Jenin, kota Palestina yang terletak di bagian paling utara Tepi Barat ini, sangat terkenal dengan julukan kota perlawanan. Stigma yang melekat padanya tersebut membuat berita tentang Jenin seakan-akan selalu dipenuhi desing peluru, kepulan asap, dan debu dari bekas-bekas peperangan. Tapi di sisi lain, Jenin pun sama seperti kota-kota lainnya, ia memiliki kehidupan dan suasana khas yang membuat rindu siapa pun yang pernah singgah di sana.

Kota Jenin terletak di lereng bukit, dikelilingi kebun berisi pepohonan ara dan palem yang menghijau. Jenin telah menjadi pusat perdagangan utama untuk kota dan desa yang terletak di bagian utara, sehingga tak heran apabila daya tarik utamanya adalah pasar-pasar berwarna-warni yang selalu ramai oleh pengunjung. Pasar telah menjadi pusat aktivitas di Jenin, dengan kios-kios yang berjejer di jalanan lebar serta gerobak yang memamerkan hasil bumi yang ditumpuk tinggi.
Menjadi kota yang terkenal sebagai tempat lahirnya gerakan-gerakan perlawanan, Jenin tentunya memiliki sejumlah situs bersejarah. Ada Teater Kebebasan (Freedom Theatre), pusat seni dan drama di kamp pengungsian Jenin yang biasa menampilkan kisah-kisah penduduk Jenin di bioskop. Di Jenin juga terdapat monumen yang dikenal dengan sebutan ‘Not To Forget Association’, yang disebut demikian untuk mengenang para pejuang yang telah gugur serta sebagai pengingat bagi orang-orang yang tinggal di kamp pengungsi bahwa pada suatu hari nanti mereka akan kembali ke rumah mereka.
Meskipun catatan sejarah menunjukkan bahwa Jenin merupakan kota pertama di Palestina yang terlepas dari penjajahan Israel pada November 1995, Perjanjian Oslo hanya bertindak seperti pemain bola yang mengoper Jenin dari jajahan Israel ke Otoritas Palestina. Pada kenyataannya, hingga hari ini, Jenin masih sering menjadi sasaran pembantaian Israel, baik oleh pasukan tentara maupun oleh pemukim ilegal. Salah satu serangan terburuk yang menimpa Jenin baru saja terjadi pada awal bulan ini, menambah daftar tragedi yang menimpa Jenin dan penduduknya yang telah berulang kali terjadi sejak bertahun-tahun lalu.
Serangan Terbesar di Tepi Barat

“Mereka tidak memiliki belas kasihan kepada siapa pun,” demikian Odai Alaqmeh (20) menggambarkan serangan pasukan Israel ke Jenin pekan lalu. “Mereka menembakkan peluru tajam ke dalam rumah kami, kemudian memisahkan laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Mereka terus meneriaki kami: ‘Kalian harus pergi dalam lima menit!’, tapi tentara yang datang semakin banyak dan mereka tidur di rumah kami.”
“Kami belum makan apa pun sejak kemarin, mereka hanya memberi kami air,” tambah Alaqmeh. Ia kemudian menceritakan bahwa pada malam harinya, pasukan Israel juga masih menembakkan rudal dari atap rumah mereka, membuat tanah terasa berguncang. “Rudal menabrak bangunan yang terletak di depan rumah kami, membuatnya terbakar. Apinya masih menyala,” katanya.
Operasi militer Israel di Jenin pekan lalu merupakan yang terbesar sejak Intifada kedua tahun 2000–2005, ungkap Al Jazeera. Sejak tanggal 3 hingga 5 Juli 2023, pasukan Israel membombardir kota dan kamp pengungsi Jenin yang menampung 14.000 orang, dengan serangan darat dan udara. Sebanyak 12 orang tewas akibat serangan tersebut, termasuk 5 anak-anak, sedangkan lebih dari 120 penduduk dilaporkan luka-luka, dengan 20 di antaranya masih dalam kondisi kritis. Jumlah korban bisa jadi akan terus bertambah, sebab Israel memperburuk kondisi mereka dengan mengeluarkan larangan bagi ambulans untuk menolong korban yang terluka.
Tentara Israel mengungkapkan bahwa mereka telah menginterogasi 100 warga Palestina, menyebutnya sebagai operasi militer dengan kode “House and Garden”. Israel juga dilaporkan telah melakukan 15 serangan udara menggunakan helikopter tempur dan pesawat pengintai, yang pertama kali mereka gunakan kembali setelah 20 tahun. Serangan teknologi mengerikan tersebut dibarengi dengan invasi darat yang melibatkan 150 kendaraan militer lapis baja (termasuk tank dan buldoser) serta 1.000 pasukan elit khusus. Sejumlah penembak jitu juga ditempatkan di atap rumah warga Palestina di pinggiran kamp, yang terletak di tengah kota, di utara Jenin.

Mohammed Kamanji, seorang pengacara Komisi Independen untuk Hak Asasi Manusia dan penduduk kamp tersebut, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa penggunaan helikopter tempur menunjukkan kenaikan tingkat penyerangan dan kejahatan terhadap warga sipil. “Ini adalah tahap penting yang telah berkembang dari mengobarkan perang melawan sejumlah kecil pejuang dengan persenjataan sederhana, menjadi penargetan sekaligus penghancuran infrastruktur dan rumah dengan mengabaikan kehidupan manusia,” katanya.
Dalam operasi terbaru ini, rentetan serangan udara dari pesawat tak berawak dan helikopter tempur mengindikasikan perubahan taktik Israel dalam menghadapi munculnya pejuang perlawanan lintas faksi Palestina selama dua tahun terakhir, kata para ahli. “Sebelumnya, pengintaian dan drone satelit digunakan untuk mengumpulkan intelijen dan serangan Israel di lapangan akan dilakukan berdasarkan itu,” kata Kamanji.
Ia kemudian melanjutkan, “Sekarang, mereka menambahkan penembakan untuk mengubah sifat konfrontasi dengan para pejuang perlawanan di Jenin dan untuk menyelesaikan pertempuran dengan cara yang lebih cepat. Ini bukan hanya tentang merusak properti atau membunuh pejuang, melainkan juga ada aspek perang psikologis terhadap penghuni kamp, terutama anak-anak.”
Israel Senang Membunuh Anak-Anak

“Pasukan Israel senang membunuh anak-anak,” demikian pernyataan Anjana Gadgil, seorang presenter BBC, ketika mewawancarai Mantan Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett, mengenai serangan di Jenin pekan lalu yang menewaskan 12 orang, termasuk 5 anak-anak. Gadgil membuka wawancara dengan mengatakan, “Militer Israel menyebut ini sebagai operasi militer, tapi kami sekarang tahu bahwa anak-anak muda dibunuh, empat di antaranya berusia di bawah 18 tahun,” kata Gadgil. “Apakah itu yang benar-benar ingin dilakukan oleh militer, untuk membunuh anak berusia antara 16 dan 18 tahun?”

Bennett kemudian menjawab pertanyaan tersebut dengan mengatakan: “Sebenarnya, 11 orang yang tewas di sana adalah militan. Fakta bahwa ada teroris muda yang memutuskan untuk mengangkat senjata adalah tanggung jawab mereka. Jenin telah menjadi pusat teror. Semua warga Palestina yang tewas adalah teroris dalam kasus ini.” Lantas Gadgil kemudian merespon pernyataan tersebut dengan pertanyaan, “Teroris, tapi anak-anak. Pasukan Israel senang membunuh anak-anak?”
Bennett–tokoh Israel yang terkenal dengan perkataan Saya telah membunuh banyak orang Arab dalam hidup saya, dan tidak ada masalah dengan itu–menjawab, “Anda tahu, sungguh luar biasa Anda mengatakan itu, karena mereka membunuh kami.” Dia kemudian mengklaim bahwa operasi di Jenin diperlukan untuk “melindungi” orang Israel. “Kami tidak menargetkan warga sipil. Mereka [Palestina] yang justru menargetkan warga sipil.”
Berbanding terbalik dengan pembelaan diri yang dinyatakan oleh Bennett, LSM Pertahanan untuk Anak Internasional-Palestina (DCIP) membuka data bahwa, “35 anak Palestina telah dibunuh oleh Israel pada tahun 2023. Pasukan Israel telah menembak dan membunuh setidaknya 26 anak Palestina dan membunuh dua anak Palestina dengan serangan pesawat tak berawak yang ditargetkan di Tepi Barat.”
Terdesak oleh fakta-fakta yang disebutkan oleh Gadgil melalui pertanyaan retorisnya, Bennett lantas memilih untuk mengambil jalan pintas: mengunggah video wawancara tersebut di media sosial disertai caption yang menggiring opini, berusaha mengambil hati para pendukung Zionis. Bennett memposting klip wawancara BBC di akun Twitter-nya, kemudian menulis, “Pembawa berita BBC berani mengklaim bahwa tentara Israel senang membunuh anak-anak.”
Dan benar saja, setelah wawancara tersebut, para pendukung Israel dan organisasi Yahudi pro-apartheid di Inggris segera meluncurkan kampanye melawan pembawa berita itu, menuduhnya bias dan melanggar aturan ketidakberpihakan BBC. Keluhan resmi telah diajukan ke stasiun BBC yang menuntut permintaan maaf atas “bahasa” yang digunakan oleh Gadgil.
BBC yang tersudutkan oleh banyaknya protes yang dilayangkan ke mereka pun akhirnya memutuskan untuk buka suara. “Keluhan yang diajukan terkait dengan pertanyaan wawancara khusus tentang kematian anak muda di kamp pengungsi Jenin,” kata juru bicara BBC. “Perserikatan Bangsa-Bangsa mengangkat masalah dampak operasi di Jenin pada anak-anak dan remaja. Meskipun ini adalah subjek yang sah untuk diperiksa dalam wawancara, kami mohon maaf bahwa bahasa yang digunakan dalam pertanyaan ini tidak diutarakan dengan baik, tidak tepat, dan mungkin tidak pantas.”
Tapi sebenarnya, pilihan manakah yang lebih tidak pantas, kalimat sarkas dari presenter BBC yang mengungkap fakta terorisme Israel, atau justru tindakan terorisme itu sendiri yang menargetkan anak-anak Palestina yang masih di bawah umur?
Nakba yang Terulang Kembali

Setelah 48 jam tanpa henti menyerang kota dan kamp pengungsian Jenin, pasukan Israel akhirnya memutuskan untuk mundur, meninggalkan penduduk Jenin yang terbangun dengan menyaksikan kehancuran 900 rumah di seluruh kota dan kamp pengungsian, tak terkecuali bangunan-bangunan yang merupakan fasilitas umum seperti sekolah, rumah sakit, dan rumah ibadah.
Walikota Jenin Nidal Obeidi melaporkan bahwa kendaraan militer Israel telah menghancurkan saluran air dan sistem pembuangan limbah serta jaringan listrik, juga menghancurkan Masjid Tawalbeh yang berada di tengah kamp pengungsian, dengan bom dan pesawat tempur, hingga pintu dan jendelanya rusak parah. Tak hanya itu, Israel juga menghancurkan saluran telepon dan merusak jaringan internet, dengan tujuan untuk mengisolasi kota dan kamp pengungsi dari dunia luar.
Namun, Israel bukan hanya merusak, melainkan juga berusaha mempertahankan kerusakan itu selama mungkin dengan melarang warga dan para pekerja untuk memperbaiki kerusakan parah yang melanda akibat serangan. Mereka sengaja mencegah rehabilitasi kota dan kamp pengungsi, membuat puing-puing di Jenin semakin meninggi dan debu-debu memenuhi jalanan.
Di bagian lain kota, tampak warga Jenin beramai-ramai mengadakan prosesi pemakaman bagi 12 korban yang tewas. Sejumlah pejuang yang tergabung dalam gerakan perlawanan turut hadir dalam prosesi pemakaman, memberikan penghormatan terakhir kepada para syuhada yang gugur. Pemakaman juga dihadiri oleh massa yang meneriakkan semangat perjuangan, berusaha untuk menguatkan keluarga dan orang-orang yang ditinggalkan oleh para korban.
Badan Pengungsi PBB, UNRWA, juga melaporkan bahwa kerusakan yang terjadi pasca serangan dua hari di Jenin telah mengakibatkan kekurangan makanan, air minum, dan susu, terutama untuk anak-anak. UNRWA telah menjalankan 10 instalasi yang dioperasikan oleh 90 anggota staf Agensi di kamp Jenin, namun semua instalasi UNRWA, termasuk empat sekolah dan satu pusat kesehatan, tidak dapat beroperasi akibat serangan militer skala besar tersebut.
Kepala Kamar Dagang dan Industri Jenin, Ammar Abu Bakr, juga menambahkan bahwa Jenin telah mengalami kekurangan pasokan makanan akibat pengepungan dan agresi Israel terhadap Jenin dan kamp pengungsinya. Abu Bakar mengatakan bahwa tentara pendudukan mencegah apotek dan toko roti untuk melayani konsumen, juga mencegah pedagang menyediakan bahan-bahan pokok kepada orang-orang. Tentara juga mencegah masuknya persediaan makanan melalui perlintasan Jalama, yang memperparah penderitaan dan menyebabkan menipisnya sebagian besar persediaan makanan di toko-toko, meninggalkan warga Jenin dalam kondisi lapar setelah kehilangan rumah dan harta benda.
Tapi ada yang lebih memilukan dari itu, yaitu fakta bahwa para pengungsi di kamp pengusian Jenin, yang telah menjadi rumah bagi tiga generasi, kini terpaksa harus terusir kembali dari kamp mereka. Sebanyak lebih dari 3.000 orang terpaksa pergi setelah Israel menyerang kamp dengan brutal, menyebutnya sebagai “sarang teroris”. Tragedi ini seakan mengulang kembali peristiwa Nakba, malapetaka yang melanda penduduk Palestina sejak puluhan tahun lalu.
Baca juga “Nakba, Malapetaka yang Terus Berlangsung” disini
“Ini adalah Nakba ketiga saya,” kata penduduk kamp, Afaf Bitawi (66), tentang serangan Israel pekan lalu. “Pertanyaan yang persis sama–haruskah saya meninggalkan rumah dan berisiko ditembak oleh penembak jitu, atau haruskah saya meninggalkan rumah dengan kekhawatiran bahwa buldoser akan menghancurkan rumah saya?” ungkap Bitawi, menggambarkan perasaannya selama serangan yang terjadi baru-baru ini. “Ketakutan yang sama, pertanyaan yang sama, dan trauma yang sama, kembali dalam sedetik.”
Analis politik Wasef Izraiqat mengatakan kepada Al Jazeera bahwa serangan terbaru ini adalah perpanjangan dari apa yang dilakukan oleh milisi Zionis seperti Stern, Irgun dan Haganah pada tahun 1948. “Orang-orang yang diperangi tentara Israel sekarang adalah putra dan putri dari keluarga yang diusir dari kota dan desa mereka di Palestina bersejarah – dari Haifa, Akka, dan Jaffa,” katanya.
Setelah mengusir penduduk dari rumah mereka, Israel juga mencegah mereka untuk kembali, salah satunya dengan menjadikan rumah-rumah penduduk sebagai pangkalan militer. Mereka awalnya mengusir seluruh penghuni rumah, dan saat rumah tersebut telah kosong, pasukan merusak rumah dengan membuat lubang besar yang dibor ke dinding, sebagai tempat bagi para penembak jitu untuk memperhatikan target tembakan mereka. Akibatnya, dinding rumah penduduk hancur, selongsong peluru berserakan, bahkan pasukan Israel juga menjarah makanan dan air minum di rumah mereka, tidak menyisakan apa pun selain kehancuran dan trauma yang tidak bisa diperbaiki dalam waktu singkat, atau bahkan mungkin sama sekali tidak bisa diperbaiki.



Mereka Tidak Akan Bisa Mematahkan Semangat Kami

Serangan dua hari di Jenin memang telah resmi berakhir. Namun, seperti serangan-serangan sebelumnya, luka dan trauma akibat serangan tentunya meninggalkan menganga. Bagi penduduk Jenin yang telah berulang kali menjadi korban agresi, serangan terbaru ini bagaikan menuangkan air garam di luka yang terbuka, membuat pedihnya kembali terasa bahkan berkali-kali lipat.
“Di Barat, mereka menyebutnya gangguan stres pasca-trauma, atau PTSD. Saya mempertanyakan penerapan istilah tersebut di sini karena di Palestina, kami tidak pernah berada di tahap ‘pasca’,” kata Samah Jabr, Kepala Unit Kesehatan Mental Otoritas Palestina. “Trauma itu abadi, kronis, historis, dan antargenerasi,” kata Jabr.
Lebih dari setengah orang di Tepi Barat yang berusia di atas 18 tahun tercatat menderita depresi, menurut data dari Biro Pusat Statistik Palestina. Penduduk dewasa di Jenin mengatakan kepada Al Jazeera bahwa mereka selalu dihantui oleh mimpi buruk yang sama sejak serangan militer Israel beberapa dekade yang lalu. Sedangkan para remaja, yang baru saja mengalami serangan paling agresif di masa mudanya, kini selalu meminta untuk ditemani bahkan hanya untuk ke kamar mandi dan mereka menolak untuk tidur sendirian karena ketakutan yang parah.
Beberapa LSM telah memberikan bantuan dengan menawarkan dukungan psikologis kepada keluarga atau dengan menyelenggarakan kegiatan rekreasi, terutama untuk anak-anak. Startup kesehatan mental dan kesejahteraan pertama, Hakini, bahkan diluncurkan tahun lalu untuk menanggulangi masalah trauma berkepanjangan ini.

“Israel memastikan bahwa setiap generasi memiliki trauma langsungnya sendiri – ini adalah trauma yang (sengaja) dibuat-buat,” kata Nasser Mattat, seorang psikolog di badan PBB untuk pengungsi Palestina yang memimpin respons kesehatan mental untuk anak-anak pada tahun 2002. “Banyak pejuang di kamp Jenin saat ini adalah anak-anak yang sama dengan yang mengalami trauma dua dekade lalu,” katanya.
Tapi Jenin, dan kota-kota lainnya di Palestina, bukanlah tempat bagi orang-orang yang putus asa. Jenin adalah kota pejuang, yang penduduknya dikenal dengan perlawanan dan ketangguhannya. “Pesan kami kepada dunia dan pendudukan adalah kamp ini akan terus berjalan,” kata Ahmed Abu Hweileh (56), seorang penghuni kamp pengungsi Jenin. “Mereka mencoba untuk menghancurkannya namun kami tetap akan muncul kembali,” katanya dengan yakin.
Mohammad Obaid (33), penduduk Jenin lainnya, juga menambahkan bahwa tentara Israel menghancurkan tugu peringatan untuk para pejuang yang terbunuh di dekat rumahnya. “Itu sangat mengganggu mereka – mereka mencoba menghapus gambar (para martir di tugu peringatan) tetapi mereka tidak pernah bisa,” katanya.
Beberapa penduduk lainnya juga menyatakan bahwa mereka melihat militer Israel menargetkan jalan dan infrastruktur publik lainnya dengan harapan hal ini akan membuat penduduk kamp menekan para pejuang perlawanan untuk menyerah. “Tapi itu tidak akan pernah terjadi, tidak ada satu orang pun yang akan menekan perlawanan, bahkan jika mereka menghancurkan semua rumah,” kata Mansour.
Sesuai dengan julukan yang disematkan padanya, Jenin adalah Kota Perlawanan yang diisi oleh para pejuang bermental baja. Teater Kebebasan yang berdiri di dalamnya seakan menjadi pusat untuk saling menguatkan tekad melawan penjajahan, untuk bisa mencapai kebebasan seperti namanya. Di Jenin juga masih berdiri Monumen Kenangan, yang hingga saat ini masih menanti para pengungsi yang terusir untuk kembali ke tanahnya, membangun lagi rumah untuk mereka tinggali selamanya, yang semoga suatu hari nanti julukannya akan berubah dari ‘Kota Perlawanan’, menjadi ‘Kota Kebebasan’.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.
Sumber:
https://www.aljazeera.com/opinions/2023/7/11/lets-talk-about-jenin
https://www.aljazeera.com/news/2023/7/6/how-israel-used-palestinian-homes-bases-jenin
https://www.aljazeera.com/opinions/2023/7/8/why-the-western-media-lied-about-israels-jenin-siege
https://www.aljazeera.com/news/2023/7/5/why-did-israel-use-helicopter-gunships-on-jenin-refugee-camp
https://www.aljazeera.com/news/2023/7/4/no-mercy-palestinians-describe-israels-deadly-raid-on-jenin
http://www.womenfpal.com/news/2023/7/6/جنين-ت-حصي-خسائر-يومين-من-عدوان-الاحتلال
https://www.middleeasteye.net/news/israel-jenin-displaced-gunpoint-residents-return-homes-ruins
https://www.#/20230705-israel-forces-are-happy-to-kill-children-bbc-anchor-tells-israels-bennett/
https://www.#/20230712-900-palestinians-homes-damaged-in-israel-attack-on-jenin/
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








