Di Israel, ketidakpuasan muncul akibat kurangnya kemajuan dalam urusan sandera yang masih ditahan di wilayah Palestina serta terbukanya front kedua bagi tentara Israel yang kewalahan akibat agresinya ke Lebanon pada September.
Banyak anggota militer Israel dan pihak lainnya kini beralih ke “Rencana Para Jenderal” (General’s Plan) yang juga dikenal sebagai Rencana Eiland untuk memastikan kekalahan Hamas. Secara sederhana, usulan dari kelompok perwira cadangan senior ini melibatkan pembersihan etnis di Jalur Gaza utara dari penduduknya; kemudian mengepung wilayah tersebut, termasuk menghentikan masuknya bantuan kemanusiaan, untuk menimbulkan kelaparan bagi siapa pun yang tersisa, termasuk pejuang Palestina.
Siapa yang menulis Rencana Para Jenderal?
Rencana ini diterbitkan pada akhir September 2024 oleh Forum Komandan dan Prajurit Cadangan, sebuah LSM Israel yang mendefinisikan dirinya sebagai badan profesional dengan lebih dari 1.500 perwira militer.
Forum ini mengatakan bahwa mereka didirikan dengan empat tujuan, yaitu mengubah doktrin perang, beralih dari konsep pencegahan ke konsep kemenangan mutlak, memperkenalkan lebih banyak perwira ofensif ke dalam staf umum yang memimpin tentara, dan mencapai kemenangan yang jelas melawan musuh di semua sektor. Kelompok ini juga mengkritik strategi tentara Israel di Gaza sejak Oktober 2023 dan kegagalannya mencapai tujuan agresi.
Siapa Giora Eiland?
Tokoh sentral di balik rencana ini adalah Giora Eiland, seorang mayor jenderal cadangan yang telah pensiun, yang pernah menjadi kepala divisi operasi dan perencanaan tentara, serta mengepalai Dewan Keamanan Nasional.
Eiland yang terlibat dalam Perang Arab-Israel 1973, invasi Lebanon 1982, dan Operasi Entebbe 1976, dianggap sebagai tokoh kiri-tengah di Israel. Pada 2023, misalnya, ia mendukung perwira cadangan yang menolak bertugas selama krisis reformasi yudisial Israel.
Selama agresi saat ini, ia beberapa kali muncul di media menyerukan tindakan militer yang mungkin dianggap sebagai kejahatan perang.
Dalam sebuah wawancara pada 29 Oktober 2023, beberapa pekan setelah agresi dimulai, Eiland menyatakan bahwa Israel perlu melakukan tekanan yang lebih besar.
“Fakta bahwa kita menyerah menghadapi bantuan kemanusiaan untuk Gaza adalah kesalahan besar. Gaza harus dihancurkan sepenuhnya: kekacauan besar, krisis kemanusiaan parah, hingga teriakan mereka terdengar sampai ke langit.”
Pada Desember, ia menyarankan bahwa jika Hamas menolak untuk membahas masalah sandera Israel, maka bantuan kemanusiaan harus dipotong dengan harapan dapat menggulingkan kepemimpinan Hamas.
“Gaza akan kelaparan,” ujar Eiland, “dan ketika Gaza kelaparan, ratusan ribu warga Palestina akan marah dan frustrasi. Orang-orang yang lapar adalah mereka yang pada akhirnya akan menggulingkan [Yahya] Sinwar, dan itulah satu-satunya hal yang mengganggunya.”
Eiland juga percaya bahwa ancaman lain terhadap kesejahteraan warga Palestina harus diabaikan, seperti kemungkinan epidemi.
“Jika situasi semacam itu terjadi, itu sebenarnya akan mematahkan semangat juang Hamas dan memperpendek pertempuran.”
Ia juga tidak terlalu peduli pada kelompok rentan. Pada November 2023, Eiland menyatakan bahwa Israel tidak boleh memberikan bantuan kemanusiaan apa pun kepada Gaza, termasuk kepada perempuan tua, karena Israel menganggap bahwa mereka adalah ibu dan nenek para pejuang Hamas yang melakukan kejahatan mengerikan pada 7 Oktober.”
Apa pemikiran di balik “Rencana Para Jenderal?”
Penulis rencana ini menyatakan bahwa “strategi Israel yang saat ini mengandalkan tekanan militer belum membuahkan hasil yang diinginkan. Hari ini, setelah lebih dari 10 bulan sejak 7 Oktober, dapat dikatakan bahwa strategi ini telah gagal.”
Mereka mengaitkan kegagalan ini dengan ketidakmampuan tentara untuk melakukan beberapa langkah, seperti “mengepung zona pertempuran, sepenuhnya mengevakuasi penduduk dari wilayah tersebut, dan menciptakan alternatif bagi distribusi bantuan kemanusiaan oleh Hamas.” Dengan kata lain, meskipun Hamas telah menderita kerugian besar, mereka masih bisa pulih begitu tentara Israel meninggalkan wilayah tersebut.
Oleh karena itu, rencana ini menyimpulkan, “satu-satunya cara untuk merusak kemampuan Hamas untuk pulih adalah dengan menghancurkan satu atau lebih dari empat elemen (uang, kemampuan merekrut pejuang, pasokan, dan motivasi) yang memungkinkan keberadaan mereka dari waktu ke waktu.”
Apa tahap pertama dari Rencana Para Jenderal?
Tahap pertama dari rencana ini adalah menghentikan masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza utara dan menggunakan kelaparan sebagai tekanan. Ada dua tahap dalam strategi ini.
Tahap pertama adalah “evakuasi penduduk dari Jalur Gaza utara.” Langkah ini telah menjadi bagian dari strategi militer Israel bahkan sebelum Rencana Para Jenderal. Pada November 2023, tentara mengumumkan bahwa 95 persen penduduk Gaza utara telah pindah ke selatan dan tidak diizinkan kembali.
Rencana ini juga mengutip contoh sejarah dengan strategi serupa yang berhasil, seperti selama Perang Dunia II, ketika Perdana Menteri Inggris Winston Churchill “menyatakan niatnya untuk memberlakukan blokade ketat dan tidak mengirimkan makanan ke daerah yang dikuasai Nazi, bahkan dengan tujuan membantu penduduk sipil setempat.”
Apa reaksi di Israel terhadap Rencana Para Jenderal?
Ide di balik rencana ini, yaitu pengusiran warga Palestina dari tanah mereka, selalu populer di kalangan sayap kanan Israel. Bahkan, perpindahan massal penduduk Gaza telah menjadi salah satu tujuan yang dinyatakan oleh Israel sejak agresi dimulai.
Pengusiran warga Palestina telah berulang kali diserukan oleh pemimpin pemerintah sayap kanan Israel, termasuk Menteri Keuangan Bezalel Smotrich dan Menteri Keamanan Itamar Ben Gvir.
Pada Oktober 2023, Kementerian Intelijen Israel, yang dipimpin oleh Gila Gamliel, menerbitkan dokumen yang merekomendasikan “evakuasi penduduk Gaza ke Sinai dan tidak mengizinkan mereka kembali atau tinggal dekat perbatasan Israel.” Pemimpin partai oposisi kanan-tengah Yisrael Beiteinu juga menyatakan dukungannya. Berbicara di hadapan komite yang sama pada 22 September, Netanyahu mengatakan bahwa rencana tersebut masuk akal.
Kapan Rencana Para Jenderal akan dimulai?
Banyak pengamat percaya rencana ini sudah dimulai. Laporan media Israel sepanjang September menunjukkan bahwa dukungan untuk rencana ini semakin meningkat di kalangan militer. Pada 9 September, Eliezer Toledano, kepala divisi strategis tentara, menginformasikan kepada para menteri bahwa tentara sudah merumuskan rencana untuk mengambil alih distribusi bantuan kemanusiaan.
PBB melaporkan pada 11 Oktober bahwa “tidak ada bantuan makanan yang masuk ke [Jalur Gaza utara] sejak 1 Oktober” dan penyeberangan utama ke daerah tersebut telah ditutup.
Avichai Edrei, juru bicara tentara dalam bahasa Arab, mengeluarkan pemberitahuan evakuasi untuk penduduk Jabalia, Beit Hanoun, Beit Lahiya, dan daerah lain di Kota Gaza pada 7 Oktober 2024.
Dua hari kemudian, tentara Israel melancarkan serangan besar-besaran di Kamp Pengungsi Jabalia di Gaza utara. Secara bersamaan, tentara mengeluarkan perintah evakuasi untuk tiga rumah sakit.
Dengan dukungan luas untuk rencana ini dari pemerintah Israel dan militer, muncul pertanyaan apakah tentara akan segera berusaha menduduki Jalur Gaza utara.
Channel 13 Israel melaporkan bahwa “tentara berupaya mendorong 200.000 hingga 300.000 warga Gaza ke selatan Jabalia, sementara Hamas berusaha mencegah mereka melakukan hal tersebut.”
Menurut jurnalis Haaretz, Amos Harel, operasi saat ini di Gaza utara telah dirumuskan oleh Komando Selatan. Namun, meskipun ada kesamaan dengan Rencana Para Jenderal, militer Israel mengatakan bahwa “rencana yang saat ini dijalankan tidak mencakup elemen ekstrem dari Rencana Para Jenderal.”
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








