“I choose journalism to be close to people.
It might not be easy to change reality,
but at least I could bring their voice to the world.
I am Shireen Abu Akleh.”
Demikian ujaran Shireen Abu Akleh dalam salah satu video rekaman yang dirilis oleh Al-Jazeera untuk mengenang jurnalis terkemuka yang ditembak mati Israel ketika sedang bertugas dalam meliput bentrokan antara Israel dan kelompok pejuang Palestina di Jenin, Tepi Barat yang dijajah. Shireen adalah jurnalis perempuan Amerika-Palestina beragama Kristen yang telah bekerja di Al-Jazeera selama lebih dari 20 tahun. Ia ditembak dengan sadis meski menggunakan rompi dan helm yang bertuliskan PRESS. Sebagai jurnalis, seharusnya rompi dan helmnya memberi rasa aman karena Hukum Kemanusiaan Internasional dan Konvensi Jenewa telah menjamin haknya.
Shireen menjadi ikon perempuan jurnalis Arab pertama yang aktif meliput penjajahan Israel atas Palestina. Ia muncul pertama kali di layar kaca ketika intifadah kedua terjadi pada 2000. Kemunculannya di layar kaca yang meliput zona-zona berbahaya di Palestina menjadikannya kebanggaan, inspirasi, idola, guru, sekaligus mentor bagi anak-anak Arab yang kemudian tumbuh menjadi jurnalis pada hari ini. Israel tentunya mengetahui dengan baik sepak terjang perempuan jurnalis ini, sehingga meski ia telah memasuki usia paruh baya, tetap dianggap layak untuk dibunuh.[1]
(Sumber: Al-Jazeera)
Besarnya rasa cinta penduduk Palestina terhadap Shireen dapat dilihat dari ramainya pelayat yang mengusung jenazahnya di empat kota: Al-Quds, Nablus, Ramallah, dan Jenin. Ribuan orang memadati jalan-jalan untuk memberikan penghormatan terakhir kepadanya.[2] Bendera Palestina dikibarkan untuk mengiringi kepergiannya. Pemandangan tersebut tampak menyebalkan di mata Zionis, hingga polisi Israel pun melakukan serangan kepada para penduduk yang mengiringi jenazah Abu Akleh.[3] Sekali lagi, sebelum dikebumikan, keberadaannya kembali menjadi “juru bicara” dan “saksi mata” yang merekam tindak sewenang-wenang Israel yang tidak memandang situasi.
Serangan yang dilakukan oleh polisi Israel ketika para penduduk mengantarkan jenazah Abu Akleh menuju permakaman (Sumber: Aljazeera.com).
Shireen Abu Akleh bukan satu-satunya jurnalis Palestina yang menjadi target militer Israel. Sejak 2000, terhitung lebih dari 50 jurnalis Palestina telah dibunuh. Enam di antaranya dibunuh di wilayah Palestina yang diduduki. Pada 2019 PBB menerbitkan laporan bahwa militer Israel dengan sengaja menembak dua jurnalis, yakni Yaser Murtaja dan Ahmed Abu Hussein pada 2018 saat meliput aksi damai Pawai Kepulangan Akbar.[4]
Pembunuhan terhadap jurnalis ini bukanlah human error. Israel secara sengaja menyasar jurnalis untuk membungkam suara mereka tentang upaya genosida terhadap bangsa Palestina. Tidak cukup hanya dengan menyensor Twitter, Instagram, Facebook, atau platform media sosial lainnya, serta tidak cukup dengan menghancurkan kantor-kantor pers di Gaza dalam berbagai serangan besar yang terjadi setiap tahunnya. Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa Israel memiliki tujuan yang sangat jelas terhadap pemberitaan tentang Palestina, yaitu agar para jurnalis tidak dapat menggaungkan penjajahan Israel atas Palestina.
Dengan membungkam suara media dan jurnalis dengan senapan, Israel berpikir dapat semakin leluasa membunuhi warga sipil Palestina secara sistematis, tidak peduli siapa mereka, termasuk anak dan perempuan yang menjadi korban tindakan antikemanusiaan Israel.
Menurut Kementerian Kesehatan Palestina[5] sejak awal 2022 hingga awal Mei ini Israel telah membunuh 50 penduduk Palestina, termasuk 10 anak dan 4 perempuan. Intensitas jumlah pembunuhan ini jika dibandingkan dengan 2021, naik hingga lima kali lipat. Israel mungkin tidak membuka perang terbuka seperti serangan terhadap Gaza 2021 lalu. Namun, Israel meningkatkan intensitas pembunuhan terhadap penduduk Palestina di berbagai wilayah, yang jika dunia membiarkan korban yang terus berjatuhan, mungkin jumlahnya akan sama atau bahkan lebih banyak dari agresi ke Gaza pada tahun lalu.
Fakta-fakta seperti itulah yang berusaha dibungkam oleh Israel dengan dibunuhnya Shireen. Jangan sampai dunia tahu, bahwa yang ditembaki Israel bukanlah pasukan bersenjata lengkap, tetapi perempuan setengah buta seperti Ghada Sabateen,[6] seorang ibu seperti Rima Khadijah[7] yang ditembak mati di depan anak-anaknya, atau lansia berusia 80 tahun seperti Omar Abdelmajeed As’ad[8] atau Suleiman Hathalin[9]. Israel juga tidak ingin dunia tahu bahwa penerima dana bantuan militer terbesar dari AS ini menggunakan peluru-peluru mereka untuk membunuhi anak-anak kecil di Palestina seperti Quasi Hamamreh (13 tahun), Mohammed Shehadeh (14 tahun), atau Mohammad Salah (14 tahun).
Foto Omar Abdelmajeed As’ad (Sumber: Middle East Eye)
Tidak ada satu pun dari mereka yang terbunuh adalah pasukan militer. Mereka adalah kelompok rentan yang sejatinya masuk dalam perlindungan Konvensi Jenewa ataupun Hukum Kemanusiaan Internasional. Mereka hanyalah anak-anak yang tengah bermain ataupun pergi ke sekolah, ibu-ibu yang hendak berbelanja untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya, juga kakek-kakek lansia yang ketika berjalan butuh tongkat untuk menopang tubuhnya yang telah rapuh. Namun, di mata Israel, mereka sama seperti musuh di zona perang, karena mereka adalah Palestina. Mereka menjadi bagian dari bangsa yang bertahan, meski setelah berpuluh-puluh tahun penjajahan, diskriminasi, ancaman genosida dan kekerasan menghantui tiap derap langkah hidup mereka.
Lupakan konvensi Jenewa atau hukum kemanusiaan internasional yang di dalamnya terdapat hak bagi sipil untuk dilindungi meski dalam perang sekalipun sebab pembunuhan ini tidak berlangsung kemarin saja. Pembunuhan ini telah terjadi berpuluh-puluh tahun lamanya bahkan ketika hukum ini telah berdiri tegak dan mengalami ratifikasi berulangkali. Namun, ironisnya, hukum-hukum ini tidak mampu membuat Israel bertekuk lutut dan mendapat hukumannya. Pertanyaannya, apa yang salah?
Di forum-forum PBB, Israel kerap mendapatkan kekebalan hukum (impunitas) melalui veto AS setiap kali berbagai negara mencoba menjatuhkan sanksi terhadapnya. Di saat people power turun ke jalan untuk menyuarakan ketidakadilan terhadap penduduk Palestina, atau para mahasiswa dan akademisi menyuarakan kejahatan Israel di ruang-ruang kuliah, mereka lantas dicap dan dituduh antisemit. Mereka dimarjinalkan, bahkan ada yang harus kehilangan pekerjaannya sebagai seorang dosen seperti yang dialami oleh profesor Steven Salaita yang dipecat dari Universitas Illinois[10] atau seperti jurnalis Emily Wilder yang dipecat dari kantornya karena dukungan terhadap Palestina.[11]
Ketika masyarakat membuat gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) sebagai upaya agar Israel tidak lagi mendapatkan kucuran dana dari dunia internasional lewat bisnis yang dijalankannya, beramai-ramai negara pendukung Israel menggunakan kekuasaannya untuk menahan gerakan ini. Dimulai dari AS yang menurunkan sejumlah UU yang melarang gerakan BDS[12], kemudian baru-baru ini pemerintah Inggris juga mengumumkan akan mengeluarkan UU yang melarang gerakan BDS[13]. Setiap tindakan yang mengecam kejahatan Zionis akan dicap sebagai tindakan rasis dan antisemit.
Dukungan masyarakat Inggris terhadap Palestina (sumber: Alaraby.co.uk)
Dari fakta-fakta ini jelas bahwa apa yang terjadi di Palestina saat ini; penjajahan dan penindasan Israel terhadap Palestina, didukung oleh sistem dunia. Namun, di sisi lain sistem tersebut juga tidak mampu membungkam perjuangan penduduk Palestina yang masih bertahan hingga saat ini. Juga tidak mampu membungkam masyarakat dunia yang masih ikut bergerak bersama penduduk Palestina lewat demonstrasi damai, bantuan kemanusiaan, media sosial, ataupun melalui doa-doa.
Apakah karena penduduk Palestina tidak bermata biru dan berambut pirang, maka nasib mereka berhak diabaikan? Berbeda dengan warga Ukraina yang bermata biru, berambut pirang, serta ras Eropa, lantas hanya mereka yang berhak mendapatkan simpati dunia? Sanksi-sanksi dan marjinalisasi terhadap Rusia langsung digulirkan oleh berbagai negara dunia[14], tapi tidak demikian terhadap Israel. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa apartheid bukan hanya dilakukan Israel terhadap Palestina tetapi juga oleh sistem dunia.
Negara-negara yang memberikan sanksi kepada Rusia (sumber: dailymail.co.uk)
Terlepas dari keberpihakan pihak mana pun, keyakinan haruslah tetap ditegakkan; bahwa meski sistem dunia beramai-ramai hendak membungkam Palestina dan para pendukung kemanusiaan, kekuatan rakyat tidak akan terkalahkan. Suara-suara rakyat Palestina dan para pembelanya harus terus digaungkan, sebagaimana cita-cita Shireen Abu Akleh yang ingin selalu menyuarakan Palestina kepada masyarakat dunia, meski harus berhadapan dengan berbagai kesulitan yang tidak tertahankan.
Fitriyah Nur Fadilah, S.Sos., M.I.P.
Penulis merupakan Ketua Departemen Resource Development and Mobilization Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana dan master jurusan Ilmu Politik, FISIP UI.
[1] https://www.bostonglobe.com/2022/05/13/opinion/everybody-knew-shireen-abu-akleh/
[2] https://www.theguardian.com/world/2022/may/12/shireen-abu-aqleh-thousands-attend-state-memorial-in-west-bank
[3] https://www.aljazeera.com/gallery/2022/5/13/journalist-shireen-abu-akleh
[4] https://www.ohchr.org/sites/default/files/Documents/HRBodies/HRCouncil/CoIOPT/A_HRC_40_74.pdf
[5] https://adararelief.com/kementerian-kesehatan-mendokumentasikan-50-warga-palestina-yang-dibunuh-oleh-israel-sejak-awal-tahun/
[6] https://adararelief.com/anak-anak-palestina-menjadi-yatim-piatu-setelah-tentara-israel-membunuh-ibu-mereka/
[7] https://adararelief.com/seorang-perempuan-muda-ditembak-mati-di-qalansuwa/
[8] https://adararelief.com/penangkapan-dan-penyiksaan-lansia-oleh-zionis-berujung-kematian/
[9] https://adararelief.com/pasukan-israel-membunuh-31-warga-palestina-dalam-waktu-kurang-dari-4-bulan/
[10] https://www.merdeka.com/dunia/bikin-kicauan-pro-palestina-profesor-di-amerika-dipecat.html
[11] https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4563986/sosok-emily-wilder-jurnalis-yang-dipecat-karena-serukan-dukungan-untuk-palestina
[12] https://www.hrw.org/news/2019/04/23/us-states-use-anti-boycott-laws-punish-responsible-businesses
[13] https://english.alaraby.co.uk/news/uk-moves-step-closer-anti-bds-bill-after-queens-speech
[14] https://www.dailymail.co.uk/news/article-10550811/How-Russia-sanctioned-world-Ukraine-invasion.html
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina.
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.








