Penindasan terhadap warga Palestina di Tepi Barat dan Al-Quds (Yerusalem) yang diduduki terus meningkat pada awal 2026. Pusat Studi Tawanan Palestina melaporkan bahwa pasukan pendudukan Israel telah menangkap sedikitnya 150 warga Palestina hanya dalam pekan pertama tahun 2026, sebagai bagian dari eskalasi dan represi yang terus berlangsung.
Penangkapan tersebut mencakup lima perempuan dan delapan anak-anak, serta mantan tawanan, jurnalis, dan sejumlah perempuan yang sebelumnya dibebaskan dalam kesepakatan pertukaran tahanan. Selain penangkapan, pasukan Israel juga melakukan ratusan penggerebekan rumah yang disertai penggeledahan besar-besaran dan perusakan properti. Desa-desa, kamp pengungsi, dan kota-kota Palestina dilaporkan diserbu dalam pola yang disebut sebagai hukuman kolektif dan pelecehan sistematis terhadap warga sipil.
Pusat Studi Tawanan Palestina juga mencatat bahwa sejak awal 2026, otoritas pendudukan Israel telah mengeluarkan 136 perintah penahanan administratif tanpa dakwaan. Praktik ini dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan menunjukkan eskalasi berbahaya dalam penggunaan penahanan sewenang-wenang.
Dalam perkembangan terkait, pasukan Israel menyerbu kampus Universitas Birzeit, membubarkan aksi solidaritas untuk tawanan Palestina, menyita peralatan media, serta menahan wakil rektor universitas. Tindakan ini disebut sebagai pelanggaran nyata terhadap kebebasan akademik dan kesucian institusi pendidikan.
Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan lonjakan kekerasan pemukim Israel terhadap warga Palestina sepanjang tahun 2025. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mendokumentasikan lebih dari 1.800 serangan pemukim yang menyebabkan korban luka atau kerusakan properti di sekitar 280 komunitas Palestina di seluruh Tepi Barat.
Data dari Komisi Perlawanan Tembok dan Permukiman Otoritas Palestina bahkan mencatat 4.723 serangan pemukim kolonial sepanjang 2025, yang mengakibatkan 14 warga Palestina terbunuh serta pembakaran 434 lokasi, termasuk rumah warga dan lahan pertanian. Angka-angka ini mencerminkan eskalasi kekerasan yang sistematis, di tengah minimnya akuntabilitas dan memburuknya situasi keamanan bagi masyarakat Palestina di wilayah pendudukan.
Laporan-laporan tersebut menegaskan bahwa penangkapan massal oleh pasukan Israel dan kekerasan pemukim yang terus meningkat menjadi bagian dari pola represi yang meluas, memperparah krisis kemanusiaan dan pelanggaran hak asasi manusia di Tepi Barat.
Sumber:
Palinfo, MEMO








