Barangkali namanya tidak sering disandingkan dalam deretan nama perempuan pahlawan Indonesia yang berjasa dalam memajukan pendidikan perempuan, tetapi ia menjadi inspirator dari dibentuknya Kulliyatul Banat atau fakultas khusus bagi mahasiswi yang belajar di al-Azhar, Mesir, karena dedikasinya dalam memajukan pendidikan perempuan di kampungnya,
Ia adalah Rahmah el-Yunusiyah. Perempuan pejuang pendidikan ini lahir di Padang Panjang pada Jumat, 29 Desember 1900 (1 Rajab 1338). Ia merupakan bungsu dari lima bersaudara dan dididik dalam lingkungan keluarga yang religius. Ibunya bernama Rafiah, ayahnya Syekh Muhammad Yunus bin Imaduddin, ulama sekaligus qadi di Nagari Pandai Sikek. Kakeknya, Syekh Imaduddin merupakan ulama terkemuka, ahli ilmu falak (astronomi), juga pemimpin Tarikat Naqsyabandiyah di Minangkabau.
Syaikhah Hajjah Rangkayo Rahmah el-Yunusiyah merupakan seorang pembaharu pada zamannya, seorang guru, pejuang kemerdekaan, dan bidan desa. Ia menaruh perhatian yang sangat besar terhadap hak-hak dan pendidikan perempuan. Menurutnya perempuan tidak harus berdiam di rumah dan disibukkan dengan pekerjaan rumah tangga saja. Namun, perempuan harus terdidik dan memberikan peranan penting bagi orang lain tanpa harus meninggalkan tugas utamanya.
Pendidikan formal pertama yang ia terima berasal dari sekolah kakaknya, Zainuddin Labay di Diniyah School. Pada saat itu, perempuan yang mengenyam pendidikan masih sangat sedikit sebab masih kuatnya anggapan bahwa perempuan tidak perlu bersekolah jika akhirnya kembali lagi ke rumah. Situasi tersebut membuat Rahmah prihatin. Ia berpendapat justru karena perempuan nantinya akan kembali lagi ke rumah, perempuan harus dibekali pendidikan agar dapat mengangkat harkat dan martabatnya dan mampu melahirkan generasi penerus yang berkualitas.
Diniyah School, tempat Rahmah belajar, mempunyai konsep ko-edukasi, yaitu sistem belajar secara bersamaan dalam satu kelas tanpa membedakan jenis kelamin. Ia memperhatikan terdapat kesenjangan antara laki-laki dan perempuan dalam mengakses ilmu di sekolah tersebut. Kebanyakan interaksi dan dialog terkait dengan pelajaran hanya dapat diakses oleh murid laki-laki. Hal tersebut yang membuat ia tidak nyaman dalam menggali ilmu di Diniyah School.
Berangkat dari keresahannya tersebut, ia kemudian mengajak ketiga sahabatnya yaitu, Rasuna Said, Nanisah, dan Jawana Basyir (Upik Japang) untuk membentuk kelompok belajar agar dapat berbicara dan berdiskusi mengenai problematika perempuan dengan bebas. Mereka kemudian menimba ilmu agama di surau-surau di luar sekolah, salah satunya di Surau Jembatan Besi.
Namun, Rahmah masih belum puas dalam menimba ilmu di tempat-tempat tersebut. Permasalahannya masih sama seperti pada di forum Diniyah School, banyak problematika seputar perempuan yang ditanyakan belum menemui jawaban. Akhirnya, ia meminta syaikh-syaikh dan para ulama besar untuk memberikan pengajaran di rumahnya. Di antaranya ialah Syaikh Muhammad Jamil Jambek, Syekh Daud Rasyidi, dan Syaikh Latif Rasyidi. Bahkan ia juga berguru kepada Guru Haji Rasul atau Abdul Karim Amrullah, ayahnya Hamka.
Dari para syekh dan ulama tersebut, Rahmah banyak mempelajari ilmu agama, seperti bahasa Arab, Fiqih dan Ushul Fiqih. Selain itu, ilmu umum, seperti ilmu hayat, ilmu bumi, dan ilmu alam juga ia pelajari dari buku-buku yang dibacanya. Rahmah juga belajar keterampilan seperti menenun, menjahit, dan juga gimnastik. Ia pun turut mengikuti kursus ilmu kebidanan di RSU Kayu Tanam dan juga berlatih Pertolongan Pertama pada Kesehatan (P3K) dari enam orang dokter yang juga menjadi gurunya dalam bidang kebidanan. Atas kesungguhan dan keberhasilannya, Rahmah mendapat izin praktik sebagai bidan.
Rahmah el-Yunusiyah kemudian bertekad untuk mendirikan sekolah khusus bagi kaum perempuan. Dengan dukungan dari teman-teman dan kakak sulungnya, Zainuddin Labay, yang telah terlebih dahulu berkecimpung dalam dunia pendidikan, Rahmah berhasil mewujudkan mimpinya. Pada tanggal 1 November 1923 berdirilah Diniyah School Puteri (al-Madrasul al-Diniyyah li al-Banat) di Masjid Pasar Usang.
Murid pertamanya berjumlah 71 orang dan sebagian besar merupakan sekelompok ibu muda. Tujuan didirikannya Sekolah Diniyah Puteri adalah untuk melaksanakan pendidikan dan pengajaran berdasarkan ajaran Islam sehingga terbentuk putri yang berjiwa Islam dan ibu pendidik yang cakap, aktif, serta bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan tanah air dalam pengabdian kepada Allah Swt. Selain membuka Diniyah School Puteri, Rahmah juga membuka Sekolah Menyesal pada tahun 1925. Sekolah ini merupakan sekolah yang ditujukan untuk memberantas buta huruf di kalangan ibu rumah tangga. Kemudian, pada 1935, Rahmah mendirikan tiga perguruan putri di Batavia (Jakarta), yaitu di Kwitang, Jatinegara, dan Tanah Abang.
Rahmah meyakini bahwa terdapat perbedaan pendidikan antara laki-laki dan perempuan. Menurutnya, perempuan membutuhkan model pendidikan yang berbeda dengan laki-laki karena ajaran Islam memberikan perhatian khusus terhadap peran perempuan. Oleh sebab itu, perempuan membutuhkan lingkungan pendidikan tersendiri sehingga topik-topik mengenai diri mereka dapat dibicarakan secara bebas.
Pendidikan bersama (ko-edukasi) membatasi kemampuan kaum perempuan untuk menerima pendidikan yang cocok dengan kebutuhan mereka. Rahmah menginginkan kaum perempuan untuk mendapatkan pendidikan umum dan agama yang setara dengan pendidikan yang diperoleh oleh kaum laki-laki. Tentu saja pendidikan ini disertai dengan keterampilan yang sesuai sehingga mereka dapat menjadi bagian dari masyarakat yang produktif. Seiring waktu, Diniyah Puteri School berkembang pesat. Pada tahun 1928 jumlah anggotanya bertambah sebanyak 200 orang dan pada 1935 berkembang menjadi dua kali lipat.
Pada tahun 1955, ketika para petinggi Universitas Al-Azhar Mesir mengunjungi Padang, mereka menyempatkan untuk datang ke Diniyah School Puteri. Di sana mereka melihat bahwa ada hal yang yang menginspirasi mereka dari Diniyah Puteri School yang didirikan oleh Rahmah. Dua tahun kemudian, Rahmah diundang ke Mesir. Ia mendapat gelar kehormatan “Syaikhah”, sekaligus menjadi perempuan pertama yang mendapatkan gelar itu dari Al-Azhar. Kedatangan Rahmah dan cerita soal Sekolah Diniyyah menginspirasi Al-Azhar untuk membuka Kulliyatul Banat atau fakultas khusus untuk perempuan yang direalisasikan pada 1962.
Di balik kesuksesan mendirikan Diniyah School Puteri, Rahmah harus diuji dengan kematian kakaknya sekaligus mentornya dalam dunia pendidikan, Zainuddin Labay, ketika sekolahnya baru berdiri selama 9 bulan. Banyak yang memperkirakan bahwa sekolah tersebut tidak akan berdiri lama setelah kematian Zainuddin. Dua tahun kemudian, atau pada 1926, terjadi gempa bumi yang mengguncang Kota Padang. Hal tersebut menyebabkan gedung-gedung sekolahnya roboh. Rahmah pun memutuskan untuk berjuang menemukan solusi dari masalah yang ia hadapi.
Ia melakukan kunjungan ke banyak tempat untuk mencari dana sambil mengampanyekan betapa pentingnya pendidikan untuk perempuan. Kota-kota yang ia kunjungi antara lain Pinang, Terengganu, Johor, Negeri Sembilan, Selangor, Perak, Pahang, Kelantan, hingga Kedah. Ia pernah pula berkunjung ke Kesultanan Siak Sri Indrapura di Riau. Ketika itu, permaisuri Sultan Syarif Kasim II, Syarifah Latifah, juga punya sekolah perempuan bernama Latifah School. Kemudian, saat ditawari bantuan oleh tenaga laki-laki ia pun menolak. Ia ingin memutuskan stigma bahwa kaum perempuan itu lemah. Ia juga menolak segala jenis bantuan dan subsidi yang ingin diberikan pemerintah Kolonial Belanda pada saat itu.
Selain berjuang di ranah pendidikan, ia juga berjuang bagi kemerdekaan Indonesia. Pada zaman pendudukan Jepang, hak-hak perempuan di Sumatera sangat terancam. Selain akses pendidikan yang terbatas, hak-hak perempuan sebagai manusia juga tidak dihormati. Pembangunan “rumah kuning” (tempat prostitusi-red) di seluruh kota telah mendorong Rahmah untuk bertindak. Akhirnya, Rahmah memilih untuk terjun ke dunia politik agar dapat memperoleh lebih banyak kekuasaan demi menghentikan perbudakan dan pelecehan terhadap perempuan di Sumatera. Ia bergabung dengan organisasi seperti Anggota Daerah Ibu dan Gyugun Ko En Kai. Rahmah berjuang melalui berbagai saluran yang tersedia untuk memperjuangkan hak asasi perempuan di Sumatera.
Rahmah dikenal sebagai tokoh yang berjuang pada masa Agresi Belanda dan dijuluki sebagai “Ibu Pasukan Ekstremis” dan “Pelopor Sabil Muslimat”. Selama hidupnya, Rahmah berjuang untuk hak-hak perempuan terutama dalam bidang pendidikan, dan hasil perjuangannya masih terasa hingga saat ini. Salah satu buktinya adalah Pondok Pesantren Diniyah Puteri yang dulunya bernama Diniyah School Puteri yang didirikannya. Sekolah tersebut terus beroperasi untuk memajukan pendidikan dan mencetak pemimpin-pemimpin bangsa yang berprestasi. Karena jasanya, ia dianugerahi gelar Bintang Mahaputra Adipradana.
“Ya Allah Ya Rabbi, bila ada dalam ilmu-Mu apa yang menjadi cita-citaku ini untuk mencerdaskan anak bangsaku terutama anak-anak perempuan yang masih jauh tercecer dalam bidang pendidikan dan pengetahuan, ada baiknya Engkau ridhai, maka mudahkanlah Ya Allah jalan menuju cita-citaku itu. Ya Allah, berikanlah yang terbaik untuk hamba-Mu yang lemah ini. Amin”. – Rahmah El Yunisiyah
Yunda Kania Alfiani
Penulis merupakan Relawan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan.
Referensi
Hamruni. 2004. “Pendidikan Perempuan Dalam Pemikiran Rahmah El-Yunusiyah”. Jurnal Kependidikan Islam, 2(1), 105-125. Diakses online: https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/8550/1/HAMRUNI%20PENDIDIKAN%20PEREMPUAN%20DALAM%20PEMIKIRAN%20RAHMAH%20EL-YUNUSIYAH.pdf.
Raditya, Iswara N. 2018. “Rahmah El Yunusiyah Memperjuangkan Kesetaraan Muslimah”. https://tirto.id/rahmah-el-yunusiyah-memperjuangkan-kesetaraan-muslimah-cE52. Diakses pada 25 Maret 2023.
Salam UI. 2021. “Pemikiran Tokoh Muslim: Rahmah El Yunusiyah”. https://salam.ui.ac.id/pemikiran-tokoh-muslim-rahmah-el-yunusiyah/. Diakses pada 31 Maret 2023.
Zuhra, Wan Ulfa Nur. 2019. “Rahmah El Yunusiyah: Pendiri Diniyah Putri, Menginspirasi Al-Azhar”. https://tirto.id/rahmah-el-yunusiyah-pendiri-diniyah-putri-menginspirasi-al-azhar-dRlm. Diakses pada, 17 Maret 2023.
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








