Osama (7) terbangun setiap malam dengan mimpi buruk tentang adik laki-lakinya, Mohammed al-Tamimi (2), yang dibunuh pasukan Israel awal bulan ini. Baru-baru ini, militer Israel menyebut pembunuhan itu sebagai ‘tidak disengaja’.
Pasukan Israel menyampaikan pada Rabu (14/6) bahwa kematian yang “tidak disengaja” dari Mohammed al-Tamimi terjadi setelah seorang tentara salah mengira balita Palestina dan ayahnya adalah orang-orang bersenjata yang melarikan diri setelah menembak ke arah permukiman ilegal di Tepi Barat, Neve Tzu.
“Selama pencarian, penembak melihat kendaraan yang mencurigakan dan menembak beberapa kali ke udara karena melanggar perintah,” kata tentara Israel setelah penyelidikan awal. “Secara bersamaan, seorang tentara yang ditempatkan di pos jaga juga mengidentifikasi dua sosok yang masuk ke dalam kendaraan. Ia mengira mereka adalah teroris yang melarikan diri dari tempat kejadian dan sebelumnya menembakinya dari kendaraan. Setelah mendapat izin dari komandannya, prajurit tersebut menembakkan beberapa peluru ke arah kendaraan tersebut,” lanjut pernyataan tersebut.
Menindaklanjuti peristiwa tersebut, militer Israel mengatakan bahwa satu-satunya tindakan yang akan mereka ambil hanyalah “menegur” prajurit yang telah menembak ke udara dan “melanggar perintah”. Lebih lanjut, mereka mengatakan bahwa tentara akan “terus belajar dan berkembang”.
Ayah Mohammed, Haitham al-Tamimi, menceritakan tentang peristiwa tersebut. Pada 2 Juni saat penembakan terjadi, dia sedang membawa putranya ke pesta ulang tahun keponakannya, dan tiba-tiba saja peluru pasukan Israel menghujani mereka. Ibu Mohammed, Marwa al-Tamimi, saat itu berada di dekat mereka dan mendengar suara tembakan pasukan Israel.
“Saya segera berlari keluar untuk melihat apa yang terjadi,” katanya kepada Al Jazeera. “Suami saya berteriak selama penembakan lanjutan saat mengemudi. Ia berkata, ‘Hamoudi, Hamoudi’ [merujuk pada putra kecilnya],” tambah ibu yang putus asa itu. Haitham juga terluka dalam insiden tersebut dan dibawa ke rumah sakit di Ramallah, sementara putranya diangkut ke rumah sakit Sheba Israel dengan helikopter, tetapi lima hari kemudian dia dinyatakan meninggal karena luka-lukanya.
Haitham menyebut penyelidikan awal Israel terhadapnya sebenarnya merupakan “penutup”. “Tentu saja, kami tidak mengharapkan keadilan, tetapi laporan ini bagi kami terasa seperti kejahatan di atas kejahatan aslinya,” katanya. “Hanya ini yang mereka katakan ketika putraku dibunuh dengan darah dingin? Ketika hidupnya terputus bahkan sebelum saya dapat menyaksikan dia tumbuh menjadi orang seperti apa nantinya.” Ratusan pelayat Palestina berkumpul di Ramallah pekan lalu untuk mengubur balita itu.
Jika militer Israel memutuskan untuk membuka penyelidikan kriminal, tentara yang terlibat bisa saja menghadapi konsekuensi. Kementerian luar negeri Palestina juga telah menuntut pertanggungjawaban atas kejahatan tersebut. Ketegangan di Tepi Barat terus meningkat saat ini karena Israel, di bawah pemerintahan sayap kanannya, telah memperluas serangan militernya hampir setiap malam di wilayah pendudukan.
Sejak awal 2023, pasukan Israel telah menewaskan sedikitnya 158 warga Palestina, termasuk 26 anak-anak, menurut kantor berita Wafa. Korban tewas juga termasuk 36 warga Palestina yang dibunuh oleh tentara Israel selama agresi empat hari di Jalur Gaza yang diblokade, sejak 9 hingga 13 Mei. Lebih dari 700.000 orang Israel saat ini tinggal di permukiman di Tepi Barat dan Al-Quds (Yerusalem) Timur, yang direbut Israel dalam Perang 1967.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








