Sekitar satu miliar anak berada dalam risiko yang sangat tinggi karena bahaya krisis iklim. Sebuah kelompok hak asasi memperingatkan juga bahwa standar hidup kaum muda tidak meningkat dalam dekade terakhir. Indeks KidsRights, berdasarkan angka yang disediakan oleh badan-badan PBB, juga mengatakan pada Selasa (18/10) bahwa lebih dari sepertiga anak-anak di dunia (sekitar 820 juta), saat ini terpapar gelombang panas. Kelangkaan air memengaruhi 920 juta anak di seluruh dunia, penyakit seperti malaria dan demam berdarah juga telah memengaruhi sekitar 600 juta anak atau satu dari empat anak.
KidsRights Index adalah peringkat global pertama dan satu-satunya yang setiap tahun melakukan pengukuran bagaimana hak-hak anak dihormati di seluruh dunia dan sejauh mana negara-negara berkomitmen untuk meningkatkan hak-hak anak. KidsRights Index menempatkan Islandia, Swedia, dan Finlandia sebagai negara terbaik dari 185 negara yang dinilai dalam pemberian hak-hak anak. Sementara itu, Sierra Leone, Afghanistan, dan Chad sebagai yang terburuk. Dari tiga negara teratas, hanya peringkat Swedia yang berubah dari tahun sebelumnya, yaitu naik ke peringkat kedua dari posisi keempat.
Marc Dullaert, pendiri dan ketua KidsRights, mengatakan, “Iklim yang berubah dengan cepat ini sekarang mengancam masa depan dan hak-hak dasar mereka,” katanya. “Tidak ada kemajuan signifikan dalam standar kehidupan anak-anak selama satu dekade terakhir dan di samping itu, mereka juga sangat terpengaruh oleh pandemi Covid-19,” tambah Dullaert.
Pandemi Covid-19 berdampak parah pada anak-anak, hingga tidak dapat memperoleh makanan atau obat-obatan karena gangguan dan penutupan klinik. Sebagai akibatnya, sekitar 286.000 anak di bawah usia lima tahun meninggal, kata KidsRights. Adapun untuk pertama kalinya dalam dua dekade, jumlah pekerja anak telah meningkat menjadi 160 juta, mewakili peningkatan 8,4 juta selama empat tahun terakhir, kata KidsRights Index, yang disusun bersama dengan Rotterdam’s Erasmus University.
KidsRights juga menyoroti Angola dan Bangladesh yang secara signifikan meningkatkan skor mereka dalam hal hak-hak anak. Angola mengurangi lebih dari separuh angka kematian balita, sementara Bangladesh telah mengurangi jumlah balita dengan berat badan kurang hingga hampir setengahnya. Namun, laporan itu juga menampar Montenegro dalam jumlah vaksinasi yang rendah dan berada di peringkat 49.
Survei tersebut menggunakan data PBB untuk mengukur bagaimana negara-negara memenuhi Konvensi PBB tentang Hak Anak.
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







