Christopher Karam paham bahwa ada subjek mata pelajaran yang secara hukum tidak dapat dia sampaikan kepada murid-muridnya. Sebagai seorang guru di sekolah Tamrat El Zeitoun Waldorf di Shefa-Amr, sekitar 20 menit di utara Haifa di Galilea, ia menemukan cara-cara tersembunyi untuk mendidik anak-anak tentang topik yang dilarang pemerintah Israel: Nakba. “Rasanya aneh setiap kali saya mengatakan bahwa topik itu ilegal untuk disampaikan. Anda harus pintar-pintar mencari cara membicarakannya.” katanya.
Karam tumbuh di Nazareth. Dia bersekolah di sekolah swasta Arab, dan belajar lebih banyak tentang budaya dan sejarah di luar sekolah. Sebagai seorang guru, dia menggunakan budaya untuk menghindari hukum, untuk memperkenalkan murid-murid Palestinanya kepada komunitas mereka. Nakba, istilah Arab untuk menyebut pengusiran 700.000 orang Palestina dari wilayah Palestina pada 1948, sering muncul dalam puisi dan lagu. Dia juga menunggu siswa untuk mengemukakannya sendiri kemudian mendorong mereka untuk memperdalam pengetahuan mereka dengan topik tersebut.
Namun, bahkan dengan penyampaian secara halus tersebut, beberapa orang tua, termasuk orang-orang Palestina dengan kewarganegaraan Israel, kadang-kadang datang dan mengeluh. Mereka mengatakan bahwa “ini adalah Israel, bukan Palestina”. Menanggapi hal tersebut, Karam mengatakan, “Penting bagi saya untuk membantu membimbing mereka, sebab selama ini kami mempelajari sejarah ‘mereka’, bukan sejarah kami.”
Ketegangan yang dialami oleh guru seperti Karam dan para siswanya merupakan masalah utama yang dihadapi pendidikan siswa di sekolah yang didanai Israel, termasuk yang berada di komunitas Palestina. Masalah ini menjadi fokus utama di Palestina karena masyarakat telah berdiri untuk menentang kebijakan diskriminatif pemerintah Israel mengenai pendidikan, seperti kurangnya infrastruktur dan penyensoran kurikulum Palestina.
Beberapa contoh diskriminasi yang diberlakukan Israel misalnya dengan menolak menyediakan bus untuk anak-anak Badui di Naqab (Negev) atau penolakan untuk memberikan ujian matrikulasi dalam bahasa Arab hingga tahun 2019. Di dalam perbatasan Palestina tahun 1948, terlihat perbedaan mencolok antara kota-kota kaya Israel seperti Petah Tikva atau Caesarea dengan kota-kota Arab tetangga mereka, yang salah satunya dapat dilihat dari kemampuan keluarga untuk membayar sekolah. Sekolah swasta di komunitas Yahudi-Israel seringkali lebih mahal, sehingga lebih siap untuk memfasilitasi dan mendukung siswa.
Diskriminasi juga terjadi di sekolah negeri. Media Ibrani dan anggota parlemen telah mengakui dikotomi ini selama bertahun-tahun: pada 2016, Kementerian Keuangan melaporkan menemukan bahwa anggaran sekolah adalah salah satu bentuk diskriminasi keuangan pertama yang dihadapi orang Arab di Palestina.
“Diskriminasi yang ada begitu luas dan terlihat sehingga tidak ada pilihan selain mengakui bahwa itu [ada],” tulis situs milik Haaretz, TheMarker, saat melaporkan temuan pemerintah, menunjukkan bagaimana politisi Israel secara rutin menyangkal adanya perbedaan. “Diskriminasi dimulai pertama-tama dalam anggaran pendidikan, dan tidak memberikan kesempatan bagi anak Arab di wilayah ‘Israel’ untuk mengurangi kesenjangan pendidikan antara mereka dan anak Yahudi.”
Laporan itu selanjutnya menemukan bahwa jumlah siswa Palestina yang putus sekolah sebelum menyelesaikan jenjang pendidikan menengah, lebih tinggi 50 persen dibandingkan siswa Yahudi Israel. Pada saat yang sama, sekolah-sekolah Palestina juga menghadapi keterbatasan infrastruktur. Siswa tidak diajarkan di ruang kelas yang sebenarnya, atau andaipun memiliki ruang kelas, ruangan akan terlalu penuh dengan siswa.
Kementerian Pendidikan telah mencoba menambahkan anggaran dana ke sekolah-sekolah Arab untuk mencoba menutupi beberapa kesenjangan ini. Namun, setiap siswa Palestina menerima 95% lebih sedikit bantuan daripada siswa Israel. Beberapa tahun terakhir, ketika tekanan internasional meningkat terhadap pemerintah Israel atas praktik apartheid yang diberlakukannya. Anggota parlemen Israel menanggapi dengan mengumumkan rencana yang tampaknya mendukung komunitas Arab, tetapi hal itu sebenarnya hanyalah topeng untuk menyudutkan komunitas Arab, mencari-cari alasan untuk terus melanjutkan praktik apartheid dan Yahudinisasinya.
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.








