Bukti dan analisis ahli mengindikasikan bahwa Israel dengan sengaja menargetkan Rumah Sakit Nasser di Khan Younis menggunakan rudal berpemandu Spike. Klaim militer Israel bahwa serangan itu merupakan “kesalahan” terbukti tidak sesuai fakta.
Pakar persenjataan Dheifallah Al-Dabboubi menjelaskan bahwa rudal Spike berjenis fire and forget tersebut menimbulkan kerusakan parah dan pecah menjadi banyak serpihan layaknya bom cluster. Analisis menunjukkan rudal ditembakkan dari jarak hanya tiga kilometer, dengan akurasi yang sengaja diarahkan ke rumah sakit. Rekaman juga menunjukkan seorang tentara Israel memamerkan sistem Spike di Instagram dengan caption berisi cacian, yang memperkuat bukti bahwa serangan ini disengaja.
Serangan ganda (double-tap) tersebut pertama kali menghantam lantai empat rumah sakit, lalu mengenai tim medis, penyelamat, dan jurnalis yang sedang mengevakuasi korban. Sedikitnya 20 orang terbunuh, termasuk lima jurnalis: Hussam Al-Masri (Reuters), Mohammad Salama (Al Jazeera), Mariam Abu Daqqa (AP/Independent Arabia), Moaz Abu Taha (NBC News), dan Ahmed Abu Aziz (Quds Feed). Korban lain mencakup mahasiswa kedokteran Mohammad Al-Habibi serta petugas pemadam kebakaran Imad Al-Shaer.
Yayasan Hind Rajab telah meninjau ulang rekaman tersebut dan menegaskan bahwa Spike NLOS merupakan sistem man-in-the-loop, artinya operator dapat melihat dan memilih target sebelum rudal menghantam. “IDF mengetahui bahwa mereka sedang menargetkan tenaga medis, tim penyelamat, dan jurnalis. Ini merupakan kejahatan perang double-tap yang dilakukan secara sengaja,” tegas lembaga tersebut.
Kementerian Kesehatan Gaza mengutuk keras serangan itu, menyebutnya sebagai bagian dari penghancuran sistematis terhadap layanan kesehatan dan kelanjutan genosida. Nasser Hospital, yang merupakan satu-satunya rumah sakit besar yang masih berfungsi di Gaza selatan, kini kewalahan menangani lebih dari 1.000 pasien dengan hanya 340 tempat tidur.
Pada hari yang sama, tentara Israel juga menargetkan jurnalis Hasan Dohan di Al-Mawasi, menambah daftar panjang korban jurnalis Palestina yang telah mencapai lebih dari 245 orang sejak genosida dimulai.
Sumber:
Qudsnen, MEE








