Warga Palestina telah mengalami penderitaan besar selama dua tahun terakhir ini, Gaza mengalami genosida Israel, sementara Betlehem dan kota-kota lainnya juga tak luput dari serangan Israel. Hanya sedikit momen keagamaan yang dapat dirayakan, bahkan selama dua tahun terakhir, semua perayaan Natal publik dibatalkan. Namun pada tahun ini, pohon Natal kembali bersinar di Betlehem. Pada Sabtu (06/12), warga Palestina berkumpul di Manger Square di Bethlehem, di luar Gereja Kelahiran, untuk menyaksikan pohon Natal di sana dinyalakan untuk pertama kalinya sejak 2022.
Tidak hanya Gaza, namun Betlehem, tempat yang oleh umat Kristiani dipercaya sebagai lokasi Yesus dilahirkan, juga menderita krisis ekonomi yang parah saat ini akibat pembatasan Israel yang parah. Banyak bisnis yang telah ada selama beberapa generasi terpaksa ditutup.
Akibatnya, pengangguran dan kemiskinan meningkat di Tepi Barat selama dua tahun terakhir. “Pengangguran mencapai 34 persen dan jumlah orang yang hidup di bawah garis kemiskinan telah meningkat. Lebih dari 40 persen berjuang untuk bertahan hidup,” kata Samir Hazboun, perwakilan Kamar Dagang Bethlehem, kepada Al Jazeera.
Bethlehem juga menderita penurunan drastis dalam sektor pariwisata. Menurut Kamar Dagang kota, Bethlehem mengalami penurunan kunjungan sebanyak 90 persen dibandingkan dengan dua tahun lalu. Ia menambahkan bahwa, selama periode ini, Bethlehem kehilangan USD 1.5M dalam sehari.
Tapi setidaknya, Palestina menawarkan musim Natal yang panjang – menandai tanggal penting 25 Desember untuk orang Kristen Barat serta 6 dan 7 Januari untuk orang Kristen Timur dan Ortodoks Armenia. Artinya, pohon natal baru akan diturunkan pada 20 Januari.
Meskipun upacara pencahayaan pohon Natal tahun ini lebih tenang daripada sebelumnya, Odeh mengatakan orang-orang Palestina di Betlehem melihatnya “sebagai kesempatan untuk memberi kebahagiaan Natal bagi anak-anak sekaligus memberitahu dunia bahwa Betlehem terbuka dan siap menerima mereka” untuk “memberi harapan baru bagi kehidupan ekonomi mereka yang terseok”.
Sumber: Al Jazeera, The New Arab








