Dokumen mengenai pembantaian Kafr Qasem mengungkapkan bahwa tentara Israel terbukti memenuhi perintah untuk melakukan pembantaian terhadap 53 warga Palestina di sana. Dalam salah satu pembantaian terburuk dalam sejarah Palestina itu, polisi perbatasan Israel membunuh 53 warga, termasuk perempuan dan anak-anak. Pembunuhan berlangsung selama satu jam dengan tujuan untuk meneror penduduk Kafr Qasem agar meninggalkan rumah mereka, yang kemudian memicu gelombang pembersihan etnis.
Pembantaian itu terjadi pada hari yang sama dengan Kampanye Suez yang gagal. Israel, Inggris, dan Perancis, saat itu bersekongkol untuk menggulingkan Gamal Abdel Nasser dari Mesir untuk mendapatkan kembali kendali atas Terusan Suez yang telah dinasionalisasi tiga bulan sebelumnya oleh Nasser. Harapannya adalah konflik internasional Terusan Suez ini dapat mengalihkan perhatian dan memberikan perlindungan yang cukup bagi Israel untuk mengusir lebih banyak penduduk asli dalam pengambilalihan tanah Palestina yang tak henti-henti.
Sejarawan Adam Raz dalam bukunya, Pembantaian Kafr Qasem: Sebuah Biografi Politik, percaya bahwa di balik peristiwa 1956 yang mengerikan itu, ada rencana rahasia untuk mengusir penduduk Palestina dari wilayah yang terkenal dengan sebutan “Segitiga di Palestina tengah”. Pada saat pembantaian, warga Palestina yang berhasil lolos dari pembersihan etnis Israel hidup di bawah Darurat Militer hingga 1967.
Israel bersikeras bahwa meskipun perintah pembunuhan itu ada, tetapi perintah itu batal dan tidak terjadi. Akan tetapi, transkrip persidangan yang baru telah mematahkan klaim Israel. Tujuan mengusir penduduk asli Palestina telah tertanam dalam DNA Zionis dan para pemukim Yahudi. Ketika mereka memiliki kesempatan untuk mengusir penduduk asli pada 1947/48, lebih dari setengah penduduk Palestina mengalami pembersihan etnis dan lebih dari 600 desa, rata dengan tanah.
Dalam kasus Kafr Qasem, ide di balik rencana tersebut adalah untuk mengeksploitasi perang dengan Yordania dan untuk mengevakuasi desa-desa Arab di kawasan segitiga ini. Beberapa penduduk akan melarikan diri ke Yordania, sementara yang lain akan mengungsi ke kamp-kamp tawanan di Israel. Transkrip tersebut mengutip beberapa frasa mengenai rencana rahasia. Di antaranya adalah “pemberitahuan evakuasi tetua desa”. Itu adalah bukti bahwa ada rencana untuk memindahkan sebagian, atau semua orang Arab Palestina di Segitiga Kecil (Kafr Qasem) jika perang meningkat. Beberapa saksi menduga Israel akan mendeportasi mereka ke arah timur, atau menuju Yordania. Sementara itu, saksi lain menunjukkan bahwa tujuannya adalah untuk mengusir orang Palestina dari rumah mereka ke tempat lain.
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.








