Warga Palestina yang kembali ke Jalur Gaza pada Senin (02/02) mengatakan bahwa pasukan Israel telah menyiksa mereka di pos pemeriksaan di Rafah. Pasukan Israel melakukan interogasi dan “penyiksaan” psikologis, berdasarkan pernyataan mereka.
Israel Mencegah Warga Gaza Kembali Melalui Perbatasan Rafah
Rotana al-Raqab adalah seorang perempuan Palestina yang berhasil menemui keluarganya di Gaza selatan pada Selasa (03/02) dini hari. Ia mengatakan bahwa kelompok bersenjata yang mendapat dukungan Israel menangkapnya bersama 11 orang lainnya setelah meninggalkan perbatasan Rafah.
Menurut televisi Al Arabi, para milisi membawa mereka ke pos pemeriksaan militer Israel yang terletak sekitar setengah kilometer di dalam Rafah. Raqab mengatakan kepada media lokal bahwa dia, ibunya, dan seorang perempuan lainnya terpisah dari kelompok mereka.
Pihak Israel menahan mereka selama berjam-jam dalam kondisi diborgol dan mata ditutup, sejak matahari terbenam hingga sekitar pukul 11 malam. Selama itu pula pasukan Israel menginterogasi mereka.
Para tentara menanyai mereka tentang hal-hal yang menurutnya “tidak dia ketahui dan tidak ada hubungannya sama sekali”. Seorang tentara bahkan mengancam akan menculik anak-anaknya yang sudah berada di Gaza, dan menahannya. Tentara lain mendesaknya untuk membawa anak-anaknya dan meninggalkan Jalur Gaza secara permanen. “Mereka ingin merampas anak-anak kami. Mereka tidak ingin kami kembali ke Gaza,” katanya.
Raqab juga mengatakan bahwa seorang perwira berusaha merekrut para perempuan tersebut untuk menjadi mata-mata bagi tentara Israel. Seorang tentara juga mengancam akan melakukan “hal-hal yang tidak pantas” terhadap perempuan lainnya dalam kelompok tersebut. Dia menggambarkan interogasi itu sebagai “penyiksaan psikologis” yang bertujuan untuk mencegah warga Palestina kembali ke Gaza.
Selain itu, pasukan Israel menyita semua barang miliknya kecuali satu tas berisi pakaian. Makanan, mainan anak-anak, dan pengisi daya telepon tidak ada yang boleh dibawa. “Kami tidak bisa memberikan apa pun kepada anak-anak kami untuk membuat mereka bahagia,” katanya.
Seorang perempuan lanjut usia yang kembali pada hari Senin menggambarkan pengalaman serupa. Dia mengatakan bahwa rombongannya dibawa ke daerah yang berada di bawah kendali militer Israel. Di sana, dia menjalani interogasi selama tiga jam meskipun kondisi kesehatannya sedang tidak baik. “Kami mendapat perlakuan yang buruk,” katanya kepada media lokal.
Sumber: Middle East Eye, Quds News Network








