Tahun ajaran baru telah dimulai di Palestina. Akan tetapi, Israel justru merampas hak pendidikan ratusan anak Palestina di Tepi Barat, termasuk Al-Quds (Yerusalem).
Pusat Studi Tawanan Palestina (PCPS) pada Sabtu (26/8) melaporkan bahwa Israel saat ini menahan 170 anak Palestina. Israel juga melarang mereka untuk bersekolah dan bertemu teman sekelas. Anak-anak tersebut ditahan dalam kondisi yang sulit di penjara-penjara Israel. Beberapa dari mereka bahkan dijatuhi hukuman bertahun-tahun penjara.
Direktur PCPS Riyad Al-Ashqar menambahkan bahwa penahanan di penjara bukan satu-satunya alasan yang menghalangi siswa-siswa Palestina untuk mengikuti tahun ajaran baru. Akan tetapi, aturan tahanan rumah yang diterapkan oleh Israel terhadap anak-anak juga menjadi hambatan serius. Aturan tahanan rumah membuat Israel bisa menahan anak-anak di dalam rumah mereka dan mencegah mereka melakukan kontak dengan orang lain.
Setidaknya ada 70 siswa sekolah yang menjadi tahanan rumah dan tidak bisa bersekolah saat ini, kata Al-Ashqar. Ia menjelaskan, tahanan rumah berarti menahan anak secara paksa di dalam rumahnya setelah memaksa orang tua mereka menandatangani surat perjanjian. Mereka dipaksa untuk setuju bahwa anak mereka tidak boleh meninggalkan rumah selama masa kurungan. Anak yang menjadi tahanan rumah juga tidak boleh bersekolah, mengunjungi kerabatnya, atau bermain bersama teman-temannya meskipun di dekat rumah.
Hingga saat ini Israel telah mengeluarkan lebih dari 255 perintah tahanan rumah terhadap warga Palestina, sebagian besar untuk anak-anak. Jumlah tersebut baru yang terdata di Al-Quds (Yerusalem), belum termasuk jumlah di kota-kota lainnya.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini
#Palestine_is_my_compass
#Palestina_arah_perjuanganku
#Together_in_solidarity
#فلسطين_بوصلتي
#معا_ننصرها








