Perjuangan El-Kurd Mempertahankan Syeikh Jarrah #3
“Jacob, kamu tahu ini bukan rumahmu.” Kata Muna dalam bahasa Inggris.
Pemukim itu menjawab dalam aksen amerika-nya yang kental, “Ya, tetapi jika saya pergi, Anda tidak kembali, jadi apa masalahnya? Kenapa kau berteriak padaku?”
“Kamu mencuri rumahku!”
“Jika bukan aku yang mencurinya, orang lain yang akan mencurinya,” jawab Jacob. “Jadi kenapa kau berteriak padaku?”
“Tidak ada yang diizinkan untuk mencuri rumahku!” teriak El-Kurd. Jacob lalu berkata dalam bahasa Ibrani, “Bukan kewenanganku untuk mengembalikannya.”
Jelang batas waktu pengusiran yang ditentukan Pengadilan, demonstrasi terus berlangsung di Sheikh Jarrah. Ribuan orang yang sebagian besar para pemuda menghadiri unjuk rasa ini, membela keluarga-keluarga Sheikh Jarrah agar tidak diusir dari rumah mereka sendiri.
“Rumah kami di Sheikh Jarrah adalah rumahmu. (Aku) pastikan bahwa jika Sheikh Jarrah dikendalikan (oleh pemukim Israel), kawasan Al-Quds lainnya, akan mengikuti,” kata Muna.

Melalui sosial media, Muna, Mohammed, dan teman-temannya memopulerkan tagar #SaveSheikhJarrah sambil menampilkan foto dan video unjuk rasa yang berlangsung, serta menunjukkan bagaimana tentara Israel tidak segan-segan melakukan tindak kekerasan, menyakiti dan melukai mereka. Melalui kampanye tersebut, mereka meminta para pemimpin dan advokat internasional untuk menekan Israel agar mengakhiri apa yang mereka katakan sebagai “Nakba berkelanjutan” atau “Nakba baru” di Sheikh Jarrah.
“Seluruh negara ini dibangun dengan menghancurkan desa-desa Palestina dan menggusur para pengungsi. Kami akan menghadapi penggusuran ini dengan tabah, dengan tetap gigih, dengan tidak meninggalkan rumah kami, rumah kamiyang sah. Kami akan berjuang hingga napas terakhir,” kata Mohammed.
Protes yang berlangsung intens di lingkungan Sheikh Jarrah akhirnya menyebar hingga ke kompleks Masjid Al-Aqsa. Tentara Israel menyerbu masjid, mengganggu, dan melukai jamaah muslim Palestina. Peristiwa ini kemudian memancing Hamas meluncurkan roket ke Israel, yang dijadikan alasan oleh Negara penjajah ini untuk melakukan agresi militer Israel ke Gaza selama 11 hari pada Mei 2021. Sekitar 250 orang meninggal dalam pertempuran ini, 66 di antaranya anak-anak.
“Solidaritas global telah membuat marah pemerintah pendudukan dan tindakan keras telah meningkat,” kata Muna, “Saya percaya pada perlawanan rakyat,” katanya menantang.
Kepercayaan Muna bukan tanpa hasil. Dengan eskalasi yang meningkat hingga ke dunia internasional, pengadilan Israel akhirnya memutuskan untuk menunda hasil keputusan mereka terhadap pengusiran keluarga di Sheikh Jarrah. Hasil ini dianggap signifikan mengingat ancaman pengusiran mereka telah berlangsung selama puluhan tahun.
Husni Abu Hussein, anggota tim hukum yang mewakili warga Palestina di Sheikh Jarrah mengatakan kepada Al-Jazeera bahwa ia yakin perlawanan rakyat telah mempengaruhi pemerintah Israel untuk menunda proses hukum. Meski demikian, Mohammed El-Kurd menyerukan agar protes terus berlanjut. Ia mendesak para pendukung untuk tidak mengalah dan sebaliknya mengintensifkan upaya dan kehadiran di Sheikh Jarrah.






