Diabetes umumnya dialami oleh orang dewasa. Namun, tak menutup kemungkinan anak juga bisa terkena penyakit kronis satu ini. Berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), tercatat sebanyak 1.645 anak dari 15 kota di Indonesia yang mengidap diabetes. Angka ini diprediksi meningkat 70 kali lipat dibandingkan tahun 2010. Ketua Unit Kerja Koordinasi Endokrinologi IDAI Muhammad Faizi mengatakan bahwa dari angka yang tercatat saat ini, sebanyak 90% anak mengidap diabetes tipe-1. Sementara 10% lainnya mengidap diabetes tipe-2.
Diabetes tipe-1 adalah bentuk diabetes yang jarang terjadi yang ditandai dengan kegagalan pankreas untuk memproduksi insulin karena kelainan pada sistem kekebalan tubuh. Diabetes jenis ini umumnya merupakan bawaan penyakit sejak lahir. Sebagian besar kasus diabetes tipe 1 pada anak terjadi pada mereka yang berusia 10–14 tahun (46%), 5–9 tahun (31.05%), dan 0–4 tahun (19%). “Bahkan yang baru lahir, itu sudah kena diabetes. Bayi enam bulan kena diabetes di data kita itu ada,” kata dia. Sementara diabetes tipe-2 disebabkan oleh kelenjar pankreas yang tak mampu mencukupi kebutuhan insulin pada tubuh. Akibatnya, insulin tidak berfungsi dengan optimal.
Bayi yang lahir prematur layak mendapat perhatian lebih karena mereka berisiko mengidap diabetes. Hal ini dibenarkan oleh dokter anak subspesialis endokrinologi Aman B. Pulungan. “Bayi prematur, bayi yang berat badan lahir rendah, ketika dia obesitas, dia lebih berisiko diabetes ketimbang bayi dengan berat badan lahir normal [dan non prematur],” kata Aman dalam wawancara virtual bersama awak media, Rabu (8/2).
Bayi lahir prematur harus benar-benar dijaga pertumbuhan berat badannya. Jika dalam perkembangannya si anak mengalami obesitas, diabetes mungkin hanya tinggal selangkah lagi. Tak hanya prematur, berat badan bayi saat lahir juga turut menentukan risiko anak terkena diabetes. “Risiko diabetes meningkat pada bayi di atas 4 kilogram dan di bawah 2,5 kilogram, tapi dengan syarat pas jadi obesitas. Diabetesnya bukan tipe 1,” imbuh Aman. Orang tua perlu memperhatikan kurva berat badan anak sesuai usia. Selama berat badan terkontrol dan sesuai usia, risiko diabetes bisa diturunkan.
Salah satu cara mencegah diabetes pada anak adalah dengan mencegah anak mengalami obesitas dan pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif untuk si kecil. “Satu upaya dalam menurunkan risiko diabetes adalah dengan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan,” ujar dokter spesialis gizi klinis Juwalita Hapsari, Senin (6/2). Menurut Juwalita, ASI adalah makanan ’emas’ yang memiliki banyak manfaat luar biasa. Manfaat ini didapat berkat kandungan gizi dalam ASI yang melimpah seperti karbohidrat, protein, immunoglobulin, vitamin, dan mineral.
Ia juga menambahkan bahwa komposisi pada ASI akan mengikuti perkembangan dan pertumbuhan usia bayi. Hal ini dapat mencegah penyakit obesitas pada bayi yang berujung pada pemicu diabetes. Selain diabetes, bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif juga rentan mengalami infeksi, baik yang menyerang sistem pencernaan dan pernapasan.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








