(Tulisan ini merupakan artikel H. Roeslan Abdulghani, dimuat di dalam surat kabar Merdeka, 5 April 1980 dengan judul “Jiwa anti-Zionisme Bandung dan Situasi Internasional Sekarang”. Artikel ini kembali ditulis–dengan sedikit penyesuaian bahasa–untuk mengingat posisi Indonesia dalam memandang penjajahan atas Palestina)
“In view of the existing tension in the Middle East, caused by the situation in Palestine and of the danger of that tension to world peace, the Asian-African Conference declared its support of the rights of the Arab people of Palestine and called for the implementation of the UN-resolutions on Palestine and the achievement of the peaceful settlement of the Palestine question.”
“Mengingat adanya ketegangan di Timur Tengah yang disebabkan oleh situasi Palestina dan adanya bahaya bagi perdamaian dunia, Konferensi Asia Afrika menyatakan dukungannya kepada hak bangsa-bangsa Arab di Palestina, dan menyerukan dilaksanakannya segala resolusi PBB tentang Palestina, dan dicapainya penyelesaian secara damai dari soal Palestina.” (Komunike Akhir Konferensi AA, Bandung, 24 April 1955)[1]
“Zionist expansionist aspirations are limitless!”
“Nafsu ekspansionisme kaum Zionis adalah tanpa batas!” (Alfred M. Lilienthal, The Zionist Connection, 1978)
Konferensi Tingkat Tinggi Asia–Afrika (disingkat KTT Asia Afrika atau KAA; kadang juga disebut Konferensi Bandung) adalah sebuah konferensi antara negara-negara Asia dan Afrika, yang kebanyakan baru saja memperoleh kemerdekaan. Persamaan nasib melahirkan persatuan tindakan dan rasa. Demikian pula dengan pergerakan kemerdekaan di antara negara-negara di benua Asia dan Afrika. Persamaan nasib itu kelak mewujudkan Solidaritas Rakyat Asia Afrika yang lahir 68 tahun silam dalam Konferensi Asia Afrika yang dibuka Presiden Soekarno tepat pada 18 April 1955 di Gedung Merdeka, Bandung.
Zionisme: babak paling hitam dalam sejarah kemanusiaan pada masa modern
Salah satu jiwa pokok dari Konferensi Bandung adalah anti-zionisme. Ini tidak boleh dilupakan dalam perjuangan melawan kolonialisme, sebab pada hakikatnya zionisme adalah salah satu bentuk dan manifestasi dari nafsu untuk merampas tanah air bangsa lain. Karena cara-cara yang teroritis dan kejam itu, zionisme dapat dikatakan sebagai kolonialisme yang paling jahat pada zaman modern sekarang ini. Terutama karena zionisme menerapkan rasialisme dan didukung oleh kekuatan-kekuatan internasional yang berjiwa reaksioner, baik dari kalangan Yahudi di Eropa Barat maupun di Amerika.
Itulah sebabnya, di forum Konferensi Bandung, zionisme dikecam oleh banyak delegasi sebagai the last chapter in the book of old colonialism, and one of the blackest and darkest chapter in human history (babak akhir dari kolonialisme lama, dan merupakan babak baru yang paling hitam dan paling gelap dalam sejarah kemanusiaan dewasa ini). Betapa tidak! Israel yang didirikan pada 1948, tidak hanya merampas tanah air rakyat Palestina, tetapi juga mengusir penduduk aslinya dengan teror dan kekerasan dari kampung halamannya. Sebelum dan bersamaan dengan perampasan dan pengusiran itu, berbondong-bondong datanglah kaum Zionis dari Eropa Timur, Eropa Tengah, Eropa Barat, dan Amerika, ke Palestina untuk mendirikan apa yang oleh Deklarasi Balfour, pada November 1917, dinamakan sebagai a national home for the Jewish people (perumahan nasional bagi orang Yahudi). Namun, Zionis dengan sengaja melupakan bahwa Deklarasi Balfour itu juga menegaskan nothing shall be done which may prejudice the civil religious rights of non-Jewish communities in Palestine (semua itu sekali-kali tidak boleh merugikan hak sipil dan keagamaan kelompok-kelompok masyarakat non-Yahudi).
Dan selama 7 tahun, antara berdirinya negara Zionis pada tahun 1948 sampai menjelang Konferensi Bandung pada tahun 1955, Israel terus mengganas. Fungsi sejarah yang ditugaskan oleh gerakan zionisme internasional rupanya tidak lain untuk memecah-belah, dan dengan demikian menahan kebangkitan nasionalisme Arab. juga menghalang-halangi majunya dunia Islam. Semuanya itu dengan latar belakang agar dapat lebih mudah menguasai dan mengawasi sumber-sumber minyak Timur Tengah, dan mengamankan lalu lintas maritim dunia Barat di sekitar Terusan Suez yang strategis sangat vital itu.
Selama 7 tahun itu, ratusan ribu, malahan sampai lebih dari satu juta rakyat Palestina diteror keluar dari tanah air dan kampung halaman. Mereka menjadi pengungsi ke Suriah, Yordania, dan Mesir. Tentang nasib tragis para pengungsi itu, kita dapat membaca dari laporan-laporan tahunan UNRWA (United Nations Relief and Works Agency atau Biro Bantuan dan Pekerjaan PBB). Selain itu, dalam kurun waktu yang sama Israel memperluas daerah rampasannya di daerah Negev, Gaza, Galilee, sampai ke sebagian kota suci Al-Quds (Yerusalem).
Pro-Zionisme paralel dengan prokolonialisme
Di antara tahun 1948–1955, puluhan resolusi telah ditetapkan oleh PBB, yang mendesak supaya Israel menghentikan teror dan agresinya. Resolusi-resolusi itu ada yang datang dari Majelis Umum, Dewan Keamanan, dan juga dari Dewan Ekonomi-Sosial, serta dari Dewan Perwalian (Trusteeship Council). Zionis Israel tetap kepala batu. Malahan Pangeran Folke Bernadotte, dari Komisi Perdamaian PBB untuk masalah Palestina, dibunuh oleh kaum teroris mereka. Zionis Israel mengandalkan bantuan zionisme internasional, yang dapat memengaruhi negara-negara dunia Barat, terutama Amerika, untuk selalu membela sikap bandel Israel di forum PBB. Jiwa pro-Zionis paralel berjalan dengan jiwa prokolonialisme.
Oleh karena itu, tidak mengherankan, bahwa jiwa antikolonialisme Konferensi Bandung juga berjalan paralel dengan jiwa anti-Zionisme. Secara otomatis Forum Bandung merupakan juga forum pendukung perjuangan rakyat Palestina, sekaligus forum yang memperkuat segala resolusi PBB tentang Palestina. Forum Bandung akan kehilangan esensi dan identitasnya kalau ia tidak bernapas anti-Zionisme.
Selain pemimpin-pemimpin negara Arab dan Islam sudah merdeka, maka pada Konferensi Bandung datang juga Mufti Besar Amin El-Husaini dari Al-Quds, Palestina; pejuang-pejuang kemerdekaan dari daerah Maghribi, Afrika Utara, seperti Salah Ben Yusuf dari Partai Neo Destour Tunisia, Allal El Fassi dari Maroko, Husein Ait Ahmad dan Yazid dari Aljazair, bersama-sama dengan kawan-kawannya seperti Rasheed-Dress, Brahimi, dan lain-lain. Semua menghadirkan sikap hidup di forum Bandung tentang menyala-nyalanya semangat anti-Zionisme dan antikolonialisme di Timur Tengah dan daerah Maghribi (Maroko).
Fatmah Ayudhia Amani, S.Ag
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan Diploma in Islamic Early Childhood Education, International Islamic College Malaysia dan S1 Tafsir dan Ulumul Qur’an, STIU Dirosat Islamiyah Al Hikmah, Jakarta.
Referensi
Abdulgani, Roeslan, Haji. 1987. Indonesia Menatap Masa Depan. Jakarta: Pustaka Merdeka.
Sumber bacaan di dapat dari Pusat Dokumentasi Islam Indonesia Tamadun
- Dr. H. Roeslan Abdulgani. 2011. The Bandung Connection Konperensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955. DIPA Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia. Hal.224. ↑
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








