Otoritas Israel telah menghancurkan, menyita, atau memaksa penduduk Palestina untuk menghancurkan 50 bangunan di Al-Quds (Yerusalem) Timur dan Area C Tepi Barat, dengan alasan tidak adanya izin bangunan dari Israel. Israel menggusur 55 orang, termasuk 28 anak-anak, dan mengganggu mata pencaharian sekitar 220 orang lainnya.
Laporan dua mingguan Perlindungan Warga Sipil yang mencakup 2 periode dan laporan pada 15 Agustus dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) di wilayah Palestina, mengatakan bahwa 12 dari bangunan yang dihancurkan merupakan bantuan kemanusiaan. Laporan tersebut menjelaskan bahwa 42 bangunan berada di Area C, termasuk 13 yang dihancurkan di dua komunitas Badui (Abu Shusheh dan al-Zaayyem) di Area C, Provinsi Al-Quds (Yerusalem). Salah satunya terletak di area yang direncanakan untuk perluasan besar permukiman Ma’ale Adumim (Rencana ‘E1’) dan berisiko dipindahkan secara paksa karena rencana ‘relokasi’ yang diajukan oleh Otoritas Israel.
Delapan bangunan lainnya dihancurkan di Yerusalem Timur, termasuk tiga bangunan yang dihancurkan oleh pemiliknya untuk menghindari pembayaran denda. Selain itu, pada 8 Agustus, pasukan Israel menyerbu Desa Rummana, di Area B, Distrik Jenin, dan menghancurkan dua rumah bertingkat.
Sejak awal 2022, 10 rumah telah dihancurkan dengan alasan hukuman kolektif. Hal ini ilegal menurut hukum internasional karena menargetkan keluarga pelaku atau tersangka pelaku, kata OCHA. Dua sekolah yang didanai donor juga berisiko dibongkar di Hebron selatan dan Ramallah.
Pada 3 Agustus, pemerintah sipil Israel mengeluarkan perintah pembongkaran terakhir terhadap dua bangunan yang merupakan bagian dari sebuah sekolah di Mantiqat Shi’b al Butum, selatan Hebron. Sekolah ini dibangun pada 2015 melalui proyek yang didanai donor dan melayani anak-anak dari banyak komunitas. Dalam insiden lain pada 10 Agustus, pengadilan Israel memerintahkan penghancuran segera sebuah sekolah yang didanai donor di komunitas penggembalaan Ein Samiya, timur laut Ramallah, yang mempengaruhi sekitar 17 siswa. Sekolah tersebut kini terancam digusur. Pembongkaran sekolah membahayakan hak siswa atas pendidikan, kata OCHA.
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







