Saat Ramadhan berada di ambang pintu, orang-orang Palestina mulai membanjiri masjid-masjid untuk salat dan bertafakur. Anak-anak turun ke jalan memegang berbagai jenis lentera, menebarkan kegembiraan di lingkungan sekitar.
Menjelang sahur, Mesaharati (orang yang membangunkan sahur) akan berkeliling di jalan-jalan kota dan desa Palestina, menabuh genderang mereka, membacakan syair-syair, doa-doa, dan menyanyikan lagu-lagu Ramadan, khusus membangunkan umat Islam untuk sahur sebelum puasa pada hari itu.
Bahaa Najib, seorang Mesaharati di Al-Quds (Yerusalem), akan memulai panggilan dari di Bab Hutta, kawasan Muslim di jantung Kota Tua Al-Quds. Dari sana, ia akan berkeliling melewati jalan-jalan yang didekorasi di lingkungan itu, yang terletak hanya beberapa langkah dari masjid Al-Aqsa. “Wahai orang-orang yang tidur, bangunlah dan berdoalah kepada Allah,” ujarnya.
Asal-usul Mesaharati, bagaimanapun, diperdebatkan. Ada yang beranggapan bahwa Mesaharati muncul sejak zaman Nabi Muhammad saw, dengan Bilal bin Rabah sebagai Mesaharati pertama dalam sejarah Islam karena ia biasa berkeliling pada malam-malam Ramadan untuk membangunkan orang.[1]
Sejarawan Abdelmajid Abdul Aziz mengatakan bahwa Mesaharati pertama kali muncul pada masa Dinasti Fatimiyah di Mesir. Masa tersebut dapat dikatakan sebagai periode yang menandai perayaan paling dekoratif untuk memeriahkan Ramadan. Sementara itu, menurut sejarawan Mesir abad ke-15 Mohammed bin Iyas, profesi Mesaharati dimulai pada zaman Khalifah al-Hakim Bi’amrillah, yang memerintahkan warganya untuk segera tidur setelah shalat Tarawih. Khalifah Al-Hakim kemudian akan mengirim tentaranya pada dini hari, mengetuk pintu untuk membangunkan sahur.[2]
Pada awalnya, Mesaharati biasa mengetuk pintu-pintu rumah untuk membangunkan para penghuninya. Seiring berjalannya waktu, Mesaharati akan menggunakan baju tradisional dan menabuh genderang khusus yang disebut baza, sambil bersyair atau bernyanyi, karena ini adalah cara yang lebih meriah untuk membangunkan orang. Di sekelilingnya, anak-anak akan berkumpul mengikutinya sambil membawa lentera Ramadan (fanous).[3]
“Mesaharati memasukkan puisi tentang Yerusalem, tentang sejarah serta ketahanannya yang hebat. Juga pesan Umar Ibn Al-Khattab ra. yang mendorong gelombang perlawanan Arab seumpama gelombang laut, meski tinggi atau rendah, ia selalu ada, ” ujar Amin Haddad, seorang penyair Arab.[4]

Ilustrasi Mesaharati yang diikuti oleh anak-anak.
(Sumber: https://www.arabnews.com/node/387195)
Di Kota Akka, Palestina, Michael Ayoub, menjalani hari-hari ketika Ramadan sebagai Mesaharati. Sekalipun ia seorang Kristen, ia tidak merasa ada kontradiksi ketika menjalani profesi sebagai Mesaharati, Karena baginya, ia dan warga di sekitarnya merupakan keluarga yang lahir dari rahim tanah air yang sama.
Ayoub mengenakan pakaian tradisional Levantina (Syam) saat membangunkan sahur. Sebuah keffiyeh tersampir di bahunya, celana sirwal baggy khas Arab dilingkarkan di pinggang dengan ikat pinggang bersulam, sementara sorban hitam-putih diikatkan di kepalanya. Suaranya lantang melantunkan syair, menembus kesunyian jalan-jalan kosong yang dihiasi dengan lampu warna-warni tradisional untuk menyambut Ramadan.[5]
“Wahai yang sedang tidur, datangilah satu Tuhan yang abadi,” teriaknya.
Rumah-rumah mulai menyala satu per satu. Beberapa menjulurkan kepala ke luar jendela untuk menyambutnya dan mengatakan kepadanya bahwa mereka telah mendengar panggilan itu.

Michael Ayoub menyalami seorang ibu yang berterima kasih karena telah membangunkannya.
(Sumber: timesofisrel.com)
Sementara itu, di Gaza, orang-orang mengenal “Trio Mesaharati” sebagai penabuh baza (genderang) yang memeriahkan atmosfer Ramadan saat menjelang sahur. Tiga pemuda Gaza ini berusaha melestarikan tradisi Mesaharati di Palestina yang telah hidup selama ratusan tahun. Mereka berkeliling sambil memanggil penduduk, “Wahai Abu Ahmad, pujilah Allah dan bangunlah untuk sahur! Wahai Abu Abid, Abu Hatim, Abu Amar, Abu Sya’ban, Abu Said, semuanya, ayo bangun!” Mereka lalu menyanyi sambil menabuh baza, “Wahai hamba Allah, bangunlah untuk sahur yang di dalamnya terdapat keberkahan untukmu. Ramadan sungguh mulia, dan Tuhanmu Maha Pengampun.” Trio ini akan melanjutkan perjalanannya saat mereka melihat cukup banyak lampu yang telah menyala dari rumah-rumah di lingkungan sekitar. Di antara warga kemudian membuka jendela, melambaikan tangan, dan berterima kasih kepada Mereka.
Trio Mesaharati di Gaza
Sumber: https://www.middleeasteye.net/video/gazas-ramadan-mesaharatis
Mesaharati, sejak dulu hingga kini, hidup dan menjadi jiwa di negara-negara Arab sepanjang Ramadan, termasuk di Palestina. Pada masa kekhalifahan, Mesaharti dianggap sebuah profesi dan oleh karenanya pemerintah memberi gaji kepada mereka. Kini, Mesaharati adalah bagian dari tradisi. Mereka tidak lagi digaji negara, tetapi warga yang mendapat manfaat dari keberadaan Mesaharati, akan mengumpulkan uang dan hadiah untuk kemudian diberikan kepada Mesaharati saat menjelang Idulfitri.
Orang-orang Palestina, baik muslim maupun Kristen, berusaha memelihara tradisi ini, terlepas dari kekerasan yang sedang berlangsung dan kehadiran militer Israel di sana. Mesaharati di Al-Quds, mengalami penangkapan sejak 2018, dengan tuduhan menyebabkan kebisingan.
Berdasarkan laporan Middle East Monitor pada 2020, Arin Zaanin, seorang Mesaharati Al-Quds yang merupakan warga Wadi Al-Joz dekat Masjid Al-Aqsa, diancam oleh pasukan keamanan Israel akan didenda dan ditangkap jika ditemukan berkeliaran. Hal tersebut merupakan salah satu upaya Israel untuk mengakhiri kehadiran Palestina di Al-Quds melalui serangan terhadap budaya mereka.[6]
Namun, seberat apa pun situasi Ramadan yang dihadapi, bagi orang Palestina, Ramadan tetaplah menyimpan keberkahan yang tidak terbilang. Mereka menyambut dan mengisi Ramadan dengan semangat dan suka cita, menjaga Al-Aqsa dan masjid-masjid lainnya, menghiasi jalan- dengan bendera dan lentera warna-warni dalam suasana yang ceria. Sementara itu, Mesaharati tetap akan bertahan dari gerusan zaman, memanggil jiwa-jiwa, yang tertidur, membangunkan untuk sahur, menyambut fajar dengan syukur dan sabar. Sabbahak Allah bi ridha wa na’im—semoga Allah membangunkanmu dalam keridaan dan kenikmatan. (LMS)
[1] https://www.arabnews.com/node/387195
[2] https://www.arabnews.com/node/1493021/amp
[3] Op. Cit.
[4] https://eng.majalla.com/node/129591/culturemesaharati-arab-world
[5] https://www.middleeasteye.net/news/tambourine-hand-christian-wakes-muslims-ramadan
[6] http://3.109.176.205/uncategorized/palestinian-dawn-drummer-threatened-with-fine-and-arrest-by-israeli-soldiers/?amp=1
Referensi:
https://www.arabnews.com/node/1493021/amp
https://www.arabnews.com/node/387195
https://dailynewsegypt.com/2018/05/24/ramadan-in-palestine/
https://eng.majalla.com/node/129591/culturemesaharati-arab-world
https://gulflife.online/mesaharati-comes-calling/
https://www.middleeasteye.net/news/tambourine-hand-christian-wakes-muslims-ramadan
https://www.middleeasteye.net/video/gazas-ramadan-mesaharatis
https://www.timesofisrael.com/tambourine-in-hand-a-christian-wakes-up-acres-muslims-for-ramadan/
https://www.youtube.com/watch?v=rlQBLFeuuBg
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina.
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







