Jumlah insiden terkait pemukim di Wilayah Pendudukan Palestina telah mencapai 591 kasus dalam enam bulan pertama tahun 2023, lapor PBB pada Jumat (4/8).
“Rata-rata terjadi 99 insiden setiap bulan atau meningkat 39 persen dibandingkan dengan rata-rata bulanan sepanjang tahun 2022, yaitu 71.” Jens Laerke, juru bicara Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan pada Konferensi PBB di Jenewa. Insiden tersebut telah mengakibatkan korban di antara warga Palestina dan kerusakan properti.
Dia menyoroti bahwa komunitas Palestina yang bergantung pada penggembalaan, menjadi sangat rentan. Ia mengatakan bahwa, dalam dua tahun terakhir, setidaknya 399 orang terpaksa mengungsi karena kekerasan pemukim yang menargetkan tujuh komunitas yang terlibat dalam penggembalaan saat melintasi Wilayah Pendudukan Palestina.
Tiga dari komunitas ini – Al Baqa’a, Khirbet Bir al’Idd, dan Wedadiye – telah benar-benar dikosongkan karena kekerasan. Sementara itu, komunitas lainnya hanya memiliki beberapa keluarga yang tersisa, tambahnya.
Banyak komunitas di seluruh Tepi Barat berada di bawah ancaman pengusiran paksa sebagai akibat dari lingkungan pemaksaan yang diciptakan oleh penghancuran, aktivitas permukiman, dan praktik berbahaya lainnya.
“Permukiman Israel ilegal menurut hukum internasional,” katanya. “Mereka memperdalam kebutuhan kemanusiaan karena dampaknya terhadap mata pencaharian, ketahanan pangan, dan akses ke layanan penting.”
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








