Tidak Ada Ruang untuk Masa Depan
“Saya merasa seperti jiwa saya meninggalkan saya,” kata Aisha Abu Obeid, ibu dari 7 orang anak di Jalur Gaza, ketika ia membaca pesan yang masuk di ponselnya. Pesan tersebut dikirimkan oleh Program Pangan Dunia PBB (WFP), yang mengabarkan bahwa bantuan pangan untuk keluarganya akan dihentikan pada bulan Juni. “Voucher ini digunakan untuk menutupi kebutuhan pangan bulanan keluarga saya. Saya selalu menantikannya setiap awal bulan,” ia mengatakan dengan putus asa.

Aisha mengatakan bahwa selama satu setengah tahun, keluarganya telah menerima voucher makanan dari WFP senilai $108 per bulan, yang mencakup kebutuhan dasar makanan dan sayuran. Bagi keluarga seperti Aisha, bantuan tersebut adalah kebutuhan yang sangat penting bagi keluarganya untuk bisa bertahan hidup di tengah blokade yang mencekik Jalur Gaza. Oleh karena itu, tidak berlebihan apabila Aisha mengatakan hidupnya terasa telah usai setelah menerima pesan penghentian bantuan pangan dari WFP.
Pada 11 Mei 2023, World Food Program (WFP), badan yang memberikan bantuan makanan kepada warga Palestina nonpengungsi yang rentan dengan bekerja sama dengan Kementerian Pembangunan Sosial dan Yayasan Asosiasi Internasional, membuat pernyataan yang mengejutkan. Alia Zaki, juru bicara WFP menjelaskan bahwa pada awal Mei, program tersebut telah mengurangi nilai kupon yang diberikan per orang di wilayah Palestina, dari $12,4 menjadi $10,3.
“Pengurangan ini diberlakukan bagi seluruh penerima manfaat program di Wilayah Palestina,atau sebanyak 275.000 orang,” katanya. Mulai Juni, bantuan akan dipotong lagi hingga 60 persen dari penerima manfaat program, yaitu bagi sekitar 200.000 orang di wilayah Palestina, menurut pejabat PBB. Bantuan akan terus diberikan kepada pihak yang paling rentan hingga Agustus, kemudian layanan akan sepenuhnya ditangguhkan di wilayah Palestina jika tidak ada dana yang diterima. Zaki mengindikasikan bahwa WFP membutuhkan $51 juta untuk mempertahankan bantuan makanan dan uang tunai yang diperlukan di Palestina hingga akhir tahun 2023.
“Ada kesulitan besar untuk terus memberikan bantuan pangan di Wilayah Palestina karena kurangnya dana, yang mendorong program harus mengambil keputusan yang sulit ini,” kata Zaki. “Sejak pengumuman keputusan ini, belum ada perkembangan positif untuk bisa membalikkan keadaan,” tambahnya. Pemotongan bantuan juga akan memengaruhi 300 toko lokal yang dikontrak dengan program tersebut di wilayah Palestina. Seorang juru bicara Kementerian Pembangunan di Gaza, Aziza Al-Kahlout, menambahkan bahwa sekitar 23.300 warga Gaza yang mendapat manfaat dari bantuan pangan melalui Kementerian juga akan terpengaruh akibat keputusan tersebut.
“Saat-saat putus asa menghendaki tindakan putus asa,” Samer Abdeljaber, perwakilan WFP dan direktur negara di Palestina, juga angkat suara. “Kami tidak punya pilihan selain memperluas sumber daya terbatas yang kami miliki untuk memastikan bahwa kebutuhan keluarga yang paling rentan terpenuhi. Mereka akan kelaparan tanpa bantuan makanan.” Abdeljaber menambahkan, “Keluarga rentan di Gaza dan Tepi Barat telah terdesak oleh efek gabungan dari meningkatnya ketidakamanan, ekonomi yang memburuk, dan meningkatnya biaya hidup yang mendorong ketidakamanan pangan,” katanya.
Abdeljaber juga menguraikan bahwa sekitar 1,84 juta warga Palestina, atau 35 persen dari populasi Palestina, tercatat tidak memiliki cukup makanan. “Kami mendesak para donor pemerintah dan sektor swasta untuk melanjutkan dukungan mereka kepada WFP selama masa sulit ini,” kata Abdeljaber. “Dukungan donor yang berkelanjutan telah memungkinkan kami untuk menyediakan sumber kehidupan bagi warga Palestina serta membangun solusi pangan berkelanjutan di Palestina. Kami membutuhkan sekarang, lebih dari sebelumnya, untuk memastikan bahwa pekerjaan kami ini tidak akan berhenti.”


Nahas, hanya berselang beberapa hari setelah menerima pesan WFP di ponselnya, rumah keluarga Aisha hancur dalam agresi terbaru di Jalur Gaza. Pada sore hari, 13 Mei 2023, Aisha sedang duduk bersama anak-anaknya ketika dia mendengar teriakan dari luar rumah. Orang-orang kemudian menyeru mereka untuk segera mengungsi dari rumah. “Saya sangat ketakutan. Saya keluar untuk melihat kerabat kami yang juga telah meninggalkan rumah mereka. Mereka mengatakan kepada saya bahwa rumah di seberang kami telah diperingatkan untuk dibom,” ia menjelaskan. “Saya segera mengumpulkan anak-anak dan kami melarikan diri ke rumah kerabat.” Setelah rumah mereka diledakkan, Aisha bersama suami dan anak-anaknya sempat kembali ke rumah, namun mereka hanya mendapati sebagian besar rumah itu telah hancur menjadi puing-puing.
“Saya merasa sangat sedih,” kata Aisha dengan air mata berlinang. “Saya merasa bahwa dunia telah runtuh di depan wajah kami. Kami tidak lagi memiliki sumber pendapatan, kami kehilangan kupon makanan, yang hampir tidak dapat menutupi kebutuhan makan anak-anak, dan sekarang kami juga kehilangan rumah.” Aisha mengakui bahwa selama 14 tahun menikah, ia mengatakan yang paling membuatnya sedih adalah ketidakmampuannya untuk merencanakan masa depan anak-anaknya. “Kami di sini pontang-panting mencari nafkah dari hari ke hari. Tidak ada ruang untuk masa depan.” “Ke mana kami akan membawa diri kami sendiri dalam hidup ini?” tanyanya dengan suara marah.


Aisha dan suaminya bukanlah orang yang tidak berpendidikan. Aisha adalah seorang lulusan sejarah dan suaminya Suliman telah meraih gelar dalam bidang konseling psikologis. Tapi mencari pekerjaan yang layak di Gaza nyaris sama sulitnya dengan mencari makanan yang layak untuk keluarga mereka. Tingkat pengangguran di Gaza mencapai 45,3 persen tahun ini, dengan kata lain, sebanyak dua dari tiga orang harus berjuang sangat keras untuk bisa membeli makanan. “Tidak ada kesempatan kerja bagi anak muda dan fresh graduate,” kata Suliman, yang kini mencoba mencari pekerjaan paruh waktu di bidang konstruksi, pertukangan, atau sebagai kuli angkut, karena hanya itu pilihan yang ia punya untuk membiayai hidupnya dan keluarganya.
Di Jalur Gaza, secerdas apa pun seseorang dan setinggi apa pun ia mengenyam pendidikan, pilihan pekerjaan yang tersedia tetaplah sangat terbatas akibat blokade Israel yang membuat roda perekonomian di Gaza berhenti berputar. Mohsen Abu Ramadan, seorang peneliti dalam urusan pembangunan, mengatakan bahwa setiap tahun, antara 12.000 hingga 15.000 lulusan universitas menganggur. Ia juga menambahkan bahwa keputusan WFP terkait penghentian bantuan pangan “tidak dapat dibenarkan”. Ramadan yakin keputusan ini mencakup “dimensi politik yang tidak hanya terkait dengan krisis keuangan, terutama mengingat pemberian bantuan yang berkelanjutan di negara lain yang juga menderita krisis kemanusiaan.”
Menurut Euro-Mediterranean Human Rights Monitor, sebanyak 61,6 persen penduduk Gaza, atau sekitar 2,3 juta orang, telah hidup dalam kemiskinan akibat tingkat pengangguran yang mencapai sekitar 47 persen pada akhir tahun 2022. Pusat Hak Asasi Manusia Palestina (PCHR) juga menyatakan keprihatinannya tentang keputusan WFP, dan menyatakan bahwa hal itu akan berdampak buruk bagi kehidupan kelompok sosial yang rentan di Jalur Gaza, yang lebih dari separuh populasinya menderita kemiskinan, sementara 64,4 persen lainnya menderita kerawanan pangan, menurut PCHR.

“Saya harap keputusan yang mengancam ini akan dipertimbangkan lagi,” kata Aisha. “Saya hampir gila ketika memikirkan bagaimana saya akan memberi makan ketujuh anak saya.” Aisha menambahkan bahwa ia dan keluarganya saat ini terpaksa tinggal di rumah kontrakan sampai rumah mereka yang hancur selesai direnovasi. “Kami meninggalkan rumah kami hanya dengan pakaian kami. Kami kehilangan semua perabot dan barang-barang kami,” kata Suliman. “Selamat datang di kehidupan di Gaza,” katanya. “Ketika kelaparan, kemiskinan, dan penyerangan bersatu.”
Hari Berkabung yang Datang Tiba-Tiba

Di sebuah rumah bobrok di Kamp Jabalia di Jalur Gaza utara, Samah al-Qanou (45) juga menerima pesan “mengejutkan” dari WFP. Sama seperti Aisha, pesan tersebut memberitahukan bahwa kupon makanan bulanannya telah dipotong. “Saya telah menerima voucher ini selama 10 tahun. Ini meringankan beban saya untuk menyediakan makanan setiap bulan,” kata al-Qanou, wanita yang tinggal bersama empat orang anak dan suaminya yang berusia 66 tahun dengan kondisi kesehatan yang semakin memburuk.
Al-Qanou mengatakan bahwa dia selalu menunggu dengan tidak sabar untuk mendapatkan kupon senilai sekitar $75 tersebut, yang biasanya masuk setiap awal bulan. Ketika kupon tersebut bisa diambil, dia akan pergi pagi-pagi sekali untuk mencairkannya di supermarket di samping rumahnya. Akan tetapi, semuanya berubah sejak ia menerima pesan menyakitkan dari WFP di ponselnya. “Menerima pesan tersebut adalah hari berkabung bagi saya,” katanya. “Saya menghabiskan sepanjang hari dengan menangis hingga tekanan darah saya melonjak.”
Ia menceritakan ketidakmampuannya untuk membiayai pendidikan perguruan tinggi bagi anak-anaknya, “terlepas dari kecerdasan mereka”. Tanpa pendidikan universitas, anak-anak hanya akan bisa berpenghasilan kurang dari $100 sebulan. “Setidaknya dengan voucher itu, kebutuhan pokok minimal dapat tercukupi di rumah saya,” ujar Al-Qanou sambil menunjuk tong berisi tepung yang hampir habis. “Tapi apa yang harus saya lakukan sekarang? Bagaimana saya akan memberi makan keluarga saya?” “Terkadang saya berpikir akan lebih baik jika kami semua mati.” katanya dengan putus asa.

Jalur Gaza dengan segala problematika yang diciptakan oleh sistem apartheid Israel memang sudah sangat menyesakkan penduduknya, seperti yang tersirat dari kalimat-kalimat yang diucapkan oleh Al-Qanou. Blokade yang telah berlangsung selama 17 tahun dan tidak ada tanda-tanda akan berhenti semakin memutuskan harapan penduduknya akan kebebasan dan masa depan. Oleh karena itu, tak mengherankan apabila kabar penghentian bantuan pangan dari WFP membuat penduduk Gaza layaknya tersambar petir di siang hari, sebab selama ini bantuan itulah yang membuat mereka bisa bertahan hidup.
Gaza yang disebut sebagai penjara terbesar di dunia bukanlah tanpa alasan. Blokade di darat, laut, dan udara membuat penduduk Gaza sempurna terkurung dan dipaksa untuk bertahan hidup dalam kondisi mengenaskan. Seorang mantan penasihat pemerintah Israel, Dov Weisglass, pada tahun 2006 telah menjelaskan motif Israel di balik blokade Gaza, Ia mengatakan: “Idenya adalah untuk membuat orang Palestina melakukan ‘diet’, tetapi tidak membuat mereka mati kelaparan.”
Saat ini, belum genap sebulan sejak agresi terakhir Israel menghantam Gaza, tetapi penduduknya kembali dihadapkan pada masalah baru: kelaparan. Seakan telah menjadi satu paket, kelaparan, kemiskinan, dan agresi (penyerangan) seolah terus menghantui penduduk Gaza dengan datang silih berganti, bahkan seringkali menghantam pada satu waktu yang sama karena ketiganya sebenarnya saling berkaitan. Agresi mengakibatkan perekonomian mati, meningkatkan angka pengangguran yang berujung kepada kemiskinan, hingga akhirnya penduduk tidak bisa membeli makanan dan kelaparan. Ketika sedikit demi sedikit penduduk Gaza mulai membangun kehidupannya lagi, siklus tersebut kembali diulang oleh sistem apartheid Israel, membuat malapetaka yang seolah tak berujung.
Akan tetapi, walaupun Israel seakan menutup segala celah bagi Gaza untuk bisa berkembang, selalu ada harapan bagi Gaza untuk bisa bebas dari blokade selamanya. Salah satu harapan tersebut ada pada diri kita, yang bisa memilih untuk menyalakan dan memperjuangkan hidup saudara-saudara kita, atau justru tidak peduli dan membuat harapan tersebut mati. Sebab persoalan di Gaza dan Palestina secara umum tidaklah sesederhana konflik antar-ras atau agama, melainkan pemusnahan nilai-nilai kemanusiaan yang dilanggengkan oleh sistem apartheid Israel dari waktu ke waktu, kecuali jika kita bisa memutus mata rantai siklus tersebut dan mengakhiri penjajahan sepenuhnya di Palestina.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.
Sumber:
https://www.wfp.org/countries/palestine
https://fscluster.org/state-of-palestine
https://www.#/20230601-cut-in-food-aid-deepens-humanitarian-crisis-in-gaza/
https://www.#/20220419-palestine-needs-immediate-attention-to-stave-off-a-major-food-crisis/
https://www.#/20230606-children-in-gaza-protest-against-reduced-funding-for-food-aid/
https://www.aljazeera.com/news/2023/5/28/wfp-cuts-aid-to-200-000-palestinian-families
https://globalnutritionreport.org/resources/nutrition-profiles/asia/western-asia/state-palestine/
https://palestine.un.org/en/209672-fact-sheet-food-and-nutrition-palestine
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








