Setelah serangan masif oleh pasukan Israel, keluarga-keluarga di Jalur Gaza bagian utara terpaksa beradaptasi dengan kehidupan yang sulit di rumah darurat berbahan lumpur. Meski dianggap “lebih baik daripada tenda,” hunian ini tetap penuh tantangan.
Saat kekerasan mulai mereda dan kesepakatan gencatan senjata untuk mengakhiri genosida Israel selama 15 bulan memasuki tahap akhir, kenyataan suram pengungsian semakin terlihat jelas. Kehidupan di tengah reruntuhan menyulitkan banyak keluarga untuk mendapatkan tempat berlindung yang layak dan rasa aman.
Analisis citra satelit oleh UNOSAT pada September mengungkapkan hampir 164.000 bangunan di Jalur Gaza telah rusak atau hancur sejak 7 Oktober. Jumlah ini mencakup 66% dari seluruh bangunan di wilayah tersebut.
Sameh Hamad, seorang ayah lima anak berusia 45 tahun, berusaha membangun stabilitas bagi keluarganya di tengah kondisi sulit. Dengan lumpur sebagai bahan utama, ia mengubah tenda yang rusak menjadi tempat berlindung yang lebih kokoh. Rumah ini dilengkapi dinding tanah liat dan atap nilon, serta didirikan di atas tanah setinggi setengah meter untuk mencegah kerusakan akibat lembab.
“Kami tidak punya pilihan selain mencari alternatif yang lebih aman daripada tenda-tenda bobrok, terutama untuk anak-anak saya,” kata Sameh. “Musim dingin lalu mereka menggigil kedinginan, sementara saya tidak mampu membeli selimut atau kayu bakar yang harganya sangat tinggi.”
Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) melaporkan bahwa hujan lebat sejak 25 November telah memperburuk kondisi di Jalur Gaza, di tengah keterbatasan bantuan kemanusiaan akibat blokade. Sementara itu, suhu di Gaza pada Januari berkisar antara 10°C hingga 20°C dan curah hujan tertinggi biasanya terjadi pada bulan tersebut.
Kepala UNRWA, Philippe Lazzarini, menyatakan melalui media sosial bahwa ancaman musim dingin dapat menyebabkan lebih banyak korban, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan orang tua. Dalam beberapa pekan terakhir, lebih dari delapan bayi dilaporkan meninggal akibat hipotermia.
Meski lelah, pengalaman Sameh dalam konstruksi membantunya beradaptasi. Ia membangun rumah lumpur dengan biaya rendah dan bahan yang mudah didapat. Keputusan ini memberikan kehangatan yang tidak tersedia di tenda-tenda yang ia tempati sebelumnya.
Sameh menuliskan “Orang-orang yang Kembali” di pintu rumah lumpurnya. Tulisan yang melambangkan harapannya untuk pulang ke Jalur Gaza utara. Namun, ia mengakui bahwa pengungsian tetaplah sebuah penderitaan.
“Kehidupan di rumah lumpur atau tenda sama-sama berat,” kata Nael Salah, seorang guru berusia 49 tahun. “Rasanya seperti kembali ke masa tujuh dekade lalu,” ungkapnya.
Di tengah pembangunan hunian darurat, kelaparan tetap menjadi masalah utama. Menurut UNRWA, kekurangan pangan akut terus meningkat, terutama karena jumlah truk bantuan yang masuk ke Gaza pada Oktober mencapai titik terendah sejak agresi dimulai.
Issa Adeeb, seorang pengungsi berusia 64 tahun, mengenang kehidupannya di rumah lumpur saat kecil. “Kini, saya kembali tinggal di rumah lumpur, dan rasanya seperti penindasan,” ujarnya. Meski begitu, ia tetap optimis bahwa warga Palestina akan mampu beradaptasi.
Sambil berjuang melawan kelaparan, keluarga-keluarga pengungsi tetap menggantungkan harapan pada kedamaian dan stabilitas yang suatu saat akan kembali. “Keinginan terbesar saya adalah terpal tebal untuk menutupi rumah lumpur tempat saya tinggal bersama istri saya yang sedang sakit,” ujar Issa.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








