Komite Tinggi Urusan Gereja di Palestina pada Jumat memperingatkan adanya serangan yang disebut “belum pernah terjadi sebelumnya” terhadap gereja-gereja di Tanah Suci. Mereka menilai tindakan tersebut sebagai bagian dari kampanye sistematis Israel untuk menghapus keberadaan umat Kristen di wilayah itu.
Dalam sebuah surat yang ditujukan kepada para pemimpin gereja di seluruh dunia, komite menyoroti serangan langsung terhadap Patriarkat Ortodoks di Al-Quds (Yerusalem), pembekuan rekening bank institusi tersebut, serta pemberlakuan pajak yang dinilai menindas dan tidak adil atas properti gereja.
Komite memperingatkan bahwa langkah tersebut mengancam kemampuan gereja untuk menjalankan pelayanan spiritual, kemanusiaan, dan sosial, sekaligus melanggar Status Quo bersejarah, hukum internasional, dan perjanjian yang mengikat.
Komite juga menegaskan bahwa serangan tidak hanya berbentuk tekanan finansial. Lahan milik Gereja Ortodoks di sekitar Biara Santo Gerasimus (Deir Hijleh) dekat Yerikho menjadi sasaran ekspansi permukiman ilegal. Sejak Oktober 2023, sejumlah pos permukiman baru telah berdiri di kawasan tersebut, yang dinilai mengancam karakter sakral dan historisnya serta merupakan bagian dari rencana lebih luas untuk menghapus identitas Kristen dan sejarah Palestina.
Ramzi Khouri, anggota Komite Eksekutif PLO sekaligus Ketua Komite Tinggi Urusan Gereja, menekankan bahwa langkah ini tidak dapat dipisahkan dari strategi pendudukan Israel untuk mengubah identitas Al-Quds (Yerusalem), menghapus karakter religius dan budaya kota tersebut, serta menghilangkan kehadiran Palestina. Ia menambahkan bahwa pembiaran komunitas internasional dan sikap pasif gereja-gereja dunia memberikan “lampu hijau” bagi berlanjutnya tindakan represif ini.
Selain itu, otoritas Israel juga diduga kuat memfasilitasi pengambilalihan properti milik gereja oleh kelompok pemukim, seperti yang terjadi di area Bab al-Khalil (Gerbang Jaffa) di Kota Tua Al-Quds (Yerusalem). Beberapa tahun terakhir, langkah serupa semakin meningkat dengan dalih penarikan pajak atas gereja-gereja bersejarah.
Serangan terhadap situs keagamaan Kristen juga terjadi di Gaza. Pada Juli 2024, serangan terhadap Gereja Keluarga Kudus membunuh tiga orang, termasuk seorang juru kebersihan berusia 60 tahun dan seorang perempuan lanjut usia berusia 84 tahun, serta melukai beberapa lainnya, termasuk pastor paroki. Israel berdalih peristiwa itu disebabkan oleh “peluru nyasar.” Gereja Baptis Gaza dan Gereja Santo Porphyrius juga pernah menjadi sasaran serangan serupa.
Komite Tinggi Urusan Gereja menutup pernyataannya dengan seruan mendesak agar gereja-gereja dan lembaga Kristen di seluruh dunia mengambil langkah politik, hukum, dan media untuk menghentikan pelanggaran ini. “Melindungi gereja-gereja Palestina merupakan tanggung jawab kolektif sekaligus amanah sejarah,” tegas mereka.
Sumber:
https://www.#/20250816-palestine-sounds-alarm-about-unprecedented-israeli-assault-on-churches/
https://www.newarab.com/news/israel-eradicating-christian-presence-palestine








