Dalam sepekan terakhir, tim penyelamat menemukan 171 jenazah warga Palestina di reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan Israel di Jalur Gaza, menurut laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sejak gencatan senjata antara Israel dan Hamas dimulai pada 19 Januari 2025, total 354 jasad telah berhasil dievakuasi, sebagaimana dilaporkan oleh Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) yang mengutip data dari Kementerian Kesehatan Gaza.
Upaya pencarian korban masih terus berlangsung, meskipun kondisi di lapangan sangat sulit. Gaza dipenuhi dengan sekitar 50 juta ton puing dan reruntuhan, yang diperkirakan akan membutuhkan waktu hingga 20 tahun untuk dibersihkan sepenuhnya.
Pada Rabu (29/1), tim medis Palestina kembali menemukan 59 jenazah di bawah reruntuhan, sehingga jumlah korban terbunuh akibat agresi Israel sejak Oktober 2023 meningkat menjadi 47.417 orang. Dalam periode 24 jam terakhir, delapan korban luka baru juga dilaporkan, menambah jumlah total korban luka menjadi 111.571 orang.
“Masih banyak korban yang terjebak di bawah reruntuhan dan di jalan-jalan, karena tim penyelamat kesulitan menjangkau mereka,” demikian pernyataan Kementerian Kesehatan Gaza.
Gencatan senjata yang dimulai pada 19 Januari telah menghentikan serangan besar-besaran Israel, tetapi dampak kemanusiaan dari agresi ini masih sangat parah. Lebih dari 11.000 orang dinyatakan hilang, sementara kehancuran infrastruktur telah menciptakan krisis kemanusiaan yang luar biasa, terutama bagi lansia dan anak-anak.
Situasi ini semakin menambah tekanan internasional terhadap Israel. Pada November 2024, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza. Selain itu, Israel juga tengah menghadapi tuntutan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ).
Meskipun pertempuran utama telah berhenti, krisis di Gaza masih jauh dari selesai. Ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal, pasokan makanan dan obat-obatan semakin menipis, dan layanan kesehatan pun umpuh akibat serangan berkepanjangan. Gaza kini menghadapi salah satu bencana kemanusiaan terburuk dalam sejarah modern.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








