Militer Israel terus memperluas operasi militernya di Rafah, Gaza selatan, sekaligus memperbesar zona penyangga yang membentang di sepanjang perbatasan. Warga melaporkan suara ledakan terus-menerus akibat penghancuran sistematis wilayah tempat tinggal mereka.
Tentara Israel mengklaim telah menguasai 30% wilayah Gaza—sebuah indikator eskalasi luar biasa dan kehancuran masif. Sementara itu, blokade total masih berlangsung, membuat makanan, air bersih, dan obat-obatan menjadi kemewahan yang tak lagi bisa diakses.
Sebelum agresi, Rafah dihuni sekitar 200.000 orang. Namun kini, hampir seluruh kota hancur. Banyak keluarga, seperti Abdul Rahman Taha, kembali mengungsi ke tenda di Khan Younis setelah rumah mereka rata dengan tanah. “Rafah hampir musnah. Mereka hanya tinggal menyelesaikan penghancuran total,” ujar Taha.
Setelah gencatan senjata sementara berakhir pada awal Maret, Israel menghentikan total pasokan bahan bakar, makanan, dan bantuan kemanusiaan. PBB menyatakan bahwa situasi kemanusiaan di Gaza kini berada pada titik terburuk dalam 18 bulan terakhir.
Israel juga memperkenalkan koridor darat baru, seperti Koridor Morag dan Koridor Netzarim, yang memecah Gaza menjadi bagian-bagian terisolasi. Koridor-koridor ini memperkuat kontrol militer Israel dan secara efektif menghalangi pergerakan penduduk dan bantuan.
Menurut OCHA, hampir 70% wilayah Gaza kini berada di bawah perintah pengungsian atau menjadi zona terlarang. Sekitar 400.000 orang kembali kehilangan tempat tinggal akibat serangan terbaru. Banyak di antaranya diperintahkan mengungsi lebih jauh ke barat, ke wilayah yang tak aman dan kekurangan segalanya.
Di sisi lain, zona penyangga yang diperluas hingga 2,5 km ke dalam wilayah Gaza telah meluluhlantakkan lahan pertanian, kawasan industri, dan permukiman. Organisasi Breaking the Silence menyebut penghancuran ini sebagai taktik asistematis dan disengaja, dengan dalih keamanan. Namun hal ini menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan ketahanan pangan Gaza.
“Gaza bukan lagi Gaza yang dulu,” kata Lamia Bahtiti, yang kini mengungsi di Gaza barat. “Kami hanya bertahan demi anak-anak kami, dengan harapan akan ada masa depan yang lebih baik.”
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








