Seorang penasihat senior Presiden Palestina menyatakan bahwa Israel bertanggung jawab atas terseretnya dunia ke dalam siklus kekerasan global yang semakin berbahaya. Pernyataan ini disampaikan menyusul insiden penembakan mematikan di Sydney, Australia.
Dr. Mahmoud al-Habash, penasihat Presiden Mahmoud Abbas, menegaskan bahwa kepemimpinan Palestina secara tegas menolak segala bentuk serangan terhadap warga sipil di mana pun. Ia menekankan prinsip bahwa tidak seorang pun boleh dimintai pertanggungjawaban atas tindakan orang lain. Namun demikian, menurutnya, akar dari meningkatnya ketegangan dan kekerasan global terletak pada langkah politik dan tindak-tanduk Israel di wilayah Palestina yang diduduki.
Dalam wawancara dengan program Midday di Cairo News Channel, al-Habash menyatakan bahwa analisis objektif terhadap berbagai peristiwa terkini menunjukkan adanya “satu pihak” yang mendorong dunia menuju kekerasan berbasis balas dendam, yang dipicu oleh kebencian etnis dan agama. Ia memperingatkan bahwa Israel secara sengaja mengarahkan situasi ke arah tersebut.
Al-Habash menegaskan bahwa Israel telah berulang kali diperingatkan agar tidak melampaui “garis merah berbahaya”, termasuk upaya memicu konflik agama yang lebih luas. Ia secara khusus menyoroti pelanggaran terhadap situs-situs suci Islam dan Kristen, terutama Masjid Al-Aqsa, serta genosida yang terus berlangsung di Jalur Gaza.
Menurutnya, tindakan-tindakan tersebut tidak hanya memicu kemarahan umat Islam, tetapi juga masyarakat dunia yang terusik oleh gambaran pembunuhan massal, kehancuran, dan pelanggaran hukum internasional di Palestina, khususnya di Gaza.
Sumber: MEMO








