Seorang tawanan Palestina yang berusia 26 tahun, Sakher Zaoul asal Bethlehem, meninggal dunia di dalam penjara Israel setelah ditawan selama beberapa bulan di Tepi Barat yang diduduki. Kematian ini menandai kematian kedua tawanan Palestina di penjara Israel dalam kurun waktu kurang dari satu pekan, di tengah laporan luas mengenai penyiksaan dan kelalaian medis.
Komisi Urusan Tawanan dan Mantan Tawanan Palestina bersama Palestinian Prisoner’s Society (PPS) mengonfirmasi pada Ahad (15/12) bahwa Sakher Zaoul wafat saat ditahan dalam status penahanan administratif sejak 11 Juli 2025. Sebelumnya, pada 10 Desember, kedua lembaga tersebut juga mengumumkan kematian seorang pemuda lain asal Bethlehem di penjara Israel, menyusul laporan meninggalnya tiga tawanan Palestina asal Gaza.
Dengan kematian ini, jumlah tawanan Palestina yang diketahui meninggal di dalam penjara Israel sejak 7 Oktober 2023 meningkat menjadi 86 orang, termasuk 50 warga Gaza. Lembaga-lembaga tersebut menyebut periode sejak Oktober 2023 sebagai periode paling berdarah dalam sejarah gerakan tawanan Palestina sejak 1967, akibat meningkatnya praktik kejahatan sistematis di dalam penjara Israel.
Secara keseluruhan, sedikitnya 323 warga Palestina tercatat meninggal di dalam penjara Israel sejak 1967. Namun, angka sebenarnya diyakini lebih tinggi karena puluhan tawanan dari Gaza masih mengalami penghilangan paksa.
Media Israel Walla baru-baru ini melaporkan bahwa Israel telah menyebabkan kematian sedikitnya 110 sandera dan tawanan Palestina akibat penyiksaan di pusat-pusat penahanan, angka tertinggi sepanjang sejarah. Laporan ini sejalan dengan temuan Kantor Pembela Publik Israel yang mendokumentasikan penurunan drastis kondisi kesehatan tawanan Palestina akibat kelaparan, kepadatan ekstrem, sanitasi buruk, dan kekerasan sistematis.
Kelompok pemantau tawanan Palestina menyatakan bahwa kondisi tersebut tetap berlangsung bahkan setelah penandatanganan gencatan senjata di Gaza. Saat ini, lebih dari 10.800 warga Palestina ditahan di penjara Israel, termasuk 450 anak-anak, 87 perempuan, dan 3.629 orang yang ditahan tanpa dakwaan atau proses peradilan.
Organisasi-organisasi tersebut menegaskan bahwa para tawanan Palestina terus meninggal akibat penyiksaan, kelaparan, kelalaian medis, kekerasan seksual, serta pelanggaran hak asasi manusia secara sistematis. Kesaksian yang dihimpun juga mengungkap pemukulan rutin oleh penjaga penjara, kondisi penjara yang penuh sesak, penghinaan, dan minimnya kebersihan.
Sumber: Qudsnen








