Badai musim dingin yang disertai hujan lebat dan angin kencang melanda Jalur Gaza, merusak dan menerbangkan ribuan tenda pengungsian serta memperparah kondisi kemanusiaan yang sudah kritis. Pertahanan Sipil Gaza melaporkan bahwa angin dengan kecepatan hingga 60 kilometer per jam menghancurkan penampungan sementara, terutama di wilayah pesisir, tempat banyak keluarga terpaksa mendirikan tenda akibat hancurnya kawasan permukiman.
Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, menegaskan bahwa krisis ini bukan semata akibat cuaca ekstrem, melainkan dampak langsung dari blokade Israel yang terus menghambat masuknya bantuan kemanusiaan, bahan bangunan, dan peralatan rekonstruksi. Akibatnya, warga Gaza terpaksa hidup di tenda-tenda sobek dan rumah rusak yang tidak aman serta jauh dari standar kemanusiaan.
Pemerintah Gaza mencatat sedikitnya 21 warga Palestina yang mengungsi, sebagian besar anak-anak, meninggal dunia akibat paparan dingin ekstrem sejak perang dimulai. Dari jumlah tersebut, 18 korban adalah anak-anak, termasuk bayi. Salah satunya adalah Mahmoud al-Aqraa, bayi berusia tujuh hari yang meninggal akibat hipotermia setelah tinggal di tenda tanpa pemanas. Sejak awal Desember lalu, sedikitnya empat orang dilaporkan meninggal akibat cuaca dingin di tengah kelangkaan selimut, pakaian musim dingin, dan tempat tinggal layak.
Badai terbaru juga menyebabkan runtuhnya puluhan bangunan yang sebelumnya rusak akibat serangan udara Israel, sehingga menimbulkan korban tambahan. Pertahanan Sipil memperingatkan bahwa ribuan rumah yang retak dan rapuh masih berisiko roboh jika cuaca buruk berlanjut. Kondisi ini semakin berbahaya bagi anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis.
Otoritas Palestina menegaskan bahwa Israel bertanggung jawab penuh atas jatuhnya korban jiwa karena gagal memenuhi komitmen gencatan senjata untuk memfasilitasi masuknya tenda, hunian sementara, serta bahan perbaikan infrastruktur dasar seperti air, sanitasi, dan listrik. Lebih dari 1,5 juta warga Palestina kini hidup dalam pengungsian tanpa perlindungan memadai.
Sejak Oktober 2023, agresi militer Israel telah membunuh lebih dari 71.000 warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak, serta melukai lebih dari 171.000 orang. Meski gencatan senjata berlaku sejak 10 Oktober, serangan masih berlanjut, menyebabkan ratusan warga Palestina kembali menjadi korban. Otoritas Gaza dan lembaga kemanusiaan internasional mendesak komunitas global untuk segera membuka akses bantuan tanpa hambatan guna mencegah jatuhnya korban lebih banyak, terutama di tengah musim dingin yang semakin ekstrem.
Sumber:
MEMO








