Hafez Huraini, (52 tahun), sedang bertani di tanah milik keluarganya bersama putranya Muhammad, di pinggiran Desa at-Tuwani di Masafer Yatta, selatan Tepi Barat yang diduduki, ketika sekelompok pemukim Israel bersenjata dari Havat Ma’on menyerang mereka. “Lima pemukim menyerang mereka, beberapa memiliki senjata, setidaknya satu dari mereka memiliki senapan M16, dan yang lainnya membawa pipa logam. Salah satu pemukim mulai memukuli dengan pipa logam, mematahkan lengan kiri ayah saya,” Sami Huraini (24 tahun), putra Hafez, menceritakan kepada Mondoweiss. “Ayah saya jatuh ke tanah, dan mereka terus memukulinya, sampai lengan kanannya juga patah,” kata Sami. “Kemudian pemukim dengan pistol mulai menembakkan peluru tajam ke udara.”
Sami, bersama dengan tetangganya, bergegas ke tempat kejadian yang berjarak hanya beberapa ratus meter dari rumahnya. Ketika mereka tiba dan menghadapi para pemukim, beberapa mundur, sementara pemukim bersenjata tetap tinggal. “Puluhan tentara tiba di tempat kejadian setelah pemukim memanggil mereka. Ayah saya terbaring di tanah, kedua lengannya patah, tetapi para tentara mulai memukuli kami dan mendorong kami ke belakang sementara para pemukim berdiri di belakang tentara,” kata Sami. Ia mengatakan bahwa para pemukim “memberi perintah” kepada tentara, menyuruh mereka untuk menangkap ayahnya dan penduduk At-Tuwani lainnya di tempat kejadian.
Ketika tentara Israel terus mendesak warga Palestina, sebuah ambulans dari Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina tiba di tempat kejadian. “Tim medis mulai merawat ayah saya dan memberinya pertolongan pertama. Sementara itu, para tentara dan pemukim terus mendorong kami,” terang Sami. “Ketika kami mengangkat ayah saya ke atas tandu dan mencoba memasukkannya ke ambulans, para tentara kembali mendorong kami dan mengatakan bahwa mereka ingin menangkap ayah saya, karena para pemukim mengatakan ayah memukul mereka,” lanjutnya.
Menurut Sami, tentara dan pemukim Israel memblokir pintu ambulans untuk mencegah petugas medis memasukkan ayahnya ke dalam kendaraan. Bahkan setelah ambulans kedua tiba, tentara Israel menolak melepaskan Hafez untuk menerima perawatan medis. Menurut Sami, tentara menahan ayahnya sebelum mengevakuasinya dengan ambulans Israel.
Tentara Israel membawa Hafez ke Pusat Medis Soroka di Beersheba, lalu dia dirawat karena dua lengannya patah. Menurut Sami, Hafez didampingi oleh tentara bersenjata sepanjang waktu, dan dilarang menerima tamu atau berbicara dengan pengacaranya. Setelah dipasangi gips untuk lengannya yang patah, lelaki paruh baya itu pun ditahan.
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







