang pemilik toko di Shatila.
Kondisi Pengungsi Palestina Saat Ini

Pengungsi Palestina merupakan pengungsi dengan populasi terbesar di dunia dengan jumlah mencapai 5,9 juta jiwa. Kebanyakan dari para pengungsi menetap di kawasan negara-negara perbatasan yang berada di sekitar Palestina. Sebanyak 39% mendiami kamp di Yordania, 10,5% mendiami kamp di Suriah, dan 9,1% mendiami kamp di Lebanon. Akan tetapi, hidup dalam pengungsian tidak lebih baik dari penduduk yang masih mendiami wilayah Palestina yang penuh dengan gejolak.
Berdasarkan data dari UNRWA, jumlah pengungsi Palestina terbanyak berada di Yordania yaitu sekitar dua juta jiwa yang tersebar di 10 kamp pengungsian. Yordania memberikan status kewarganegaraan kepada para pengungsi Palestina, tetapi masih memperlakukan para pengungsi sebagai warga kelas dua dalam berbagai aspek. Dalam sektor pendidikan, mahasiswa Palestina berstatus sebagai “mahasiswa internasional” yang harus membayar biaya pendidikan dua kali lipat dibanding dengan mahasiswa lokal. Sulitnya mengakses lapangan kerja juga membuat tingkat pengangguran di sana tergolong tinggi yaitu sebesar 38%.
Di Suriah, UNRWA mencatat terdapat 568,730 pengungsi Palestina yang menempati sekitar 12 kamp pengungsian. Akan tetapi, kondisi Suriah yang tidak stabil membuat sekitar 120.000 pengungsi memilih untuk meninggalkan Suriah dan pergi ke kawasan Eropa, Lebanon, Mesir, dan Turki. Sementara itu, UNRWA melaporkan bahwa 95% pengungsi Palestina yang masih menetap di Suriah masih membutuhkan bantuan untuk keperluan dasar sehari hari.
Di Lebanon, tempat kamp Sabra dan Shatila berada, kondisi pengungsi Palestina tidak lebih baik. Krisis ekonomi akibat perang saudara pada 1975—1990 ditambah dengan ledakan di Beirut pada 4 Agustus 2020 berdampak langsung bagi pengungsi Palestina di Lebanon yang berjumlah 479,000 jiwa. Menurut perhitungan Economic and Social Commission for Western Asia (ESCWA), tingkat kemiskinan multidimensi di Lebanon mencapai 82%, sementara kemiskinan ekstrem mencapai 40%. Masuknya pengungsi Palestina secara terus-menerus dari Suriah ke Lebanon juga mengakibatkan angka kekerasan yang tinggi di perbatasan, sehingga membuat pemerintah Lebanon memutuskan untuk menutup pintu perbatasan.
Sementara itu, di Jalur Gaza, para pengungsi Palestina telah hidup dalam blokade Israel selama lebih dari 15 tahun, baik dari sisi darat, laut, maupun udara. Pengungsi Palestina di Gaza merupakan 66% dari populasi, yaitu sebanyak 1,4 juta jiwa dari total 2,25 juta penduduk Gaza yang tinggal di 8 kamp pengungsian. Blokade berkepanjangan mengakibatkan sumber daya di Jalur Gaza menjadi sangat terbatas, terutama air bersih dan listrik. Air bersih tidak tersedia untuk 65% populasi dan pasokan listrik hanya menyala selama 4—5 jam per hari. Krisis ekonomi juga mengakibatkan tingkat pengangguran sangat tinggi, yaitu mencapai 49%. Akibatnya, 80% penduduk Gaza bergantung pada bantuan internasional dan menciptakan krisis kemanusiaan terbesar di dunia.
Kenyataan yang terjadi terhadap para pengungsi Palestina menunjukkan bahwa Israel terus berusaha untuk membuat orang Palestina menderita di mana pun mereka berada. Serangan dan pembantaian yang mereka lancarkan dengan alasan “keamanan” sesungguhnya hanyalah selimut tipis yang menutupi rangkaian rencana keji mereka yang tidak berperikemanusiaan. Sabra Shatila adalah saksi tragedi berdarah yang merenggut ribuan jiwa tak bersalah, dan meninggalkan korban yang hidup dalam trauma fisik dan psikologis berkepanjangan yang tak kunjung usai. Namun sejatinya, seluruh wilayah Palestina dan pengungsiannya saat ini adalah Sabra Shatila, yang terus menerus “dibantai” dengan permasalahan masing-masing tanpa penyelesaian. Pilihannya terletak pada kita, yang memilih untuk diam dan membiarkan tragedi Sabra Shatila lainnya terjadi, atau bergerak membantu dan menyuarakan keadilan bagi para pengungsi Palestina.
Salsabila Safitri
Penulis merupakan anggota Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita anak dan perempuan Palestina. Ia sedang menyelesaikan pendidikan strata 1 di Sastra Arab, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.
Sumber:
https://www.britannica.com/biography/Ariel-Sharon/The-launch-of-a-political-career
https://www.arabnews.com/node/1660936
https://www.#/20220912-the-lesson-of-sabra-and-shatila-is-far-reaching/
https://www.#/20190916-remembering-the-sabra-and-shatila-massacre/
https://www.middleeasteye.net/video/what-sabra-and-shatila-massacre
https://www.aljazeera.com/opinions/2017/9/16/remembering-the-sabra-and-shatila-massacre-35-years-on
https://www.trtworld.com/middle-east/remembering-the-sabra-and-shatila-massacres-29865
https://www.aa.com.tr/en/middle-east/1982-beirut-massacre-still-haunts-survivors/1975532
https://www.aa.com.tr/en/middle-east/palestinians-make-up-world-s-largest-refugee-population/1179770
https://www.unrwa.org/palestine-refugees
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.








