Menurut penelitian baru yang terbit hari Kamis (05/02) dari HelpAge International dan Amnesty International, para lansia di Gaza menderita krisis kesehatan fisik dan mental yang terabaikan. Kondisi ini terjadi di tengah blokade Israel terhadap bantuan dan obat-obatan penting, serta larangan baru-baru ini terhadap organisasi kemanusiaan.
Hasil survei kesehatan memperlihatkan bahwa para lansia menghadapi kelangkaan makanan hingga menyebabkan mereka melewatkan waktu makan untuk memastikan anggota keluarga lainnya dapat makan. Di samping itu, lansia yang lain mengatakan bahwa mereka harus menghemat obat-obatan untuk kondisi kesehatan serius karena kurangnya akses.Para lansia juga menceritakan kepada Amnesty International tentang kurangnya akses terhadap makanan bergizi, tempat tinggal yang layak, dan layanan kesehatan.
“Di Gaza, para lansia mengalami penurunan kesehatan fisik dan mental yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ini merupakan akibat langsung dari tindakan Israel yang sengaja menciptakan kondisi kehidupan yang menyebabkan kehancuran fisik warga Palestina di Gaza,” terang pejabat senior Amnesty International, Erika Guevara-Rosas.
HelpAge International telah melakukan survei terhadap 416 lansia di Gaza. Mereka merilis sebuah laporan yang mengungkapkan bahwa 76 persen lansia tinggal di tenda-tenda yang penuh sesak. Sementara itu, 84 persen mengatakan kondisi tempat tinggal para lansia saat ini membahayakan kesehatan dan privasi mereka. Menurut survei tersebut, 79 persen responden lanjut usia juga melaporkan telah mengungsi lebih dari tiga kali sejak Oktober 2023.
“Hak dan kebutuhan para lansia di Gaza tidak boleh kita abaikan. Banyak yang terus menanggung kondisi hidup yang memburuk dan situasi kemanusiaan yang sangat parah. Ini terjadi akibat penghancuran rumah mereka dan pengungsian berulang kali. Israel harus segera dan tanpa syarat mencabut blokade mereka. Israel juga harus mengizinkan masuknya pasokan penting tanpa hambatan. Pasokan penting tersebut termasuk obat-obatan dan bahan-bahan untuk tempat tinggal,” tegas kelompok-kelompok hak asasi manusia tersebut.
Sumber: Palinfo








