Kepala Hak Asasi Manusia PBB Michelle Bachelet pada Kamis (11/8) menyatakan kekhawatirannya atas tingginya jumlah warga Palestina, termasuk anak-anak, yang tewas dan terluka oleh pasukan Israel di wilayah Palestina pada tahun ini, termasuk Gaza, yang mengalami agresi Israel pada akhir pekan lalu.
Dalam seminggu terakhir, 19 anak Palestina telah dibunuh oleh pasukan Israel di wilayah Palestina, menjadikan korban tewas sejak awal tahun 2022 menjadi 37, dengan 17 di antaranya tewas selama agresi 5–7 Agustus di Gaza, sementara dua lainnya tewas pada 9 Agustus dalam serangan Israel di Tepi Barat. “Menyakiti anak mana pun selama konflik adalah perbuatan mengerikan, dan pembunuhan serta serangan yang melukai banyak anak (Yang dilakukan Israel) pada tahun ini tidak masuk akal,” kata Bachelet.
Kantor Hak Asasi Manusia PBB mengatakan telah memverifikasi bahwa di antara 48 warga Palestina yang tewas, setidaknya ada 22 warga sipil, termasuk 17 anak-anak dan empat perempuan. Status 22 korban jiwa masih belum ditentukan. Dari 360 warga Palestina yang terluka, hampir dua pertiganya adalah warga sipil, termasuk 151 anak-anak, 58 perempuan, dan 19 orang tua. Dalam sejumlah insiden, anak-anak menjadi korban terbanyak.
“Hukum humaniter internasional telah mengatur jelas. Meluncurkan serangan yang dapat membunuh atau melukai warga sipil secara tidak sengaja, atau merusak objek sipil, dengan cara yang tidak proporsional dengan keuntungan militer, adalah terlarang. Serangan semacam itu harus dihentikan,” kata Bachelet.
Sementara gencatan senjata untuk eskalasi terbaru di Gaza berlangsung, ketegangan tetap sangat tinggi di Tepi Barat. Sebanyak empat warga Palestina tewas dan 90 lainnya terluka oleh peluru tajam pasukan Israel pada 9 Agustus. Di antara mereka yang tewas adalah seorang anak laki-laki berusia 16 tahun, yang ditembak oleh tentara Israel selama serangan penangkapan di Nablus yang juga menyebabkan 76 orang terluka. Seorang anak laki-laki berusia 16 tahun lainnya ditembak mati oleh tentara Israel setelah beberapa warga Palestina melemparkan batu dan kembang api ke arah mereka di sebuah pos pemeriksaan di Hebron.
Bachelet mengatakan meluasnya penggunaan peluru tajam oleh pasukan Israel di Tepi Barat, termasuk Yerusalem (Al-Quds) Timur pada 2022, telah menyebabkan peningkatan yang mengkhawatirkan dalam kematian warga Palestina. Kantor Hak Asasi Manusia PBB di wilayah Palestina tahun ini telah mendokumentasikan pembunuhan 74 warga Palestina, termasuk 20 anak-anak. “Dalam banyak insiden, pasukan pendudukan menggunakan kekuatan mematikan dengan cara yang melanggar hukum hak asasi manusia internasional,” tambahnya.
Komisaris Tinggi menyerukan penyelidikan yang cepat, independen, tidak memihak, menyeluruh dan transparan atas semua insiden orang terbunuh atau terluka. “Iklim impunitas ini, bersama dengan pelanggaran yang sudah berlangsung lama, mendorong siklus kekerasan dan terulangnya pelanggaran,” kata pejabat PBB itu. “Situasi di Palestina sangat rapuh, dan peristiwa seperti di Nablus berisiko memicu permusuhan lebih lanjut di Gaza. Pengekangan sepenuhnya perlu untuk mencegah pertumpahan darah lebih lanjut, termasuk dengan memastikan bahwa senjata api digunakan secara ketat sesuai dengan standar internasional,” Komisaris Tinggi mengatakan.
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.








