Setelah peristiwa 7 Oktober 2023, banyak pekerja Palestina yang mengalami perlakuan buruk di berbagai pusat penahanan Israel. Beberapa di antaranya mengalami kekerasan berat, sementara yang lain kehilangan nyawa atau menghilang tanpa jejak, sebagaimana dilaporkan oleh Serikat Pekerja Arab.
Wehbe Badarneh, penasihat hukum Serikat Pekerja Arab, menyatakan bahwa pihaknya telah mengajukan permohonan informasi kepada otoritas keamanan dan militer Israel mengenai keberadaan 46 pekerja Palestina dari Gaza yang hilang sejak 8 Oktober 2023, sehari setelah insiden tersebut.
Layanan Penjara Israel memberikan tanggapan yang tidak jelas, hanya menyebutkan bahwa 34 pekerja meninggal di dalam pusat penahanan akibat “keadaan yang tidak diketahui” atau “serangan jantung”. Sebelum peristiwa tersebut, sekitar 18.000 pekerja Palestina dari Gaza bekerja di Israel dengan izin resmi. Namun, otoritas Israel telah mencabut izin kerja bagi pekerja dari Gaza dan Tepi Barat.
Sejak agresi 7 Oktober 2023 para pekerja Gaza terjebak dalam situasi yang tidak menentu. Sebagian merasa takut kembali ke Gaza, sementara yang lain mencari perlindungan di Tepi Barat atau ditangkap di pos-pos pemeriksaan militer dan mengalami perlakuan tidak manusiawi.
Ratusan pekerja Gaza kemudian ditawan di berbagai fasilitas Israel, termasuk pusat penahanan Sde Teiman dan Ofer, yang dikenal karena kondisi buruk serta perlakuan keras terhadap tawanan Palestina.
Serikat Pekerja Arab menerima banyak laporan dari keluarga yang kehilangan kontak dengan anggota keluarga mereka dan saat jumlah pengaduan meningkat drastis, menjadi jelas bahwa ini bukan sekadar kasus individu, melainkan isu yang lebih luas.
Serikat pekerja berusaha mencari kejelasan dengan menghubungi berbagai otoritas Israel, namun tidak mendapatkan respons yang memadai. Meski demikian, mereka terus berupaya mencari keadilan, bahkan membawa kasus ini ke Mahkamah Agung Israel. Perhatian media mulai meningkat setelah surat kabar Haaretz menerbitkan laporan mengenai situasi ini.
Seorang jurnalis Haaretz kemudian mendapatkan informasi dari juru bicara militer Israel bahwa beberapa jasad pekerja yang meninggal di pos pemeriksaan telah dikirim kembali ke Gaza melalui pos perbatasan Beit Hancur (Erez).
Beberapa pekerja Gaza yang berhasil mencapai Tepi Barat dan mendapatkan perlindungan di akademi militer Palestina di Yerikho memberikan kesaksian mengenai kondisi yang mereka alami selama berada dalam penahanan Israel. Berdasarkan kesaksian dan rekaman yang beredar, para pekerja yang ditangkap mengalami perlakuan keras, termasuk pemukulan dan berbagai bentuk intimidasi.
Euro-Med Human Rights Monitor melaporkan bahwa ribuan pekerja Gaza mengalami kondisi yang sangat memprihatinkan, seperti tidak diberikan makanan dan air selama berhari-hari, mengalami kekerasan fisik, dan mendapat perlakuan yang merendahkan.
Selain itu, sebelum ditahan, banyak pekerja yang mengalami ketidakadilan dari tempat mereka bekerja, termasuk tidak menerima gaji, mendapat perlakuan kasar, serta mengalami penghinaan verbal.
Serikat Pekerja Arab kemudian menyampaikan laporan mereka kepada serikat pekerja di Eropa. Sejumlah anggota serikat pekerja di Eropa merekomendasikan agar kasus ini dimasukkan dalam gugatan terhadap Israel di Mahkamah Internasional (ICJ). Beberapa pekerja Gaza juga dipanggil ke Jenewa untuk memberikan kesaksian di hadapan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), meskipun menghadapi berbagai kendala administratif.
Dengan semakin banyaknya laporan dan kesaksian yang dikumpulkan, komunitas internasional diharapkan dapat mengambil langkah-langkah konkret untuk menyoroti dan menangani isu ini demi melindungi hak-hak pekerja Palestina.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








