• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Senin, Januari 19, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

Pembangunan Tembok Apartheid: Matriks Kontrol dan Penindasan atas Rakyat Palestina

by Adara Relief International
Januari 25, 2023
in Artikel, Sorotan
Reading Time: 6 mins read
0 0
0
Pembangunan Tembok Apartheid: Matriks Kontrol dan Penindasan atas Rakyat Palestina

Pembangunan tembok apartheid baru di utara Tepi Barat (Sumber foto: Almayadeen.net)

157
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Di barat Kota Qaffin, utara Tulkarm, sebuah wilayah di utara Tepi Barat, berbagai alat berat dan bahan bangunan mulai ditempatkan untuk membuat sebuah proyek baru tembok apartheid Israel. Pembangunan tembok setinggi 9 meter dan memanjang sejauh 45 km itu membentang dari Desa Salem hingga Kota Tulkarm. Bukan sekadar tembok, pembatas ini juga akan dibentengi dengan berbagai sensor dan perangkat elektronik, yang dibangun dengan alasan menjaga keamanan.

November 2022 lalu, mantan Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz menyetujui pembangunan tembok beton ilegal di Tepi Barat utara, yang direncanakan akan membentang sejauh 100 kilometer. Proyek di Qaffin merupakan salah satu pelaksanaannya.

Muhammad Saeed, seorang petani dari wilayah tersebut mengeluhkan bahwa pembangunan tembok akan menghalangi secara total akses para petani ke puluhan ribu dunam lahan pertanian yang mereka miliki. Saeed sendiri memiliki lahan seluas 5.000 dunam (1.236 hektar), yang selama ini sudah sulit ia jangkau karena adanya berbagai pembatasan Israel.

“Dulu, kami biasa masuk selama 3 hari, meski mereka sering mencegah kami dengan dalih keamanan, tetapi dengan dibangunnya tembok ini, kami akan dicegah untuk masuk sepenuhnya, karena niat mereka memang untuk mengganggu dan merampas tanah pertanian kami,” terang Saeed.

Provinsi Tulkarm, yang namanya berasal dari kata “Tur Karm”, yang berarti “Gunung Kebun Anggur” merupakan sebuah daerah subur di utara Palestina, sekitar tujuh mil dari Laut Mediterania dan berada tepat di sebelah barat Nablus. Perekonomian daerah ini sangat mengandalkan sektor pertanian, dari buah jeruk hingga zataar (thyme), yang menjadi komoditas khas Timur Tengah. Daerah ini juga merupakan rumah dari kehidupan komersial yang dinamis, dengan dua tim sepak bola, dan satu-satunya universitas pemerintah di Palestina. Populasinya yaitu 202.401 jiwa (PCBS, 2022).

Dalam beberapa tahun terakhir, kota dan daerah sekitar Tulkarm telah kehilangan sumber daya tanah dan air akibat pembangunan permukiman Israel. Padahal, daerah ini dulunya terkenal dengan air yang berlimpah. Namun, seperti di wilayah Tepi Barat lainnya, kini para petani terpaksa mengandalkan air tangki yang mahal dan tadah penampung air hujan untuk mengairi lahan mereka.

Di tengah keterbatasan ini, para pemukim yang dilindungi tentara Israel seringkali menyerang para petani dan menghalangi akses mereka untuk dapat mengolah lahan. Pada Minggu (1/1), ketika tahun 2023 baru saja dimulai, pemukim Israel menghancurkan isi sebuah gudang pertanian di Desa Shufa, tenggara Tulkarm, milik Tahsin Hamed seorang petani Palestina. Penyerangan gudang milik Hamid tersebut terjadi untuk kedua kalinya dalam satu pekan. Para pemukim Yahudi berulang kali menyerbu lahan pertanian desa, mencegah petani menggembalakan ternaknya, dan memaksa mereka pergi dengan todongan senjata.

Saat ini, dengan adanya pembangunan tembok apartheid baru di wilayah ini, perampasan Israel atas tanah Palestina menjadi semakin nyata. Tayseer Amarneh, Walikota Akaba di Distrik Tulkarm, mengatakan, “Tanah ini milik Palestina. Pembangunan tembok dengan alasan keamanan ini membuat kami tidak akan dapat mengaksesnya. Lahan kami dirampok dengan dalih yang lemah.”

“(Sebelumnya) mereka mendirikan pagar dan mengatakan bahwa pagar itu didirikan untuk keamanan, dan hari ini mereka sedang membangun tembok beton dengan alasan yang sama. Untuk kesekian kalinya orang-orang Palestina akan kehilangan tanah mereka yang sedang digarap,” walikota itu menambahkan.

Matriks Kontrol dan Penindasan

Ketika melukis di Tembok Apartheid di atas, Banksy menceritakan bahwa seorang lelaki tua Palestina mengatakan lukisannya membuat dinding itu terlihat indah. Banksy berterima kasih padanya, tetapi pria itu berkata: ‘Kami tidak ingin menjadi indah, kami membenci tembok ini. Pulanglah ke rumah.’ Hal ini menggemakan ketakutan masyarakat lokal bahwa dengan memperindah tembok, bahkan dengan pesan-pesan yang tampak mendukung masyarakat setempat, para seniman ini menormalkan apartheid dan meremehkan perjuangan. (Sumber: Scenearabia.com)

Pembangunan tembok Apartheid Tepi Barat telah dimulai israel sejak dua puluh satu tahun yang lalu. Tepatnya pada 23 Juni 2002, ketika pemerintah Israel mengesahkan sebuah rencana untuk membangun sebuah ‘tembok keamanan’ sepanjang Tepi Barat. Pada tahun 2003, mereka telah membangun 143 kilometer dari struktur kolosal, yang diproyeksikan akan membentang sepanjang 712 kilometer. Pada 2022, PBB memperkirakan bahwa sekitar 65% dari rencana pembangunan tersebut telah selesai.

Bertentangan dengan dalih pembangunannya yang dikatakan untuk menjaga keamanan, wilayah pembangunan tembok melenceng jauh dari Garis Hijau, dengan 85% berada di wilayah Tepi Barat. Garis Hijau merupakan penanda perbatasan antara wilayah Palestina dengan Israel (Palestina yang dijajah). Oleh karena itu, dua tahun kemudian, pada 2004, Mahkamah Internasional (ICJ) memutuskan bahwa tembok Israel di Tepi Barat yang diduduki dan di Al-Quds Timur adalah ilegal.

Khalil, dari Kota al-Eizariya yang dulunya merupakan wilayah pinggiran Yerusalem (Al-Quds) Timur, tidak pernah melupakan bagaimana saat tembok apartheid mulai dibangun. Khalil yang lahir pada 1983 dari keluarga Kristen di al-Eizariya telah tumbuh tanpa tembok dan bersekolah di Kota Suci Al-Quds.

“Tembok itu menghancurkan masa kecil kami,” katanya, “saya biasa bersepeda ke Yerusalem, saya biasa berlari, saya biasa berjalan… Tembok membuat hidup kami lebih sengsara, membuat orang lebih miskin, membatasi impian kami.”

Pada 2003, selama pembangunan tembok apartheid di wilayah al-Eizariya, ibu Khalil didiagnosis menderita kanker. Dia cukup beruntung untuk dapat dirawat dengan izin medis di Rumah Sakit Augusta Victoria/Al-Muttala. Namun, Khalil yang tidak memperoleh izin Israel, tidak bisa ikut mendampinginya. Tembok berdiri di antara dia dan ibunya yang sekarat.

“Kenyataannya sangat pahit,” kata Khalil. “Rasanya sulit ketika ibumu sekarat dan dia hanya berjarak lima menit.” keinginan Khalil untuk mendampingi ibunya dijegal oleh tembok apartheid dan izin melintas yang dipersulit. Pada akhirnya, pasukan pendudukan Israel menyetujui “surat belas kasihan” yang meminta Khalil untuk mengunjungi ibunya sebelum meninggal, meski ia datang ketika semua sudah terlambat.

“Jiwanya sedang menungguku, tapi dia sudah mati.” Dia menggelengkan kepalanya. “Ini penghinaan.”

Sekarang, Khalil adalah orang tua, dan dia berharap untuk melindungi anak-anaknya seperti keluarganya sendiri melindunginya. Namun demikian, ia mengakui, “Kita tidak bisa menyelamatkan anak-anak kita jika penindas masih menindas kita.”

Lebih dari sekadar sebuah kebijakan apartheid, tembok pemisah Tepi Barat merupakan upaya Israel untuk mengontrol dan menindas rakyat Palestina. Omar Shakir, direktur Human Rights Watch untuk Israel dan Palestina, mengatakan bahwa tembok apartheid berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari warga Palestina, sebab tembok ini memisahkan ribuan warga Palestina satu sama lain, tanah pertanian yang mereka miliki, dan dari infrastruktur dan layanan penting yang dibutuhkan.

“Tembok itu sendiri adalah bagian dari matriks kontrol dan pelanggaran hak yang merupakan bagian dari pengalaman sehari-hari warga Palestina,” kata Shakir.

Selain itu, tidak dapat dipungkiri bahwa pembangunan tembok apartheid telah banyak memberikan dampak ekonomi bagi palestina. Pembatasan perjalanan di dalam maupun keluar Tepi Barat membatasi pergerakan barang dan orang sehingga sektor ekonomi semakin melambat.

Bank Dunia memperkirakan pada 2013 bahwa pembatasan pergerakan akibat tembok apartheid telah merugikan ekonomi Palestina sebesar $3,4 milyar per tahun. Akses ke lokasi pekerjaan di “Israel” yang pernah menjadi sumber pendapatan utama bagi banyak masyarakat perbatasan telah sangat berkurang. Pendapatan dari perdagangan dan manufaktur turun drastis, karena berkurangnya pembelian oleh pekerja yang sebelumnya bekerja di Israel. Pembatasan perjalanan juga membatasi pelanggan untuk mengakses pasar lain, sementara produsen dan pekerja pertanian tidak dapat secara teratur mengangkut barang ke pasar di tempat lain di Tepi Barat.

Di tengah menurunnya lapangan kerja di sektor lain, pertanian menjadi sumber penghidupan yang lebih penting di berbagai wilayah subur di Tepi Barat. Namun, kemampuan sektor pertanian untuk berkembang semakin menurun akibat pembangunan pembatas yang secara total menghalangi akses para pemilik tanah. Menurut Biro Pusat Statistik Palestina, pada 2003, sebanyak 45% penduduk Palestina bekerja di bidang pertanian, termasuk kehutanan dan perikanan. Namun pada 2017, persentasenya turun menjadi hanya 14%. Khusus di Tepi Barat, data menunjukkan 30% penduduk bekerja di pertanian pada 2013, meskipun hanya 16% yang bertahan di industri tersebut pada 2017. Sementara pada 2022, di tengah pelambatan ekonomi Palestina yang hanya mencapai pertumbuhan 3,6%, dibandingkan pertumbuhan tahun 2021 yang mencapai 7%, sektor yang paling menurun adalah pertanian, yaitu dengan penurunan nilai tambah sebesar 2,6%.

Penyebab penurunan dramatis tersebut adalah karena berbagai aturan penjajah Israel, antara lain melalui pembangunan tembok apartheid, perintah penggusuran paksa, kekerasan pemukim, dan berbagai serangan yang terjadi di Tepi Barat dan Gaza. Penjajahan, bagaimanapun, secara sistematis telah memiskinkan masyarakat dan menghancurkan nilai kemanusiaan.

“Pada akhirnya, tindakan lebih konkret diperlukan oleh masyarakat internasional dalam menanggapi pelanggaran serius terhadap hukum hak asasi manusia internasional yang merupakan bagian dari realitas sehari-hari warga Palestina di bawah pendudukan,” kata Shakir.

“Setiap hari kami menyaksikan dan hidup di bawah kejahatan penjajahan, tidak hanya dengan tembok pemisah tetapi juga dengan gencarnya pembangunan permukiman Israel,” kata Ghassan Daghlas, seorang pejabat Palestina yang memantau kegiatan pemukiman di Tepi Barat utara, “Kami membela martabat kami, tanah air kami, dan hukum internasional yang kami harap akan segera dilaksanakan.”

—

Ihdal Husnayain, SE, MSi.

Penulis merupakan anggota Departemen Resource Development and Mobilization Adara Relief International yang mengkaji tentang realita anak dan perempuan Palestina. Ia merupakan lulusan Fakultas Ekonomi UI dan telah menempuh pendidikan masternya di Universitas Pertahanan Indonesia.

 

Daftar Pustaka

https://pij.org/articles/67/the-economic-impact-of-israels-separation-barrier

https://www.anera.org/stories/tulkarem-palestine-overcoming-challenges-economic-development/

Baca Juga

In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan

Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

https://www.aljazeera.com/gallery/2020/7/8/in-pictures-israels-illegal-separation-wall-still-divides

https://www.#/20230112-israels-new-wall-separates-palestinians-from-their-farmland/

https://pcbs.gov.ps/post.aspx?lang=en&ItemID=4394

https://scenearabia.com/Culture/apartheid-art-palestine-israel-graffiti-separation-wall-west-ban

https://www.aljazeera.com/news/2019/7/9/israels-separation-wall-endures-15-years-after-icj-ruling

***

Kunjungi situs resmi Adara Relief International

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.

Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini

Baca juga artikel terbaru, klik di sini

Tags: ApartheidArtikelPalestina
ShareTweetSendShare
Previous Post

Penggusuran Zionis Israel di Masafer Yatta Bahayakan Kesehatan Mental Anak-anak Palestina

Next Post

Hari Gizi Nasional 2023: IDAI Minta Ibu Buat Menu Sedikit Sayuran Banyak Daging

Adara Relief International

Related Posts

Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)
Artikel

In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan

by Adara Relief International
Januari 14, 2026
0
23

Jika aku meninggal, aku ingin kematian yang menggemparkan Aku tidak ingin hanya menjadi berita utama,  atau sekadar angka dalam sebuah...

Read moreDetails
Sebuah grafiti dengan gambar sastrawan Palestina, Mahmoud Darwish, dan penggalan puisinya, “Di atas tanah ini ada hidup yang layak diperjuangkan”. (Zaina Zinati/Jordan News)

Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

Januari 12, 2026
69
Banjir merendam tenda-tenda pengungsian di Gaza (Al Jazeera)

Banjir dan Badai di Gaza: Vonis Mati Tanpa Peringatan

Januari 7, 2026
59
Pemusnahan Umat Kristen: Bentuk Pembersihan Etnis Zionis yang Tak Pandang Bulu

Pemusnahan Umat Kristen: Bentuk Pembersihan Etnis Zionis yang Tak Pandang Bulu

Januari 7, 2026
30
Tawanan Palestina di penjara Sde Teiman (The Guardian)

Dari Tashrifeh Hingga Pembantaian: Penjara Israel Menjelma Neraka Bagi Tawanan Palestina

Desember 15, 2025
57
Seorang ibu di Gaza menunjukkan foto anaknya sebelum kakinya diamputasi karena serangan Israel (The New Arab)

“Pandemi Disabilitas” Ciptakan Penderitaan Tak Berujung Bagi Perempuan dan Anak-Anak Gaza

Desember 5, 2025
59
Next Post
Hari Gizi Nasional 2023: IDAI Minta Ibu Buat Menu Sedikit Sayuran Banyak Daging

Hari Gizi Nasional 2023: IDAI Minta Ibu Buat Menu Sedikit Sayuran Banyak Daging

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bantuan Sembako Jangkau Ratusan Warga Sumbar Terdampak Banjir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630