Oleh: Maram Humaid
Bayi saya, Iyas, telah menginjak usia tiga bulan, sedangkan keponakan saya Ezz baru berusia satu bulan. Inilah pesan saya untuk mereka:
Baby Iyas dan Baby Ezz yang tersayang,
Aku memahami bahwa kalian merasakan ada sesuatu yang salah. Reaksi kalian terhadap ledakan sangat jelas – gemetar dan menangis setiap kali terdengar suara dentuman. Kadang-kadang, kalian mencari jawaban dari kami. Kalian merasa terganggu oleh pengeboman yang terjadi terus-menerus dan pesawat yang terbang di atas kepala pada malam hari.
Bayi-bayiku tersayang,
Aku menulis surat ini dengan harapan kalian akan tumbuh di dunia yang aman untuk membacanya. Namun sayangnya, harapan tersebut masih belum pasti. Situasi yang sedang berlangsung telah memaksaku untuk mendokumentasikan kesaksian ini untuk generasi kalian.
Saat aku menatap matamu, aku membayangkan bayi prematur di Rumah Sakit al-Shifa dipindahkan, mengancam nyawa mereka. Dunia telah berubah menjadi kuburan bagi makhluk yang paling tidak bersalah. Aku merenungkan kisah-kisah menyedihkan tentang orang tua yang tidak dapat menjangkau anak-anak mereka karena invasi darat atau, lebih buruk lagi, mereka yang mungkin terpaksa mengungsi atau terbunuh.
Sayangku, hatiku menangis kencang. Setiap hari di rumah sakit, aku menitikkan air mata untuk anak-anak yang tumbuh di tengah kekacauan ini. Aku menangis ketika melihat mereka tertawa di tenda darurat, tidak menyadari bencana tragis yang terjadi di sekitar mereka – sebuah kenyataan yang mungkin baru bisa mereka pahami pada masa depan.
Cintaku,
Keselamatan kalian dalam keadaan tragis ini sangat memprihatinkan kami, orang tua kalian. Minggu lalu, tangisan dan rasa tidak nyaman yang kalian alami membuat kami bingung, hingga penyakit ginjal yang diderita nenek kalian mengungkap penyebabnya – air yang tidak bersih. Kami tidak sadar, sekaligus tidak punya pilihan lain, sehingga pada akhirnya kami untuk mencari botol air mineral bersih demi keselamatan kalian.
Setiap hari, kami pergi ke rumah sakit, juga ke tempat kerjaku saat ini sebagai jurnalis, demi mencari informasi tentang sumber air yang tersedia. Kegembiraan pulang ke rumah dengan membawa air terasa seperti memegang harta karun, sebuah pengingat akan kekacauan seputar kebutuhan paling dasar; air.
Kelangkaan ini tidak hanya terbatas pada air, tetapi juga membuat kami khawatir akan berkurangnya persediaan susu formula dan popok bayi. Ezz, meski dihadang tantangan, ayahmu berhasil memberikan susu formula untukmu. Tapi Iyas, kami terpaksa mengganti formulamu karena tidak tersedia, yang berisiko menimbulkan ketidaknyamanan sementara.
Saat kita menavigasi pertarungan nyata antara rasa haus dan lapar ini, mendiskusikan formula yang paling cocok untukmu sepertinya merupakan sebuah kemewahan. Segalanya kini berkisar pada pencegahan kelaparan. Aku ingin memperkenalkanmu pada dunia yang “menakjubkan” ini, yang menyaksikan perjuangan kita di bawah berbagai upaya genosida.
Selain kekurangan air dan makanan, sudah lebih dari sebulan tidak ada listrik, internet, jaringan komunikasi, persediaan supermarket, roti atau bahan bakar. Serangan udara yang terus-menerus menimbulkan pertumpahan darah tanpa akhir, menargetkan setiap aspek kehidupan, membuat dunia ini tidak aman bagi bayi tak berdosa seperti kalian.
Setiap hari di rumah sakit, aku menyaksikan mayat-mayat yang terbungkus kain kafan berdarah – wanita, pria, dan orang tua – namun yang paling menyayat hati adalah tubuh anak-anak. Bayi-bayi di sini telah mempelajari suara misil sebelum melodi lagu anak-anak. Terlantar, terputus, berduka dan terblokade – inilah cara penduduk Gaza menanggung agresi Israel yang terus berlanjut.
Sayangku,
Ini mungkin surat terakhirku. Ingatlah untuk tidak memaafkan mereka yang diam saja menghadapi penderitaan kita. Kehidupan di Gaza selalu penuh tantangan, namun kami berusaha untuk tetap hidup, bermimpi, dan berkembang. Kini, penyesalan membayangi setiap momen yang kami bayangkan umtuk membawa kalian ke kehidupan yang lebih baik.
Melihat senyuman dan memegang tanganmu di tengah kekacauan membuat hatiku patah. Harapan untuk masa depan yang lebih baik di sini sangatlah langka; sebab masa depan tampaknya hanya menjanjikan lebih banyak siksaan.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini
#Palestine_is_my_compass
#Palestina_arah_perjuanganku
#Together_in_solidarity
#فلسطين_بوصلتي
#معا_ننصرها








