Ketakutan dan penderitaan menyelimuti, Areej Asalieh, 10, setelah ia benar-benar kehilangan mata kanannya akibat agresi Israel baru-baru ini di Jalur Gaza. Agresi yang juga turut menguasai lingkungan rumahnya di Jabalia, Gaza utara.
Areej menjelaskan dalam sebuah wawancara bahwa dia sedang bermain di atap rumahnya dengan sepotong kecil roti di tangannya, saat peluru Israel menembus ke matanya. Akibat kejadian itu, Areej harus mengalami rasa sakit yang luar biasa dan harus menjalani sejumlah operasi yang menyita waktu yang seharusnya bisa ia lakukan untuk bermain bersama teman-temannya.
“Saya ingin menghabiskan liburan musim panas dengan bermain dan bersenang-senang dengan teman-teman saya sebelum kembali ke sekolah. Tetapi, pendudukan Israel membuat saya menghabiskan sisa hidup saya dengan satu mata dan rasa sakit yang luar biasa.” Areej mengatakan dengan nada sedih, “liburan musim panas sudah berakhir, dan kembali ke sekolah sudah dekat. Saya tidak tahu apakah saya akan dapat kembali belajar karena rasa sakit yang parah yang saya rasakan setelah cedera.”
Dia bertanya-tanya, “Apa kesalahan anak-anak di Gaza sehingga harus menjadi sasaran Israel?”
Ayoub Asaliya, ayah Areej, berbicara tentang buruknya keadaan psikologis yang dialami putrinya. Ia mengatakan bahwa putrinya belum dapat menerima cedera dan kehilangan matanya. Dia berkata, “Kondisi Areej membuatku takut sebagai seorang ayah, terutama karena dia akan kembali ke kursi sekolah dalam dua minggu ke depan.” Asaliya mengungkapkan kekhawatirannya akan kemungkinan bahwa anaknya akan dirugikan secara fisik atau psikologis karena cedera matanya, termasuk bahwa ia mungkin menjadi sasaran bullying.
Ia mengimbau kepada pihak berwenang untuk dapat memperhatikan kondisi anaknya dengan memfasilitasi pengobatan di luar Gaza, sebelum kondisi kesehatan dan psikologisnya semakin memburuk. Sang ayah mengungkapkan ketidakmampuan untuk memberi perawatan terbaik bagi anaknya karena ia sedang tidak bekerja. Padahal, ia memiliki semangat besar untuk memperbaiki situasi psikologis Areej, yang kini menolak bersosialisasi.
Ia juga mengimbau masyarakat internasional untuk turun tangan mengungkap kejahatan Israel di hadapan Pengadilan Kriminal Internasional karena menargetkan warga sipil dan anak-anak dalam agresi di Jalur Gaza. Agresi itu dimulai pada 5 Agustus dengan serangan udara di sebuah apartemen di Kota Gaza. Akibatnya, 49 warga Palestina tewas dan lebih dari 360 lainnya terluka, sebelum agresi berhenti di bawah mediasi Mesir pada larut malam tanggal 7 Agustus.
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.








