“Perang Israel melawan warga Palestina di Gaza kini merupakan salah satu perang yang paling mematikan dan paling merusak dalam sejarah dan telah menyebabkan serangkaian pelanggaran berat terhadap anak-anak,” kata CEO Save the Children hari ini. LSM tersebut menyerukan agar semua pihak yang terlibat dimasukkan dalam daftar pelaku pelanggaran berat terhadap anak dalam konflik bersenjata.
“Anak-anak di Gaza telah dibunuh dan menjadi cacat oleh pasukan Israel dengan tingkat dan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Inger Ashing. “Sekitar 12.400 anak terbunuh dan ribuan lainnya ‘hilang’, diperkirakan terkubur di bawah reruntuhan, kematian mereka tidak diketahui.”
Ashing mengatakan bahwa 100 anak-anak Palestina telah terbunuh di Tepi Barat yang dijajah sejak agresi dimulai pada 7 Oktober. Pejabat LSM tersebut menekankan bahwa penghancuran sekolah dan rumah sakit yang dilakukan Israel di Gaza telah menjadi hal yang biasa, bukan pengecualian, dan anak-anak telah menderita kerugian mental dan fisik yang tak terhitung banyaknya.
“Para orang tua di Gaza telah memberi tahu kami tentang gejala tekanan emosional dan trauma ekstrem pada anak-anak mereka, termasuk ketakutan, pola makan yang tidak teratur, mengompol, dan rasa was was berlebihan. Banyak anak menjadi cacat, menderita luka-luka yang mengubah hidup mereka, dan sebagian besar dari mereka tidak dapat memperoleh perawatan dasar atau manajemen rasa sakit karena sistem kesehatan yang hancur.”
Dewan Keamanan PBB telah mengidentifikasi enam pelanggaran berat terhadap anak-anak dalam situasi konflik bersenjata: pembunuhan dan pencacatan terhadap anak-anak; perekrutan atau penggunaan anak-anak dalam angkatan bersenjata dan kelompok; pemerkosaan dan bentuk kekerasan seksual lainnya terhadap anak; penculikan anak-anak; serangan terhadap sekolah dan rumah sakit; serta larangan bantuan kemanusiaan.
Pasokan penyelamatan nyawa yang menjadi andalan keluarga di seluruh Gaza yang diterjukan secara bertahap atau secara langsung pun ditolak oleh Israel, tambah Ashing. “Secara bersamaan, beberapa layanan penting telah hancur. Meskipun jumlah anak yang tewas akibat agresi terus meningkat. Kemungkinan jauh lebih banyak yang akan tewas karena kelaparan dan penyakit daripada karena pengeboman.”
Menggambarkan serangan Israel selama lima bulan sebagai “bencana besar”, ia mencatat bahwa perluasan operasi militer apa pun yang dilakukan Israel di Rafah kemungkinan akan menjadi babak paling fatal bagi anak-anak dan keluarga. “Lebih dari separuh penduduk Gaza, termasuk lebih dari 610.000 anak-anak, berdesakan di sebidang tanah yang tidak dapat menampung atau menopang kehidupan mereka. Tidak ada tempat di Rafah yang dapat digunakan untuk berlindung dari bom. Singkatnya, anak-anak terjebak. Jika terjadi agresi di Rafah, maka tidak dapat dihindari akan terjadi peningkatan signifikan dalam pelanggaran berat terhadap anak-anak, yang telah terjadi pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.”
Mereka yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawaban, desak CEO Save the Children. “Semua pihak yang berkonflik harus dimasukkan dalam daftar pelaku pelanggaran berat terhadap anak-anak dalam konflik bersenjata dan berkomitmen untuk mengambil tindakan segera guna menjamin perlindungan anak-anak.” Akuntabilitas, jelasnya, penting untuk mengakui kesalahan serius yang dilakukan terhadap anak-anak, memutus siklus kekerasan dan mencegah pelanggaran lebih lanjut, serta membangun kembali masyarakat damai berdasarkan supremasi hukum.
“Serangan ke Rafah ibarat menandatangani surat perintah kematian bagi anak-anak Gaza,” pungkasnya. “Negara-negara anggota PBB tidak boleh mengabaikan tanggung jawab individu dan kolektif mereka untuk bertindak dan melindungi tanpa penundaan. Harus ada gencatan senjata sekarang. Tidak ada alternatif lain.”
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








