Rute ini dijuluki “jalan kematian” atau “jalan berdarah”. Berdiri di antara kota-kota Palestina dan permukiman ilegal Israel, jalan ini sudah sejak lama menjadi saksi atas penembakan, penusukan, penabrakan yang disengaja, dan bentrokan antara penduduk Palestina dengan pemukim Israel.
Rute ini membentang di sepanjang kota-kota besar Palestina seperti Nazaret, Betlehem, dan Al-Quds di bagian tengahnya, dan menjadi satu-satunya jalan bagi penduduk Palestina yang ingin pergi ke Nablus atau Yerikho dengan keluar melalui Ramallah.
Rute 60 difoto dari dekat kota Beit Ummar
Sumber : https://www.ft.com/content/8ba729f6-141c-11e9-a581-4ff78404524e

Di salah satu persimpangan jalan, sebuah reklame ditulis dengan menggunakan bahasa Ibrani,
“Situs yang sangat berbahaya. Hati-hati dalam mengemudi.”

Peta Rute 60
Sumber : https://www.ft.com/content/8ba729f6-141c-11e9-a581-4ff78404524e
Peringatan tersebut dipertegas dengan gambar lingkaran seperti speedometer mobil yang jarumnya menunjuk ke garis yang ditandai merah. Papan peringatan yang hanya berbahasa Ibrani tersebut menjadi salah satu bentuk arogansi Zionis di tanah Palestina, seolah rute tersebut hanya diperuntukkan bagi Israel. Mereka menafikan penduduk Palestina, yang sebenarnya sudah sejak lama menetap di wilayah tersebut.[1]

Papan peringatan di Rute 60
Sumber : https://www.haaretz.com/opinion/.premium-how-a-west-bank-highway-s-roadsign-captures-the-israeli-psyche-1.6288737
Pada 2019, diperkirakan sebanyak 70.000 orang Israel menetap di sepanjang wilayah Rute 60 dan sekitar 400.000 orang menetap di permukiman ilegal di Tepi Barat. Dalam rangka meningkatkan jumlah orang Israel di wilayah ini, Zionis telah menyusun siasat khusus.
Pada akhir 2019, Menteri Pertanian Israel, Uri Ariel, mengirimkan pesan kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, mendesaknya agar membangun pos pemeriksaan di seluruh wilayah Tepi Barat.
Hal yang sama dilakukan juga oleh Bezalel Smotrich, seorang anggota parlemen sayap kanan yang tinggal di permukiman Tepi Barat yang berada di dekat Rute 60. Ia mendesak pemerintah untuk segera membangun pos pemeriksaan di sepanjang jalan raya dengan tujuan membatasi pergerakan penduduk Palestina. “Hidup kita lebih diutamakan dibanding kualitas hidup mereka,” demikian pernyataan yang Ia lontarkan.
[1] Baca kisah lainnya dalam https://adararelief.com/perang-senyap-silent-war-di-al-quds-timur-palestina/






