Mohammad al-Tamimi kecil pasti sangat senang hari itu. Senja pada tanggal 2 Juni 2023 perlahan-lahan memasuki malam ketika balita berusia dua setengah tahun, dengan rambut coklat muda tersebut, masuk ke mobil ayahnya yang diparkir di luar rumah mereka di Desa Nabi Saleh, sebuah desa di barat laut Ramallah di Tepi Barat.
Haitham al-Tamimi, sang ayah, beserta Mohammad hendak pergi ke pesta ulang tahun seorang keponakan. Camilan manis, kumpul keluarga, dan kebahagiaan sudah terbayang di benak mereka. Akan tetapi, beberapa saat kemudian, mobil itu diserbu peluru yang ditembakkan oleh tentara Israel di pos pemeriksaan. Ibu Mohammad, Marwa, bergegas keluar rumah. “Suami saya mencoba mengemudikan mobil untuk menjauh dari arah tembakan,” katanya. Dengan kondisi panik, Haitham yang terluka berteriak memanggil putranya yang ditembak di bagian kepala: “Hamoudi, Hamoudi.” Mohammad segera dibawa ke rumah sakit Tel Aviv, namun empat hari kemudian dia meninggal. “Saya yakin dia dibunuh. Jelas karena saya lihat kepalanya berdarah,” kenang Marwa.
Pada awalnya, bisa ditebak, pejabat Israel menyalahkan Palestina atas peristiwa tersebut. Kemudian, alibi mereka bergeser menjadi “tidak jelas” siapa yang bertanggung jawab. Sebuah “penyelidikan” kemudian dibuka dan akhirnya dikeluarkan sebuah pengakuan: seorang tentara Israel telah menembak ayah dan anak itu, mengatakan bahwa pembunuhan Mohammad al-Tamimi adalah sebuah “kesalahan”, kata seorang pejabat Israel.
“Kesalahan” itu sebagaimana daftar “kesalahan” mematikan lain yang berulang kali dilakukan tentara Israel, hanya akan berhenti dalam daftar. Pria bersenjata yang menembakkan peluru ke tengkorak Mohammad al-Tamimi tidak akan dihukum karena membunuh seorang anak.
Dua puluh tujuh anak Palestina di Gaza dan Tepi Barat telah dibunuh oleh pasukan Israel tahun ini. Mohammad al-Tamimi adalah yang termuda. Pada tahun 2022, 42 anak Palestina tewas dan 933 terluka oleh militer Israel. Pada 2021, pasukan Israel membunuh 78 anak Palestina dan melukai 982 lainnya. Di antara anak-anak yang masih hidup, empat dari lima anak Palestina di Jalur Gaza menderita depresi kronis, kecemasan dan ketakutan yang disebabkan oleh blokade Israel selama 16 tahun di wilayah itu. Dengan ukuran manusiawi apa pun, angka-angka itu adalah cerminan memalukan dari catatan panjang Israel tentang pembunuhan dan penindasan anak-anak Palestina, baik secara fisik maupun psikis.
Meskipun akurat, “memalukan” bukanlah kata yang digunakan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres untuk menggambarkan kengerian atas apa yang terjadi pada Mohammad al-Tamimi dan anak-anak Palestina lainnya yang telah disiksa dan dibunuh oleh tentara Israel dari tahun ke tahun. Kemunafikan itu menjadi jelas minggu lalu ketika Guterres memilih untuk tidak memasukkan Israel dalam daftar hitam “pihak dalam konflik bersenjata yang melakukan pelanggaran berat terhadap anak”.
Pada saat yang sama, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres justru menambahkan pasukan militer Rusia ke dalam “daftar hitam” tahunannya terhadap pihak-pihak dalam konflik bersenjata yang melakukan pelanggaran berat terhadap anak-anak, tapi di sisi lain menghilangkan Israel yang harusnya masuk dalam daftar.
“Baginya, anak-anak Palestina tidak berarti apa-apa dibandingkan yang lain,” kata Jo Becker, Direktur Advokasi Human Rights Watch, Divisi Hak Anak, mengomentari sikap Guterres.
“Penghapusan Israel dari daftar hitam sangat merugikan anak-anak Palestina. Laporan Sekjen PBB menemukan bahwa Israel bertanggung jawab atas 975 korban anak dan 110 serangan di sekolah dan rumah sakit pada 2022. PBB juga telah menghubungkan lebih dari 6.700 korban anak Palestina sepanjang 2015–2020. Namun, Sekjen tidak pernah memasukkan Israel dalam daftarnya, dia memasukkan pasukan atau kelompok lain yang bertanggung jawab atas pelanggaran yang jauh lebih sedikit,” terang Becker.
Becker menegaskan bahwa keengganan Guterres dalam meminta pertanggungjawaban Israel dapat mendorong Israel untuk terus menggunakan kekuatan mematikan terhadap anak Palestina.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








